Oleh: Ghina Ainal Mardliyah (Ketua Umum HIMI PERSIS)
Tiga puluh tahun perjalanan Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam (Himi PERSIS) bukan sekadar penanda usia, melainkan cerminan dari proses panjang pembinaan, penguatan nilai, serta kontribusi yang terus diupayakan dari generasi ke generasi.
Dalam rentang waktu tersebut, Himi PERSIS telah menegaskan dirinya sebagai ruang kaderisasi yang tidak hanya membentuk kapasitas intelektual kader, tetapi juga menanamkan kesadaran keumatan dan tanggung jawab sosial kepada kader.
Melalui tema “Muslimah Berdaya untuk Indonesia Maju” pada momentum tiga dekade ini menjadi refleksi sekaligus proyeksi arah gerakan.
Ini tidak hanya berbicara tentang pemberdayaan dalam makna individual, tetapi tentang bagaimana perempuan khususnya mahasiswi didorong untuk memiliki kapasitas, kesadaran, dan keberanian dalam mengambil peran di tengah dinamika masyarakat.
Dalam konteks Himi PERSIS, berdaya bukan sekadar memiliki kemampuan, tetapi juga memiliki landasan nilai yang kuat. Sebagai organisasi yang berasaskan Islam dan berfungsi sebagai organisasi kader, Himi PERSIS menempatkan pembinaan sebagai inti gerakan.
Maka dari proses inilah diharapkan lahir muslimah-muslimah muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan peka terhadap realitas sosial.
Melalui visi-nya, Himi PERSIS terus berikhtiar membangun Peradaban melalui ruang aktivisme. Hal ini menegaskan bahwa setiap gerak, pemikiran, dan kontribusi yang dihadirkan tidak dapat bersifat sesaat atau reaktif semata, melainkan harus memiliki orientasi jangka panjang.
Dalam kerangka tersebut, Himi PERSIS dituntut untuk mampu melahirkan gagasan dan peran yang tidak hanya menjawab persoalan kekinian, tetapi juga memberi arah bagi perjalanan umat dan bangsa ke depan.
Indonesia hari ini dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perkembangan teknologi yang cepat, pergeseran nilai di ruang sosial, hingga kompleksitas persoalan keumatan. Dalam situasi seperti ini, kehadiran muslimah berdaya menjadi semakin penting.
Perempuan tidak lagi dapat diposisikan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai subjek yang memiliki peran strategis dalam menjaga nilai, membangun kesadaran, dan mengarahkan generasi.
Di sinilah Himi PERSIS memiliki peran yang signifikan. Melalui arah gerakan yang mencakup bidang intelektual, keagamaan, sosial, dan keperempuanan, Himi PERSIS berupaya menghadirkan kader-kader perempuan yang mampu merespon tantangan zaman dengan perspektif keislaman yang utuh. Perempuan yang tidak hanya memahami realitas, tetapi juga mampu memberi solusi dan arah.
Namun demikian, berbicara tentang “Indonesia Maju” tidak cukup hanya dengan semangat. Harus memerlukan kesiapan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan memiliki integritas.
Dalam hal ini, muslimah berdaya yang diharapkan Himi PERSIS bukan hanya yang aktif secara sosial, tetapi juga memiliki kapasitas sebagai mujahid, mujtahid, dan mujaddid yaitu muslimah yang bersungguh-sungguh dalam komitmen, tekun dalam meningkatkan kapasitas, serta mampu menghadirkan pembaruan dalam dakwah dan kehidupan masyarakat.
Tiga puluh tahun ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arah tersebut. Bahwa pemberdayaan yang diusung bukan sekadar slogan, tetapi harus terwujud dalam proses pembinaan yang berkelanjutan, penguatan kapasitas kader, serta kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Ke depan, Himi PERSIS dituntut untuk semakin adaptif tanpa kehilangan jati diri. Ruang digital, perubahan sosial, serta dinamika global menuntut organisasi untuk mampu bergerak lebih cepat dan strategis. Dan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar gerakan harus tetap menjadi pijakan utama.
Pada akhirnya, “Muslimah Berdaya untuk Indonesia Maju” bukan hanya tentang apa yang ingin dicapai, tetapi tentang bagaimana proses itu dijalankan. Tentang bagaimana Himi PERSIS terus menjadi ruang yang melahirkan perempuan-perempuan yang siap mengambil peran, menjaga nilai, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Tiga puluh tahun ini adalah pengingat bahwa perjalanan masih panjang. Apa yang telah dibangun perlu dijaga, dan apa yang belum tercapai perlu terus diperjuangkan.
Karena dari muslimah yang berdaya, akan lahir arah yang kuat, dan dari arah yang kuat, masa depan yang lebih baik dapat diwujudkan.
[]
BACA JUGA:Perkuat Peran Perempuan Muda, PP HIMI PERSIS Tekankan 4 Poin Penting Saat Audiensi dengan Kementerian Keuangan RI