Boyolali, persis.or.id - Pada 1979, terdapat peristiwa pemurtadan massal di lereng Gunung Merbabu. Hal ini kembali mengemuka melalui kesaksian Pak Dar, salah satu takmir Masjid Dusun Kenalan yang berada di daerah tersebut.
Ia menjadi saksi hidup dalam peristiwa menyedihkan, ketika hampir seluruh warga dusunnya berpindah keyakinan, menyisakan hanya satu keluarga Muslim saja.
Kisah itu disampaikan Pak Dar kepada Widi Astuti, anggota Persatuan Islam Istri Jawa Tengah (PERSISTRI Jateng), di sela kegiatan kerja bakti pengecoran kubah Masjid Dusun Kenalan belum lama ini.
Pak Dar mengatakan, dirinya saat itu masih berumur delapan tahun. Ia mengaku bahwa dirinya melihat langsung prosesi baptis massal.
“Seluruh warga kampung dibawa ke sungai di belakang desa kami dan masuk ke sungai secara serentak. Hanya keluarga saya yang tetap memeluk Islam. Tahun itu 1979,” kenang Pak Dar.
Ia mengaku menyaksikan prosesi tersebut secara sembunyi-sembunyi karena masih anak-anak. “Namanya anak-anak penasaran. Saya mengintip dari jauh, tapi tidak ikut masuk ke sungai,” ujarnya.
Menurut penuturan Pak Dar, peristiwa tersebut bermula dari sakit keras yang dialami istri kepala dusun saat itu. Berbagai upaya pengobatan dilakukan, namun tak membuahkan hasil.
“Suatu hari datang seorang pendeta dari Salatiga yang berjanji bisa menyembuhkan dengan syarat, jika sembuh maka keluarga Bu Lurah dan seluruh warga dusun harus masuk Kristen,” kisahnya.
Kesepakatan itu akhirnya diterima. Setelah Bu Lurah dinyatakan sembuh, janji tersebut ditagih. Sebagai tokoh paling berpengaruh dan terpandang di dusun, ajakan Bu Lurah diikuti hampir seluruh warga.
Warga kemudian dikumpulkan dalam pertemuan desa. Pendeta dan misionaris menyampaikan pokok-pokok ajaran Kristen.
Beberapa waktu setelahnya, seluruh warga diajak ke sungai untuk mengikuti prosesi baptis massal. Dan Keluarga Pak Dar menjadi satu-satunya yang menolak ikut dalam prosesi tersebut.
Seiring berjalannya waktu, keluarga Pak Dar tetap bertahan dalam keyakinan Islam. Dari yang semula hanya satu kepala keluarga, kini jumlah warga Muslim di Dusun Kenalan perlahan bertambah.
“Sekarang tercatat sekitar 15 kepala keluarga Muslim dari total 160 KK. Masih minoritas, tapi jauh lebih baik dibandingkan dulu,” kata Pak Dar.
Ia mengaku sempat berharap warga akan kembali ke Islam setelah kepala dusun dan istrinya wafat. Namun, harapan itu tak terwujud.
Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh intensitas kegiatan para misionaris yang masih terus berlanjut di wilayah tersebut.
Selain kisah pemurtadan massal, Pak Dar juga mengalami peristiwa nahas ketika masjid di dusun itu tersambar petir.
Saat kejadian, Ia tengah bersiap mengumandangkan azan Magrib. “Kubah masjid tersambar petir sampai ke lantai. Alhamdulillah saya selamat,” tuturnya.
Widi Astuti menilai, kesaksian Pak Dar menjadi pengingat penting bahwa pemurtadan massal pernah terjadi dan nyata.
Kisah ini, menurutnya, menjadi alasan kuat bagi berbagai pihak untuk terus peduli terhadap penguatan umat Islam di daerah minoritas.
“Itulah sebabnya kami berupaya mendukung renovasi Masjid Dusun Kenalan. Agar masjid ini bisa menjadi penjaga keimanan dan pusat penguatan umat di wilayah minoritas Muslim,” ujar Widi.
[]
BACA JUGA:Grand Launching KB-TK-TPA PERSIS CENDEKIA: Kolaborasi Du'at PP PERSIS dan PW PERSISTRI Jateng