Jakarta, persis.or.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Ustaz Dr. KH. Jeje Zaenudin, menghadiri silaturahmi Presiden bersama para kiai, ulama, dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Pertemuan yang dirangkai dengan buka puasa bersama tersebut menjadi forum diskusi mengenai berbagai dinamika geopolitik global, khususnya perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Kiai Jeje menyampaikan, dalam pertemuan tersebut Presiden menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk tetap mengedepankan jalur diplomasi dalam merespons konflik internasional, termasuk eskalasi ketegangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Menurutnya, Presiden menekankan bahwa meskipun situasi global saat ini sangat kritis, upaya diplomasi dan negosiasi harus terus ditempuh.
“Presiden menyampaikan, dalam perjuangan menuju perdamaian, sekecil apa pun peluang yang ada harus tetap dicoba. Bahkan jika peluangnya hanya satu atau sepuluh persen, itu tetap harus diupayakan,” ujar Kiai Jeje.
Ia menjelaskan, Indonesia dinilai memiliki kepercayaan dari sejumlah negara Muslim untuk ikut berperan dalam mengkomunikasikan gagasan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Negara-negara seperti Turki, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Pakistan disebut berharap Indonesia dapat berkontribusi dalam diplomasi tersebut.
Meski demikian, Presiden juga menyadari bahwa posisi Indonesia dalam geopolitik Timur Tengah tidak sepenuhnya kuat sebagai mediator langsung. Namun, kepercayaan dari berbagai negara tetap menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjembatani komunikasi antar pihak yang berkonflik.
Dalam pertemuan itu juga dibahas berbagai kemungkinan dampak konflik geopolitik global terhadap kondisi dalam negeri, termasuk potensi pengaruhnya terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi nasional.
Kiai Jeje menyebut, Presiden menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional melalui berbagai langkah strategis, di antaranya memperkuat persatuan antara ulama dan umara, meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta memperketat pemberantasan korupsi.
Selain itu, pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan, untuk ikut menjaga stabilitas nasional di tengah situasi global yang dinamis.
“Presiden mengingatkan, dalam menghadapi situasi dunia yang sangat rawan dan cepat berubah, Indonesia harus bersikap hati-hati dan tidak bertindak hanya berdasarkan emosi atau semangat semata,” kata Kiai Jeje.
Ia menambahkan, pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan kerap diawali oleh perpecahan internal, kerusakan ekonomi, hingga intervensi kekuatan asing yang pada akhirnya menghancurkan stabilitas negara.
Oleh karena itu, Presiden menekankan pentingnya langkah strategis dan kehati-hatian dalam menjaga keamanan serta stabilitas nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Kiai Jeje menegaskan bahwa, Presiden menyampaikan, apabila ke depan tidak lagi terlihat kemaslahatan bagi Palestina, tidak ada peluang untuk memperjuangkan kepentingan Palestina, serta tidak sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia, maka Indonesia akan menarik diri. Demikian pernyataan yang disampaikan Presiden. []
BACA JUGA:Angkat Isu Global dan Palestina, Ketum PERSIS Apresiasi Ketegasan Presiden Indonesia di Forum PBB