Mudik Jadi Ibadah, Kabid Dakwah PP PERSIS KH. Uus: Luruskan Niat dan Utamakan Silaturahmi dan Keselamatan

oleh Henri Lukmanul Hakim

19 Maret 2026 | 15:36

Drs. KH. Uus M. Ruhiyat; Ketua Bidang Dakwah PP PERSIS

*Mudik Jadi Ibadah, Kabid Dakwah PERSIS KH. Uus: Luruskan Niat dan Utamakan Silaturahmi dan Keselamatan*


Bandung - Tradisi mudik Lebaran tidak hanya menjadi budaya tahunan masyarakat Indonesia, tetapi juga memiliki nilai ibadah dalam ajaran Islam karena erat kaitannya dengan silaturahmi.


Ketua Bidang (Kabid) Dakwah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Drs. KH. Uus Muhammad Ruhiat, mengatakan, mudik pada hakikatnya mencerminkan ajaran Islam yang mendorong umat untuk menjaga hubungan persaudaraan.


“Mudik harus dimaknai sebagai ibadah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, sehingga tidak sekadar tradisi, tetapi bernilai ibadah,” ujar Kiai Uus saat dihubungi, Rabu (18/3/2026).


Menurut, Kiai Uus yang juga Anggota Dewan Hisbah PP PERSIS, mudik dapat dikategorikan sebagai silaturahmi apabila mampu menghadirkan kebaikan serta mencegah keburukan. Ia menegaskan, silaturahmi dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, maupun bentuk, sehingga dapat dilakukan kapan saja dan dengan berbagai cara.


Dalam konteks budaya Indonesia, tambahnya, mudik memiliki peran penting dalam mempererat hubungan keluarga. Tradisi ini juga dinilai memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan negara lain, termasuk di kawasan Timur Tengah.


“Di Indonesia, mudik menjadi budaya yang khas. Masyarakat yang merantau tetap memiliki ikatan kuat dengan daerah asalnya,” kata dia.


Kiai Uus menjelaskan, secara bahasa mudik berarti kembali. Makna ini sejalan dengan esensi Idulfitri sebagai momentum kembali kepada fitrah atau kesucian diri.


“Idulfitri adalah momentum kembali kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Mudik menjadi simbol kembali, baik secara fisik ke kampung halaman maupun secara spiritual,” ujarnya.


Selain memiliki nilai spiritual, mudik juga membawa dampak sosial dan ekonomi. Pergerakan masyarakat dari kota ke daerah dinilai dapat mendorong perputaran ekonomi di kampung halaman sekaligus memperkuat harmoni sosial.


Ia juga mengingatkan keutamaan silaturahmi sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari).


Lebih lanjut, Kiai Uus menekankan, tujuan utama mudik adalah mempererat hubungan dengan orang tua, keluarga, dan kerabat.


“Prioritas utama mudik adalah bersilaturahmi kepada orang tua dan sanak keluarga,” katanya.


Dalam perjalanan mudik yang termasuk safar, umat Islam juga mendapatkan keringanan (rukhsah), seperti diperbolehkan tidak berpuasa dengan kewajiban mengganti di hari lain, serta menjamak dan mengqashar salat.


Di akhir, Kiai Uus mengingatkan agar masyarakat meluruskan niat dalam mudik serta tetap menjaga keselamatan selama perjalanan.


“Mudik akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk silaturahmi dan berbakti kepada orang tua, bukan sekadar tradisi. Selain itu, penting menjaga kesehatan, keamanan, dan keimanan selama perjalanan,” pungkasnya.

BACA JUGA:

Terkait 1 Syawal 1447 H, PP PERSIS Berharap Pemerintah Konsisten