Dialektika RG-UG dan IPPersis, Kesamaan Ruh Juang dan Diferensiasi Skala Perjuangan: Refleksi Kekerasan Simbolik Perusak Kultur Persatuan Islam.
1943 adalah tahun-tahun di mana Persatuan Islam mengalami gejolak ekstrim menghadapi kolonialisme dan imperialisme yang menghambat kemajuan berpikir umat islam. Pada tahun krusial ini, pesantren sebagai simbol perlawanan serta mediun pengkaderan dipindahkan ke tempat-tempat yang dirasa aman dari agresi fisik militer maupun destruksi budaya. Masa perpindahan tersebut menuntut Persatuan Islam agar tegak secara esensial, sebab daripada instruksi pembubaran organisasi keislaman yang pada pandangan penjajah (kala itu Jepang) mengganggu transformasi pemerintahan. Meskipun badan administratifnya dibubarkan, Persatuan Islam berhasil menjaga obor revolusi. Melalui pembentukan organisasi santri yang pada waktu itu dinamai Rijaalul Ghad dan Ummahaatul Ghad, Persis menemukan secercah harapan demi keberlanjutan dakwah.
Masa awal dinamika perjuangan melawan para penjajah, Persatuan Islam menyelinap masuk ke berbagai tataran masyarakat melalui pikiran guna membangkitkan semangat revolusi. Disokong dengan perbitan resolusi jihad, KH. E. Abdurrahman menegaskan arah gerak masa krusial Persis ke arah konservasi kultur pendidikan dan ekspansi dakwah yang masif. Selain kehadiran resolusi jihad, Persatuan Islam turut berkontribusi pada gagasan pembangunan bangsa dan negara melalui tokoh-tokohnya yaitu M. Natsir dan Isa Anshary. Dwitokoh yang menahkodai Persatuan Islam dalam kancah politik purna, simbol perlawanan atas penjajahan berdasarkan pergerakan islam revolusioner. Perlawanan ini menggunakan pelbagai metode, sarana hingga strategi yang cukup berkelumit bagi organisasi pembaharuan yang rentan terpecah belah karena adanya kotak-kotak standar kubu pemikiran ormas islam kala itu.
Pada dasarnya, A. Hassan yang menjadi guru besar Persatuan Islam tidak dilabeli demikian tanpa alasan. Metode pengajaran yang mampu melewati pelbagai tataran bahkan lintas intelektualitas membuat nama-nya besar dan membesarkan organisasi yang genap berusia satu abad lebih ini. Perlu diakui bahwa internalisasi nilai keislaman pada metode mengajar A. Hassan dapat diserupakan dengan bagaimana metode dialektika awal pembangunan peradaban ala ketimuran: melalui debat, dialektika intelektual, saling kritik.[9] Semua aktifitas itu disandarkan pada satu motivasi besar yang dalam perspektif KH. Zae Nandang dalam suatu acara penulis masih ingat beliau menyampaikan bahwa Persis tak mencari beda tapi Persis mencari kebenaran. Dan oleh sebab itulah, dialektika para tokoh Persatuan Islam masa dinamika awal cukup kentara dengan dakwah lintas intelektualitas, mampu beradaptasi dengan tantangan zaman dan cenderung sungguh visioner melampaui zamannya. Tak ayal bila, pergerakan ormas islam satu ini memiliki daya gaung yang cukup tinggi hingga keterwarisan obor semangat juang pengentasan kebodohannya diterima baik oleh Rijaalul Ghad dan Ummahaatul Ghad.
Dengan keterwarisan semangat dan internalisasi nilai yang dipandang berhasil, Persis dapat menerima gelombang dukungan dari RG-UG atas responsifitas mereka terhadap dinamika sosial yang terjadi. Diketuai oleh KH. Abdul Latief Muchtar yang di kemudian hari menjadi Ulama Reformis, Ketua Umum Persis pertama pembangun perguruan tinggi khas dengan corak Persatuan Islam—RG dan UG menghasilkan berbagai pergerakan yang amat kentara kental kultur literatnya. Tak ayalnya dayung bersambut, tradisi intelektualitas itu kemudian secara turun temurun masih disimpan dalam benak pemegang amanah transendental di Pesantren Persatuan Islam yaitu para santrinya.
RG-UG dikenal mampu menciptakan kader-kader ulama yang kritis berpikir, ilmiah berhujjah serta responsif bertindak. Hal ini dibuktikan dengan keteguhan pendirian para Ulama Persatuan Islam yang dulu pernah mengenyam pendidikan keagamaan di Pesantren Persatuan Islam dan memiliki riwayat organisasi sebagai pengurus RG dan UG. Dengan skala perjuangannya yang tak hanya bermekaran di pesantren, RG UG memiliki daya pukul dakwah yang masif,. Ekspresi-ekspresi dakwah para santri Persatuan Islam melalui wadah tersebut melanglangbuana ke seluruh penjuru. Membuat perspesi ketakutan masyarakat akan kritisisme yang terjadi pada tubuh santri, di sisi lain menciptakan kekaguman khalayak luas terhadap bagaimana Persatuan Islam mempersiapkan kader-kader ulamanya.
