Oleh: Ridwan Rustandi (Sekretaris Umum PP Pemuda PERSIS/ Ketua Pelaksana Muktamar XIV)
Ketika forum organisasi bukan sekadar ritual lima tahunan, melainkan panggung pertaruhan arah dakwah generasi.
Ada sesuatu yang selalu berulang dalam setiap Muktamar organisasi kepemudaan Islam di negeri ini: ruangan yang penuh semangat, orasi yang menggelegar, dan resolusi yang lahir dengan penuh harapan — lalu sunyi setelahnya.
Muktamar Pemuda PERSIS ke-14 kini berdiri di ambang momen yang sama. Pertanyaannya bukan lagi apakah Muktamar ini akan berlangsung meriah, tapi apakah ia akan meninggalkan bekas yang nyata.
Pemuda PERSIS bukan organisasi sembarangan. Ia lahir dari tradisi intelektual Islam yang ketat, diasuh oleh para pendahulu yang tidak takut berbeda pendapat, dan dibentuk oleh semangat tajdid yang bukan sekadar slogan. Tapi warisan besar itu tidak otomatis diwariskan — Ia harus direbut ulang oleh setiap generasi.
"Muktamar bukan tujuan. Ia hanya rambu jalan. Yang menentukan arah adalah siapa yang memegang kemudi setelahnya."
Inilah yang membuat Muktamar ke-14 terasa seperti persimpangan: bukan hanya soal siapa yang akan terpilih memimpin, tapi soal model kepemimpinan apa yang layak untuk dekade mendatang.
Di satu sisi, ada dorongan untuk mempertahankan cara lama yang terbukti aman. Di sisi lain, ada tekanan dari realitas dakwah masa kini yang tidak mengenal zona nyaman.
Generasi yang Berbeda, Tantangan yang Berbeda
Kader pemuda PERSIS hari ini tumbuh di ekosistem yang sangat berbeda dari generasi pendahulunya. Mereka besar dengan internet, tumbuh di tengah banjir informasi, dan terbiasa mempertanyakan otoritas — termasuk otoritas agama. Ini bukan ancaman, ini adalah bahan bakar.
Jika Muktamar hanya melahirkan dokumen program kerja yang rapi tapi tidak menyentuh pertanyaan mendasar — dakwah untuk siapa, dengan cara apa, dan mengapa model lama perlu direvisi — maka ia hanya akan menjadi seremoni yang melelahkan.
Generasi ini tidak butuh ceramah tentang betapa pentingnya dakwah. Mereka sudah paham itu. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk bereksperimen, sistem yang mendukung gagasan baru, dan pemimpin yang tidak takut salah di hadapan publik. Muktamar bisa menjadi titik awal — atau justru hambatan — bagi semua itu.
Tiga Pilar yang Tidak Boleh Absen
Jika Muktamar ke-14 ingin menjadi titik awal kebangkitan kader kepemimpinan, ada tiga hal yang tidak boleh hanya menjadi poin dalam draf resolusi. Pertama, Regenerasi yang Terencana. Bukan sekadar estafet jabatan, tapi ekosistem kaderisasi yang mempersiapkan pemimpin sebelum mereka dibutuhkan.
Kedua, Dakwah Kontekstual. Format dakwah yang merespons realitas: urban, digital, lintas kelas sosial — bukan hanya masjid dan pengajian rutin. Ketiga, Akuntabilitas Terbuka. Kepemimpinan yang transparan dan berani dievaluasi publik — bukan hanya dipertanggungjawabkan ke dalam.
Ketiga pilar itu terdengar klise — dan memang begitulah nasib gagasan baik yang terlalu sering diucapkan tapi jarang dioperasionalkan. Bedanya ada di detail eksekusi: apakah Muktamar berani merancang mekanisme konkret, bukan hanya menyebut nama-nama nilai?
Format Dakwah yang Perlu Dirancang Ulang
Dunia dakwah kepemudaan sedang mengalami krisis relevansi. Bukan krisis iman, bukan krisis semangat — tapi krisis format. Anak muda yang haus akan makna tetap ada, bahkan makin banyak. Tapi mereka tidak selalu datang ke tempat yang dulu menjadi pusat dakwah kita.
Mereka ada di ruang diskusi online yang ramai tengah malam, di komunitas literasi yang bertanya keras tentang keadilan, di sela-sela rutinitas kerja yang melelahkan. Dakwah yang masih menunggu mereka datang ke masjid pada pukul tujuh malam dengan format yang tidak berubah sejak dua dekade lalu — adalah dakwah yang sedang kehilangan audiensnya.
"Tajdid bukan hanya soal memurnikan akidah. Ia juga tentang memperbarui cara kita menyampaikan kebenaran kepada mereka yang sedang mencarinya."
Muktamar ke-14 punya kesempatan untuk tidak hanya mengesahkan program kerja, tapi merancang ekosistem dakwah baru. Kolaborasi antar bidang yang lebih cair, ruang eksperimen yang diberi legitimasi organisasi, dan sistem dukungan untuk kader yang berdakwah di jalur-jalur tidak konvensional.
Kepemimpinan yang Mau Belajar di Depan Umum
Salah satu hambatan terbesar dalam regenerasi kepemimpinan organisasi Islam adalah kultur yang menganggap pemimpin harus selalu punya jawaban. Ini warisan budaya yang perlu digeser — bukan dibuang, tapi diseimbangkan.
Pemimpin masa depan Pemuda PERSIS tidak harus menjadi yang paling alim di ruangan. Tapi ia harus menjadi yang paling jujur tentang apa yang tidak ia ketahui, paling cepat belajar dari kesalahan, dan paling berani mengakui bahwa zaman telah berubah dan kita perlu berubah bersamanya — tanpa kehilangan prinsip.
Itulah profil pemimpin yang seharusnya lahir dari Muktamar ini. Bukan figur yang muncul karena senioritas atau jaringan, tapi karena kapasitas dan visi yang telah terbukti — meski dalam skala kecil sekalipun.
Muktamar sebagai Kontrak Sosial
Pada akhirnya, Muktamar adalah kontrak. Bukan hanya antara peserta dan pimpinan yang terpilih — tapi antara organisasi dan konstituen yang menggantungkan harapannya. Kontrak itu tidak selesai ketika delegasi kembali ke daerahnya masing-masing.
Muktamar ke-14 akan dinilai bukan dari kemeriahan pembukaannya, bukan dari ketebalan dokumen yang dihasilkan, dan bukan dari siapa yang berfoto di panggung utama. Ia akan dinilai dari apa yang berubah nyata setahun, dua tahun, lima tahun setelahnya — di level ranting, di komunitas lokal, di kehidupan kader yang sehari-hari bergumul di lapangan.
"Jika bukan di persimpangan ini kita memilih arah yang berbeda, lantas kapan? Dan jika bukan kader muda PERSIS hari ini yang memulainya, lantas siapa?"
Mari berMuktamar dengan riang gembira, menyatukan asa dan harapan, memeras pikiran, perasaan dan pengalaman, mewujud menjadi kader peradaban yang menjaga khittah dan menjadi uswah menyemai kebaikan.
[]
BACA JUGA:Sosialisasi Grand Design Muktamar Menguat dalam Rangkaian Turba Pemuda PERSIS