Amul Jama'ah; Meredam Ego demi Persatuan

oleh Redaksi

24 Mei 2026 | 21:59

Amul Jama'ah; Meredam Ego demi Persatuan

'Âmul Jama'ah; Meredam Ego demi Persatuan


Oleh: Fajar Shiddiq

(Kabid Kaderisasi PD. Pemuda Persis Kab. Tasikmalaya)


Dalam sejarah perjalanan Islam, kita tidak boleh hanya membaca sisi gemilang di masa silam, namun perlu menelaah juga bagian gelap yang menyertainya. Salah satu peristiwa kelam di fase awal perkembangan Islam Pasca Nabi Saw wafat ialah terjadinya Al-Fitnah Al-Kubro, fitnah besar yang menjadi biang kekacauan dalam tubuh umat Islam.


Kita ketahui bersama, badai fitnah itu bermula di masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Dalam catatan sejarahnya, gejolak itu muncul dari persoalan sudut pandang politik. Di mana hadirnya kelompok oposisi yang menolak beberapa kebijakan politik yang dilakukan Khalifah Utsman. Gerakan oposisi itu tidak hanya demonstrasi, tetapi juga merangsek masuk dan membunuh sang Khalifah.


Dari sinilah stabilitas dan keharmonisan jamaah kaum muslimin mulai terasa retak. Konflik semakin melebar di tengah umat, sampai kemudian Khalifah pengganti Utsman, yakni Ali ra pun mendapat imbas. Di kemudian hari, beliau harus berhadapan juga dengan pasukan yg dipimpin Aisyah ra untuk menuntut qisos sehingga terjadi perang Jamal, bahkan kemudian Ali pun harus berhadapan dengan kelompok Muawiyah dengan isu yang sama sehingga terjadi perang Siffin.


Konflik antara saudara jamaah kaum muslimin terus berlanjut karena sudut pandang politik yg berbeda. Bahkan Pasca Ali menerima tawaran arbitrase di perang Siffin, kelompoknya pun terpecah sehingga melahirkan aliran Khawarij yg berani membunuh sang Khalifah.


Tahun Persatuan Setelah Perseteruan


Ketajaman konflik semakin meruncing di tengah kaum muslimin. Sesudah wafatnya Ali bin Abi Thalib, kaum muslimin berada dalam situasi yang rapuh. Luka perang saudara belum sembuh, kecurigaan politik menyebar, dan fanatisme kelompok mulai mengeras.


Di tengah kondisi itu, Hasan bin Ali dibaiat menjadi khalifah. Beliau memiliki legitimasi, kecintaan umat, dan kekuatan yang cukup untuk melanjutkan konflik politik dengan Muawiyah.


Secara peluang politik, Hasan mungkin bisa saja terus bertahan. Namun Hasan melihat sesuatu yang lebih besar daripada kemenangan pribadi, yakni keselamatan umat.


Beliau memahami betul bahwa perang berkepanjangan hanya akan memperdalam perpecahan kaum muslimin. Darah akan terus tumpah. Energi umat habis untuk saling menjatuhkan. Musuh Islam justru akan diuntungkan ketika kaum muslimin sibuk bertikai di dalam rumahnya sendiri. Karena itu, Hasan mengambil langkah yang sangat berat, yaitu *berdamai* dengan menyerahkan kepemimpinan yang sah dan legitimate kepada Muawiyah. Peristiwa itu kemudian dalam sejarah dikenal 'Âmul Jama'ah, tahun persatuan.


Keputusan Hasan bukan tanda kelemahan dirinya, tetapi itu adalah puncak kekuatan jiwa. *Sebab tidak semua orang mampu mengalah ketika memiliki peluang menang. Tidak semua pemimpin sanggup menahan ambisi demi maslahat yang lebih luas, dan mungkin banyak orang berani bertempur berdarah-darah, tetapi sedikit yang berani meredam ego politiknya sendiri.*


Jika direnungkan lebih dalam, peristiwa ini bukan hanya pergantian kepemimpinan. Ia adalah pelajaran besar tentang kedewasaan, pengendalian ego, dan keberanian menjaga stabilitas umat.


Kita pasti menyadari bahwa perpecahan jamaah itu bukan karena perbedaan tujuan besar, tetapi karena persaingan pengaruh, ego kelompok, dan sikap politik internal. Ada yang merasa paling benar dalam membaca strategi; Ada yang merasa paling berjasa; Ada yang sulit menerima perbedaan pendekatan dakwah. Akhirnya, energi kejamaahan itu habis untuk konflik internal dibanding melayani umat.


Dari peristiwa ‘Âmul Jamaah juga kita mesti belajar bahwa *politik dalam jamaah bukan sekadar soal siapa memimpin, tetapi bagaimana umat tetap utuh.* Hasan bin Ali menunjukkan bahwa kemuliaan pemimpin tidak hanya diukur dari keberhasilannya merebut kekuasaan, tetapi dari kemampuannya menjaga kaum muslimin agar tidak retak.


Kisah heroik Hasan bin Ali perlu terus dihidupkan dalam konteks hidup berjamaah hari ini. Sebab ada saatnya seseorang harus berani mengalah demi maslahat yang lebih besar. Ada waktunya kita harus menurunkan tensi politik demi menjaga hati jamaah, dan ada momentum ketika persatuan jauh lebih berharga daripada kemenangan.


Dengan demikian, 'Âmul Jama'ah bukan hanya sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin kedewasaan kader dakwah secara mental dan moral serta spiritual.

BACA JUGA:

Pemuda Proaktif Bukan Reaktif: Merespons Dinamika Kepemimpinan dengan Nilai Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Reporter: Redaksi Editor: Gicky Tamimi