Semangat perjuangan yang ditanamkan pada RG-UG pada awal masa krusial Persatuan Islam, mewarisi semangat kepelajaran. Melepaskan diri dari keterkungkungan standar sosial yang mengharuskan mereka melakukan sesuatu demi sekedar memenuhi keanggotaan kultural pada masyarakat. Dengan kesadaran akan potensi dan kultur literasi nan kuat, para santri Persatuan Islam mampu mengguncakan buana intelektualitas, menciptakan standar baru bahwa santri tak hanya berdiam diri dalam dunia pondok—penjara suci yang penuh dengan hikayat kitab kuning. Santri Persatuan Islam berkapabilitas merubah nyamannya keadaan menjadi media pertempuran lintas cara: intelektualitas, fisik, spiritualitas hingga emosionalitas.
Dari masa-masa krusial yang kita jadikan sebagai refleksi, kita dapat melakukan studi komparatif bersama menggunakan metodologi Bourdieu dalam membaca realitas sosial melalui kacamatanya yaitu kekerasan simbolik. Dalam gagasannya, Bourdieu menautkan basisnya pada bagaimana ia dapat mengungkap sesuatu nilai yang dipaksakan untuk dapat diimplementasikan secara tak sadar. Bila kita meninjau realitas perhari ini, Pesantren Persatuan Islam sudah terdominasi oleh standar akademik dan administratif yang kemudian menciptakan keterkungkungan baru. Keterkungkungan itu berupa simplifikasi pergerakan santri. Menyempitkan makna santri dan memaksanya untuk tetap berada di balik ‘kobong modern’ berlabel pesantren dengan ukuran-ukuran keberdampakan yang didasarkan pada nomenklatur pemerintahan. Munculnya kurikulum-kurikulum yang asing di telinga para santri membuat benteng krisis identitas semakin kuat.
Dalam konsepsi kekerasan simbolik, Bourdieu menegaskan bahwa internalisasi eksterior atau masuknya nilai yang berada di luar ke dalam pribadi individu tanpa adanya kesadaran akan potensi pribadi merupakan bagian dari fase awal perusakan kultur kolektif. Hal ini dibuktikan dengan simplifikasi kurikulum yang dipandang akan memudahkan dan mengakselerasi intelektualitas para santri. Namun nyatanya kita dapat memandang dengan mata telanjang kita, berapa banyak di antara ratusan pesantren persis yang telah menghasilkan ulama berkualitas nan peka terhadap dinamika sosial yang kerap digaungkan dalam aktifitas awal dakwah Persatuan Islam pada masa krusialnya.
Timbul pertanyaan di benak kita, apakah memang pesantren hari ini mereduksi fungsi dan sifatnya dan sengaja mengungkung diri hanya untuk mencapai anggaran yang bila tak menggunakan anggaran itu mereka menjadi mati? Bila memang jawabannya adalah, ‘iya’ tak heran jika pertumbuhan pengkaderan keulamaan kian tahun kian menurun.
Preposisi kurikulum yang dirancang dengan standar kuantitatif tak berdasar ini tak menempati posisinya sebagaimana mestinya. Dalam kritik kontemporer pada pesantren, kurikulum yang disampaikan bukan khas dari Persatuan Islam seyogyanya menempati skala prioritas lebih rendah daripada kurikulum khas Persis yang diklaim ampuh menjadi alat pengasah ketajaman berpikir para santri. Dalam artian lain, kurikulum-kurikulum asing ini baiknya memiliki preposisi instrumentalistik saja, atau hanya pelengkap wawasan di samping komprehensifitas wawasan kurikulum persis yang dianggap mapan. Sehingga, keterwarisan semangat santri pada masa awal masih dapat terjaga hingga kini.
Metode dialektika klasik A. Hassan pun jarang dijumpai dalam aktifitas kepesantrenan hari ini. Kita mengenal istilah, ‘nyorog’ sebagai metode pembelajaran khas Persatuan Islam yang mengawali pembelajaran dengan presentasi guru hingga berujung pada pengasahan ketajaman berpikir para santri melalui ruang dialektika yang dimentori langsung oleh guru. Jauhnya lagi, kata ini mungkin sudah asing didengar oleh para santri Persatuan Islam.
Dari refleksi kekerasan simbolik di atas dapat kita temui beberapa makna yang tersingkap bahwa masih ada keterjajahan pikiran yang membutuhkan katalisator guna melepaskannya. Bila santri saat ini dikerangkeng oleh nilai yang menjadi standar untuk masuk kepada perguruan tinggi, lantas mana alur pembangunan intelektualitas hakiki dengan spiritualitas khasnya untuk tetap kita jaga? Sebab tujuan pendidikan bukan untuk mencapai pekerjaan yang diidamkan akan tetapi penyempurnaan keutuhan diri individu pembelajar sebagai manusia semestinya.
