Urgensi Berjamiyyah

oleh Henri Lukmanul Hakim

27 Januari 2026 | 11:23

Ketua Umum PP PERSIS, K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag.

Oleh: K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag (Ketua Umum PP PERSIS)


Pendahuluan


Di antara tuntunan ajaran Islam dalam masalah tanggungjawab sosial yaitu perintah kerja kolektif dan menjaga kebersamaan (amal jama'i dan berjamiyah). Tidak sedikit ayat Al-Quran maupun hadits nabi yang menegaskan bahwa kekuatan umat akan tampak apabila mereka bersatu, terorganisasi, dan saling melengkapi satu sama lain.


Bekerja secara jama’i bukan hanya strategi sosial, melainkan perintah syar’i dan tradisi kenabian untuk menjaga kekuatan umat dan meraih keberkahan dakwah.


I. Urgensi Berjamiyah dalam Al-Quran dan Hadits


1. Al-Quran Memerintahkan Persatuan dan Kerjasama Serta Melarang Perpecahan.


a. Perintah berpegang teguh pada tali Allah Swt.


“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan jangan berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103). Ayat ini menegaskan bahwa kebersamaan bukan pilihan, tetapi kewajiban agama.


b. Perintah saling menolong dalam kebaikan dan takwa.


“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan…” (QS. Al-Maidah: 2). Amal jama’i adalah wujud nyata dari saling menolong dalam kebaikan.


c. Umat terbaik adalah umat yang tegak secara kolektif.


“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia: menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar…” (QS. Ali Imran: 110). Perintah amar makruf nahi munkar pada skala umat tidak mungkin dilakukan tanpa organisasi dan kerja jama’i.


2. Sunnah Nabi: Jamaah adalah Sumber Kekuatan.


a. Keutamaan berjamaah


Rasulullah SAW bersabda:

يَدُ اللهِ مَعَ الجَماعَةِ

“Tangan Allah bersama jamaah.” (HR. Tirmidzi). Artinya, pertolongan dan keberkahan Allah turun kepada kerja kolektif.


b. Ancaman bagi yang memecah jamaah


َمَنْ فارَقَ الجَماعَةَ شِبْرًا، فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الإِسْلامِ مِنْ عُنُقِهِ

“Barang siapa memisahkan diri dari jamaah sejengkal, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Ahmad). Ini menunjukkan pentingnya keterikatan terhadap struktur jama’ah.


c. Perumpamaan orang beriman yang bersatu

«مَثَلُ المُؤْمِنِينَ فِي تَوادِّهِمْ وتَراحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ مَثَلُ الجَسَدِ الوَاحِدِ

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan empati seperti satu tubuh…”. (HR. Bukhari dan Muslim). Amal jama’i adalah implementasi dari tubuh yang bekerja kompak.


3. Dalil-dalil Lain tentang Urgensi Organisasi dan Kepemimpinan


Pada hadits yang lain ditegaskan tentang wajibnya mengangkat pemimpin ketika tiga orang bepergian (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan pentingnya struktur, koordinasi, dan kepemimpinan.


Demikian pula Al-Quran memerintahkan kepatuhan dan ketaatan kepada ulil amri (QS. An-Nisa: 59). Dalam konteks organisasi dakwah, struktur kepemimpinan menjadi syarat agar amal jama’i efektif.


II. Adab Berjam'iyah Menurut Al-Qur'an dam Sunnah


1. Ikhlas dan Mengharap Ridha Allah Swt Semata.


Berjamiyah bukanlah seperti berkumpul dalam korporasi bisnis. Melainkan bersatu dalam perjuangan dakwah. Karena itu berjamiyah harus dibangun di atas keikhlasan. Tanpa keikhkasan dari semua unsur jam'iyah, organisasi akan menjadi arena perebutan pengaruh.


Berjam’iyah bagian dari pelaksanaan ibadah dalam memerjuangkan dakwah Isamiyah, maka tidak lepas dari perintah ikhlas. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas…” (QS. Al-Bayyinah: 5)


2. Taat Kepada Pemimpin dalam Suka Maupun Tidak Suka, Selama Bukan Maksiat.


«عَلَى الْمَرْءِ المُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ».

