Hadirlah di Titik Terendah Orang Lain

oleh Taufik Ginanjar

07 Maret 2026 | 15:32

Foto: Freepik

Posisi yang paling membuat seseorang tak akan pernah lupa adalah saat ia berada di titik paling rendah dan paling menyakitkan dalam hidupnya.


Pada saat itulah ia berada di sebuah persimpangan. Siapa yang paling cepat menghampirinya, menepuk pundaknya, dan berbisik di hatinya, sering kali akan menentukan arah perubahan hidupnya.


Bisikan yang baik akan mengarah pada perubahan terbaik. Sebaliknya, bisikan yang buruk dapat memperkeruh suasana hati dan mengarah pada perubahan yang lebih buruk.


Hadirlah pada titik terendah orang lain. Orang itu akan selalu mengenang kebaikanmu. Bahkan, itulah salah satu sebab turunnya pertolongan Allah kepada diri kita.


Kita menolong orang lain, lalu Allah menolong kita. Kepada orang lain kita peduli. Apalagi kepada pasangan dan anak-anak; mereka semestinya menjadi prioritas utama.


Memperbaiki kerumitan masalah dalam keluarga bisa dimulai dengan memperbaiki kedekatan hati kepada Allah. Setelah itu, bukalah ruang komunikasi. Terutama ketika kita peka terhadap saat-saat pasangan dan anak-anak sedang jatuh terpuruk.

Ucapan kita harus menjadi obat, menjadi pelipur lara bagi pikiran dan perasaan orang-orang di rumah.


Allah pasti menurunkan berkah dan rahmat-Nya kepada keluarga tersebut.


Salah satu amal terbaik di bulan Ramadan ini, selain tilawah Al-Qur’an, adalah bersedekah. Menolong orang lain yang sedang kesusahan, dan setiap amal kebaikan, dinilai sebagai sedekah.


Tidak semua sedekah harus berbentuk materi atau uang. Bahkan senyuman pun merupakan sedekah. Bagi orang yang sedang diuji dengan kesedihan, kepahitan, dan kedukaan, melihat senyuman dari orang terdekat dapat menjadi obat hati. Hal itu bermakna dan cukup membantu mengurangi stres atau tekanan psikis.


Yang lebih luar biasa lagi adalah ketika ada di antara kita yang peka terhadap orang yang benar-benar membutuhkan bantuan secara materi, tetapi ia tidak mau meminta-minta. Bahkan, kebanyakan orang justru mengira bahwa ia adalah orang yang berkecukupan.


Jika kita menemukan orang seperti itu, maka justru merekalah yang seharusnya kita tolong. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah: 273


لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terhalang (usahanya) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka mengira bahwa mereka orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dari tanda-tandanya. Mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.


Di tengah kehidupan yang semakin individualistik, kemampuan untuk hadir di saat orang lain terpuruk adalah bentuk kemuliaan yang cukup jarang ditemui di masyarakat kita hari ini.


Kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah solusi besar nan mewah. Sederhana cukup hadir dalam hidupnya, memberi empati, dan sedikit kebaikan yang tulus.


Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain sering kali kembali kepada kita dalam bentuk pertolongan Allah yang datang pada saat kita sendiri membutuhkannya.


Semoga Allah menolong dan memudahkan berbagai kesulitan hidup kita. []

BACA JUGA:

Tutup Aksi Ramadan Berbagi, Ketua PD PERSIS Kota Tangerang Sampaikan Tausiah Keutamaan Sedekah

Reporter: Taufik Ginanjar Editor: Taufik Ginanjar