Terdapat pula jalur lain dimana Hunaidah menerima dari Hafshah binti Umar
«مسند أحمد» (44/ 59 ط الرسالة):
26459حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الْأَشْجَعِيُّ الْكُوفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمُلَائِيُّ، عَنِ الْحُرِّ بْنِ الصَّيَّاحِ، عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ الْخُزَاعِيِّ، عَنْ حَفْصَةَ، قَالَتْ: أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَالرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ»
Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim; telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq al-Asyja‘i al-Kufi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Qais al-Mula’i, dari al-Hurr bin ash-Shayyah, dari Hunaidah bin Khalid al-Khuza‘i, dari Hafshah, ia berkata:
“Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi ﷺ: puasa ‘Asyura, puasa sepuluh hari Dzulhijjah, puasa tiga hari dari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (Musnad Ahmad, jilid 44 halaman 59, cetakan ar-Risalah: No. 26459)
Catatan
Lafazالعشر secara bahasa berarti sepuluh hari, tetapi dalam konteks puasa Dzulhijjah maksudnya adalah sembilan hari pertama Dzulhijjah, karena tanggal 10 Dzulhijjah adalah Idul Adha dan haram berpuasa pada hari itu.
Diriwayatkan pula darinya, dari Ummul Mukminin tanpa perantara, tetapi ia tidak menyebutkan namanya.
«سنن النسائي (4/ 361):
2415أخبرنا عليُّ بن محمد بن عليٍّ قال: حدَّثنا خلف بن تميم، عن زهير، عن الحُرِّ بن الصَّيَّاح قال: سمعتُ هُنَيْدَةَ الخُزاعيَّ قال:دخلتُ على أمِّ المؤمنين، سمعتُها تقول: كان رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يصومُ من كلِّ شهرٍ ثلاثةَ أَيَّام؛ أوَّل اثنين من الشَّهر، ثُمَّ الخميسَ، ثُمَّ الخميسَ الَّذي يَلِيه»
Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Tamim, dari Zuhair, dari al-Hurr bin ash-Shayyah, ia berkata: Aku mendengar Hunaidah al-Khuza‘i berkata: “Aku masuk menemui Ummul Mukminin, lalu aku mendengarnya berkata: ‘Rasulullah ﷺ biasa berpuasa tiga hari dari setiap bulan: hari Senin pertama dari bulan itu, kemudian hari Kamis, kemudian hari Kamis berikutnya.’” (Sunan an-Nasa’i, jilid 4 halaman 361: No. 2415 )
Catatan
Riwayat ini juga tidak menyebutkan puasa sembilan hari Dzulhijjah, tetapi hanya menyebutkan puasa tiga hari setiap bulan. Lafaz ini menjadi salah satu bukti adanya perbedaan redaksi dalam riwayat-riwayat dari jalur Hunaidah al-Khuza‘i.
Keidhtiraban ini semakin nampak dikala al-Hurr bin ash-Shayyah meriwayatkan dari Ibnu Umar. Dua jalur terakhir ini tidak menyebutkan kecuali kisah tentang puasa saja.
«مسند أحمد» (9/ 460 ط الرسالة):
«5643حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنِ الْحُرِّ بْنِ الصَّيَّاحِ، سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، الْخَمِيسَ مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَالِاثْنَيْنِ الَّذِي يَلِيهِ، وَالِاثْنَيْنِ الَّذِي يَلِيهِ
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj; telah menceritakan kepada kami Syarik, dari al-Hurr bin ash-Shayyah — ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata:
“Nabi ﷺ biasa berpuasa tiga hari dari setiap bulan: hari Kamis pada awal bulan, kemudian hari Senin setelahnya, kemudian hari Senin setelahnya lagi.” Musnad Ahmad, jilid 9 halaman 460, cetakan ar-Risalah: No. 5643
Catatan
Riwayat ini juga hanya menyebutkan puasa tiga hari setiap bulan, tidak menyebutkan puasa sembilan hari Dzulhijjah. Jalurnya melalui Syarik, sedangkan Syarik dikenal buruk hafalannya atau banyak kekeliruan dalam riwayat.
Karena adanya keIdhtiraban (kegoncangan) riwayat inilah, Imam az-Zaila‘i juga melemahkannya dalam kitab Nashb ar-Rayah, jilid 2 halaman 157.
Hadis ini juga dikeluarkan oleh: Abu Dawud, no. 2437, an-Nasa’i, jilid 4 halaman 205, 220, dan 221, al-Baihaqi, jilid 4 halaman 284–285. Semuanya melalui beberapa jalur dari Abu ‘Awanah dengan sanad ini. Lafaz an-Nasa’i adalah: “Sembilan hari dari Dzulhijjah.”
Kemudian disebutkan pula: Dari jalur an-Nakha‘i, dari al-Hurr bin ash-Shayyah, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ. Namun Syarik buruk hafalannya.
Imam Muslim meriwayatkan hadis no. 1176 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
ما رأيتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم صائماً في العَشْر قطُّ.
“Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa pada sepuluh hari Dzulhijjah.”
Hadis ini bertentangan dengan apa yang terdapat dalam hadis Hunaidah bin Khalid.
Adapun riwayat yang terdapat pada Ibnu Majah no. 1728 dan at-Tirmidzi no. 758 dari hadis Abu Hurairah, yaitu:
وإن صيام يومٍ فيها ليعدل صيام سنةٍ
“Sesungguhnya puasa satu hari di dalamnya sebanding dengan puasa satu tahun…”
Maka hadis itu lemah, karena kelemahan Mas‘ud bin Washil dan gurunya, an-Nahhas bin Qahm.
Demikianlah tulisan sederhana ini semoga bermanfaat.
Robi Permana
TIM Kesekretariatan Dewan Hisbah
Bagan Sanad
BACA JUGA:PP PERSIS Siapkan Generasi Penjaga Sanad di Konferensi Hadis Nasional