Santri secara etimologis berasal dari bahasa sanskrit atau sanskerta, terakomodir juga dalam bahasa kawi (bahasa jawa kuno yang perhari-ini digunakan dalam jagat pewayangan) yaitu, “sastri”-selaras dengan diksi, “sastra”. Dengan demikian, Nurcholish Madjid atau yang kerap disapa Cak Nur itu, menautkan definisi etimologis santri pada mereka yang berkapabilitas untuk melek terhadap diksi, membaca buku dan mengetahui kitab.[6] Sedangkan dalam pandangan KH. Mustofa Bisri, santri berkonsentrasi pada orientasi transendentalitas sehingga setiap pembelajaran yang diambil oleh santri mesti bertujuan pada kedekatan uluhiyyah.[7]
Pada faktanya, santri perhari ini sudah kadung terkategorisasi oleh pelbagai kubu yang hendak dicipta: salaf, modern, kobong dan pondok. Dari pengkotak-kotakkan itulah kemudian tercipta suatu kesenjangan atau gap ideality antara satu santri dengan santri yang lainnya, sehingga persatuan spirit sukar digapai. Sebagian santri terakomodir oleh standar kemenag sehingga ketercapaian pembelajaran kadung diukur secara kuantitatif by data dan algoritma, sebagian yang lain memilih untuk menetapkan diri dalam kenyamanan konservatisme, memaksakan ketenangan semu dalam realitas manipulatif berdalih keislaman tradisional. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip esensial Persatuan Islam secara historis guna melepaskan keterjajahan pikiran umat atas kebodohan yang disebarkan dengan dalih keislaman. Pada kesimpulannya, santri hanya berada pada ritus-ritus transendentalitas yang kemudian dikategorisasi oleh kepentingan tertentu sehingga persatuan pada santri sukar digapai karena perbedaan dialektis yang kadung menjadi kutub arah angin. Dan, dalam kesenjangan ini, pelajar adalah satu-satunya istilah sebagai instrumental term pemersatu kaum pembelajar baik santri, siswa, mahasiswa ataukah mahasantri.
Sekilas balik ujung pembahasan dalam sub-judul ini bahwa Ikatan Pelajar Persatuan Islam tak dapat digubah menjadi Ikatan Santri Persis. Penulis berkaca kembali pada suatu momentum pertama kali masuk kepada organisasi yang sedang berperang secara dialektis ini. Kala itu, Tiar Anwar Bachtiar sebagai pemateri menyampaikan suatu basis argumentasi yang menyamakan santri dengan pelajar. Kalam sarkastik pemicu referensi literat dibaca kembali oleh penulis, mencoba menyingkap kembali makna di balik santri dengan pelajar. Baginya, santri dengan pelajar terletak pada kesamaan proses pembelajaran. Hal ini cenderung akan mempersempit makna pelajar dalam konteks medium aktualisasi diri pelajar yang bersifat bebas dan tak boleh disandari dengan kepentingan tertentu. Serta memperluas skala peranan santri dari jejak transendentalitas menjadi ruang yang bias, cenderung global dan bisa memasuki berbagai tataran.
Pada akhirnya, santri hanya dijadikan sebagai titel administratif penerima pembelajaran keagamaan dan dipaksakan untuk menyentuh ruang-ruang yang tidak semestinya. Dampaknya, santri mengalami krisis identitas akibat pemaksaan-pemaksaan standar yang kemudian dalam perspektif Bourdieu disebut sebagai Kekerasan Simbolik, suatu upaya internalisasi eksterior pada habitus dan arena intelektual santri yang tidak semestinya, mereka tak sadar sedang dipaksa—inilah letak kekejaman pendidikan hari ini pada konteks santri.[8] Sederhananya, hal-ihwal yang mestinya diprioritaskan sebagai asas fundamental pembelajaran santri, melebar pada fokus-fokus tertentu yang bukan semestinya bagi mereka.
Dari sinilah peran IPPersis masuk. Para santri yang diposisikan sebagai pemegang amanah transendental sebagai katalisator masyarakat dalam ritus spiritualitas—dikeluarkanlah ia menjadi peranan yang lebih luas, berganti peran dari santri menjadi pelajar. Sebab keterkungkungan administratif perhari ini yang melekat pada tubuh seorang santri, term pelajar menawarkan daya kebebasan eksploratif agar individu-individu pembelajar ini memiliki spirit sebagai pelopor peradaban, berperan aktif sebagai agent of civil advocate dan terus bergerak secara literat dalam dakwah yang tak dapat distandarisasi pada ruang-ruang mimbariyah saja.
Bila kita uraikan,Ikatan Pelajar Persis menempati beberapa posisi strategis sebagai berikut:
- Pelajar Persis berperan aktif sebagai anggota masyarakat yang sadar akan potensi dirinya dan mampu mengaktualisasikan diri pada ruang yang masif, turut membawa kebermanfaatan bagi masyarakat akibat problem solving yang dihasilkan atas aktualisasi diri tersebut;
- Pelajar Persis adalah agent of civil advocate, hadir sebagai problem solver kemasyarakatan dengan intelektualitas yang tajam dan spiritualitas yang lembut;
- Pelajar Persis adalah penegas pelepasan individu pembelajar dari keterkungkungan administratif, membebaskan pikiran individu-individu pembelajar dari ruang formil dan membawanya pada ruang yang lebih dinamis guna mencapai kebahagiaan sejati dan tujuan mulia beragama, berbangsa dan bernegara;
- Pelajar Persis secara intelektualitas bercorak ar-rasikhuna fil ilmi tegap pada aktifitas yang disandari dengan pikiran kritis, diskursus yang ilmiah dan kepekaan atau sensibilitas sosial yang tinggi khas ibaadurrahman;
- Pelajar Persis tidak berhenti pada ruang pembangunan intelektualitas pasif, orientasinya adalah capaian kolektif: kemaslahatan umat menuju kemakmuran bangsa berdasarkan cita-cita Qur’ani dan Sunnatin Nabi sehingga perannya tidak terhenti pada ritus literat melainkan kader literat IPPersis mesti mampu mengkatalisasi peradaban berdasarkan apa yang telah ia pelajari menuju capaian kolektif tersebut;
- Sifat bebas aktif-eskploratif Pelajar Persis menuntut kader guna menjadi inovator aktif berbasis discovery learning di mana setiap aktifitas dijadikan sebagai medium pembelajaran dan semangat yang ditanamkan adalah semangat kepeloporan atas kerinduan akan peradaban emas keislaman sejak literasi;
- Pelajar Persis sebagai bagian daripada gerakan khas Persatuan Islam memiliki amanah historis sebagai pewaris perjuangan pengentasan kebodohan, ketaqlidan dan kejumudan pada tubuh individu pembelajar akibat kecacatan pemikiran yang melegitimasi pergerakannya atas nama Islam.
Dan oleh sebab itu, eksistensi IPPersis tak dapat disamakan dengan santri. Sejauh mata memandang, yang beririsan sama adalah mentalitas dan spirit perjuangannya. Sehingga penulis bukan hendak menyempitkan massa bahtera, namun memperluasnya dan mendelegasikan sebagian pada koridor yang tepat. Menegaskan peranan santri dengan pelajar yang kadungnya santri terkungkung secara administratif dewasa kini, sedangkan pelajar masih segar menegakkan diri dari keterjajahan pikiran kuantitatif.
BACA JUGA:Hati-hati Dalam Memilih Agama