Pamungkas, Pulang
Sembilan aktivis dan wartawan asal Indonesia itu bagian dari misi armada kemanusiaan international, Global Sumud Flotilla .Ini adalah koalisi besar yang terdiri dari banyak kapal yang berlayar bersama dengan tujuan yang sama : Gaza. Kata flotilla sendiri memang berarti armada kapal kecil. sumud berasal dari bahasa Arab yang berarti keteguhan, ketabahan, atau daya tahan rakyat Palestina.
Jumlah kapal sipil yang ikut dalam misi Global Sumud Flotilla mencapai puluhan buah, dengan aktivis mencapai ratusan orang dari seluruh dunia. Mereka terdiri dari wartawan, dokter, tenaga medis, relawan kemanusiaan, pelaut sipil,akademisi, tokoh agama, dan anggota parlemen dari berbagai negar, dan lain-lain,
Beragam dan banyak sekali. Memang, ada sesuatu yang mengguncang setelah melihat jumlah kapal sipildan aktivis kemanuisan yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini..
Bayangkan, ratusan manusia sipil dari berbagai bangsa berlayar bersama di Laut Mediterania, bukan untuk perang, melainkan untuk membawa solidaritas kemanusiaan ke Gaza. Mereka datang dengan kamera, obat-obatan, makanan, dan keyakinan bahwa penderitaan rakyat sipil tidak boleh dilupakan dunia.
Ada sembilan orang dari Indonesia yang bergabung dalam misi internasional kemanusian itu. Mereka berada di kapal sipil yang berbeda, terdiri dari empat orang wartawan : Bambang Noroyono, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo. Dari aktivis sebanyak lima orang, terdiri dari Andi Angga Prasadewa, Asad Aras Mahmud, Herman Budianto Sudarsono, ermanHHhhhhHendro Prasetyo, dan Ronggo Wirsanu.
Kini, mereka sudah dipersiapkan pulang ke tanah air setelah pemulihan kesehatan dan penyelesaian adminisrasi di Turki. Kementeian Luar Negeri RI akan mengawal pemulangan mereka.
Satu hal : mereka tak akan pernah kapok : jadi aktivis atau wartawan. Sebuah pelajaran berharga, pengalaman yang berarti : bahwa berjuang tak harus selalu mengangkat senjata.
Para aktivis dan wartawan kini jauh dari Gaza. Namun, tangis bayi yang membutuhkan minuman susu masih sampai ke telinga mereka. Kapal yang membawa bantuan kemanusiaan itumungkin telah berhenti berlayar. Namun, kisahnya belum selesai. Bahwa kemanusiaan bisa saja ditahan sementara, dengan acungan senapan, tetapi sulit dipenjarakan selamanya (Dean Al-Gamereau)
BACA JUGA:Bawa Misi Kemanusiaan ke Gaza, Kapal Tim Global Sumud Flotilla Masuki Zona Kuning