Sejatinya, RG-UG memiliki semangat perjuangan yang berkelindan dengan semangat juang Ikatan Pelajar Persatuan Islam. Sejak resolusi jihad, keterlibatan santri melawan penjajah, teriakan bid’ah yang menggema, toa-toa masjid yang digaungkan oleh santri ikut berseru guna mengentaskan kebodohan—mencirikan satu peranan yang sama. ‘Ada benang merah’ antara RG-UG dengan IPPersis, antara Santri dengan Pelajar Persis. Di mana titik temunya tidak selalu berbicara soal pola dialektis yang berskala global atau regional, melainkan fighting spirit atau semangat perjuangan yang sama-sama berusaha untuk melawan kebodohan, ketaqlidan dan kejumudan.
Adapun suatu problematika yang dihadapi ketika kekerasan simbolik dilancarkan. Selain mempersempit dan menciptakan keterjajahan yang tak dapat disadari khalayak, ia rentan membuat adanya penyederhanaan ekstrim pada ruang lingkup pergerakan. RG-UG pada awalnya memiliki skala gerakan yang cukup masif dengan radius dakwah tak berbatas. Selama Ustadz memberi titah, ke manapun jauhnya para santri akan siap sedia berdakwah. Perhari ini, realitas tersebut berbalik. Simplifikasi gerakan RG-UG kadung terjadi. Penyempitan skala gerakan ini tak dapat dipungkiri. Menciptakan kondisi yang sama dan dapat dinyatakan bahwa tiada batas pembeda secara ruang lingkup antara RG-UG dengan OSIS. Sama-sama organisasi intra, sama-sama organisasi. Pembedanya hanyalah atribusi., Bila berbicara soal distribusi atau delegasi nilai, kiranya tidak ada suatu basis nilai fundamental yang diwariskan selain jargon, ‘hayaatuna kulluha ‘ibadah’.
Muktamar 2022 lalu kala IPPersis memasuki gerbang otonomisasi, sekitar tujuh puluhan orang banyaknya menolak kehadiran organisasi kepelajaran ini dengan sontak narasi yang sama bahwa tiada beda IPPersis dengan RG-UG. Namun kiranya kita perlu merefleksikan kembali peranan IPPersis dengan RG-UG melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana. Berkenankah RG-UG mencapai taraf atau skala ruang lingkup pengkaderan yang masif dengan jenjang dan standar pengkaderan secara terukur? Dapatkah RG-UG menyentuh ruang-ruang kepelajaran yang tak tersentuh sebagai arena dakwahnya seperti pelajar non-Persatuan Islam di luar sana? Dan, berempatikah RG-UG terhadap mereka yang terpinggirkan di persimpangan jalan untuk sekedar membantu membawa mereka dari gelapnya kebodohan kepada terangnya cahaya keilmuan? Kiranya tidak. Bebalnya administratif justru semakin menjawab betapa berbeza Pelajar dengan Santri. Justru semakin kuatlah Pelajar dapat melepaskan diri dari kerangkeng administratif yang mengharuskan individu pembelajar bergerak sesuai dengan instruksi oligarki-oligarki yang kadung berdiam diri dalam zona nyaman.
Kita sampai pada suatu kesimpulan bersama bahwasannya RG-UG tak lagi berada pada irisan idealitas Persatuan Islam dan diposisikan sebagai pewaris resmi kultur literasi Persatuan Islam. Oleh karena keterkungkungan administratif via kekerasan simbolik, RG-UG tersempitkan skala perjuangannya. Sehingga di sinilah IPPersis hadir sebagai jalan tengah, penengah atas krisis identitas yang kadung terjadi dalam tubuh individu pembelajar muda di Persatuan Islam. Titik temu antara IPPersis dengan RG-UG tidak terletak pada kesamaan aktifitas pembelajaran formal. Lebih daripada itu IPPersis dengan RG-UG bertemu pada persimpangan jalan—keterwarisan semangat yang bersuasana dayung bersambut, di mana IPPersis bukanlah musuh yang mesti dihindari kehadirannya melainkan sahabat rangkulan, mitra idealitas RG-UG dalam masa perkembangannya menuju kesempurnaan keterwarisan kultur literasi Persatuan Islam.
Dengan peran dan sifat Pelajar yang bebas-aktif eskploratif, RG-UG tidak dituntut untuk menyadari keadiluhungan perannya, namun berefleksi bersama untuk menerima uluran tangan saudara seperjuangan yakni Ikatan Pelajar Persatuan Islam. Sifat-sifat kepelajaran yang ditawarkan oleh IPPersis dipandang akan menjadi katalisator perkembangan akseleratif bagi para santri yang memasuki RG-UG. Membuka gerbang dan babak baru inklusifitas dakwah jam’iyyah dan mengristalisasi nilai-nilai kepersisan di dalamnya bahwa sejatinya, Pelajar Persis adalah Santri Persis, RG-UG dan RG-UG atau Santri Persis itulah bagian daripada Pelajar Persis.
BACA JUGA:PP IPP Sosialisasikan Gerakan Pelajar PERSIS di PPI 327 Buluballea