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat kepada pemimpinnya dalam hal yang ia suka maupun tidak, selama tidak diperintahkan bermaksiat.” (HR. Bukhari)


Taat dalam organisasi bukan ketaatan yang buta, tetapi taat selama sesuai syariat dan untuk kemaslahatan jamaah.


3. Memutuskan Perkara dengan Musyawarah


Islam memerintahkan musyawarah dalam pengambilan kebijakan: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)


Jamiyah milik bersama, karenanya tidak boleh hanya dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok saja.


4. Sabar dan Lapang Dada dalam Perbedaan


Berjamiyah berarti hidup dalam kelompok jamaah yang beragam dan heterogen dari berbagai aspeknya. latar belakang keluarga, suku, pendidikan, dan lainnya. Wajar jika kemudian terjadi berbagai perbedaan pandangan dalam memikirkan dan menyikapi sesuatu.


Perbedaan pendapat adalah sunnatullah, yang penting adalah menjaga etika atau adab-adabnya. Di antara adab dalam perbedaan pendapat dalam berjamiyah adalah tidak memaksakan pendapat sendiri, menerima keputusan bersama manakala telah dimusyawarahkan, dantidak menyebar isu atau narasi yang menyebabkan perpecahan hati.


Di sinilah arti penting sabar dalam berjam'iyah. Al-Qur'an mengatakan: “Dan bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 28)


5. Menjaga Lisan dan Menghindari Ghibah


Banyak perpecahan jamaah terjadi bukan karena masalah organisasi, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Rasulullah bersabda: “Tidak akan lurus iman seseorang sampai lurus lisannya.” (HR. Ahmad). Adab berjamaah menuntut menjaga komentar, bisikan, dan narasi negatif.


6. Menutup Aib dan Kesalahan Jamaah


“Barang siapa menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim). Dalam organisasi, menutupi kekurangan bukan berarti menutupi kesalahan, tetapi menjaga marwah jama’ah dan memperbaikinya melalui jalur struktural.


7. Menjaga Amanah dan Disiplin


“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. An-Nisa: 58). Adab berjamaah adalah menyelesaikan tugas tepat waktu, tidak menunda, dan menjaga kepercayaan jamaah.


8. Tidak Egois, Melainkan Mendahukukan Kepentingan Jam'iyah di Atas Kepentingan Pribadi.


“Dan mereka mengutamakan (saudaranya) atas diri mereka sendiri meski mereka sendiri membutuhkan.” (QS. Al-Hasyr: 9). Spirit al itsar (mendahulukan orang lain) adalah fondasi kebersamaan.


III. Manfaat Amal Jama'i dengan Berjamiyah


Banyak manfaat besar yang akan diraih dengan hidup dan berjuang melalui jam'iyah, di antaranya: Pertama, menguatkan posisi umat Islam di tengah tantangan global; kedua, memenangkan dakwah melalui koordinasi dan pembagian peran; ketiga, menghindari individualisme, penyakit yang melemahkan umat.


Keempat, membangun kekuatan struktural seperti pendidikan, ekonomi, dan sosial; kelima, mencetak kader dan pemimpin unggul yang lahir melalui proses organisasi; dan keenam, menjaga istiqamah, karena jamaah adalah benteng iman.


Penutup


Amal jama’i bukan sekadar berkumpul, tetapi bekerja secara terorganisasi, terarah, dan beradab. Al-Qur’an dan hadits memberikan landasan kuat mengenai pentingnya jamaah dan adab berjamaah.


Ketika umat Islam menjaga etika dalam organisasi—ikhlas, taat, musyawarah, sabar, dan menjaga amanah—maka Allah akan memberikan keberkahan, kekuatan, dan kemenangan.


[]

BACA JUGA:

Menuju Dakwah Mandiri, Ketum PERSIS Imbau Warga Jamiyyah Himpun Dana Abadi Umat