Jejak Rahmah El-Yunusiyyah Menggema di Bincang Perempuan PERSIS Ramadhan Expo

oleh Isnaya Khaisa K

08 Maret 2026 | 20:06

Bincang Tokoh Perempuan yang mengangkat sosok inspiratif Rahmah El-Yunusiyyah, Ahad (8/3/2026).

‎Bandung, persis.or.id — Kegiatan Talkshow Bincang Tokoh Perempuan yang mengangkat sosok inspiratif Rahmah El-Yunusiyyah menjadi salah satu sesi menarik dalam rangkaian acara PERSIS Ramadhan Expo, Ahad (8/3/2026).

Talkshow menghadirkan pembicara Ust. Hadi Nur Ramadhan, Ketua Bidgar Data Arsip serta Kepustakaan PP PERSIS dan Prof. Dr. H. Sudarman, akademisi sekaligus Ketua PW Persatuan Islam (PERSIS) Sumatra Barat. Diskusi ini tidak hanya menyoroti kiprah Rahmah El-Yunusiyyah sebagai tokoh perempuan muslim, tetapi juga mengulas sejarah berkembangnya pemikiran PERSIS hingga ke wilayah Minangkabau.

‎Dalam pemaparannya, Ust. Hadi Nur Ramadhan menjelaskan bahwa PERSIS sebagai jamiyyah dan gerakan pemikiran tidak hanya berkembang di Jawa Barat. Gagasan pembaruannya bahkan menyebar hingga Minangkabau melalui sejumlah tokoh penting seperti Mohammad Natsir, Isa Anshari, dll.

‎Menurutnya, salah satu tokoh perempuan yang memiliki kedekatan dengan PERSIS adalah Rahmah El-Yunusiyyah yang pernah menjadi penasihat PERSISTRI. Rahmah dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan melalui lembaga Diniyyah Putri di Padang Panjang.

‎Ust. Hadi menuturkan bahwa kurikulum Diniyyah Putri pada masanya tergolong visioner karena tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga keterampilan praktis seperti menjahit sebagai bekal kemandirian bagi para pelajar perempuan.

‎Semangat Rahmah dalam pendidikan tercermin dalam ungkapannya yang terkenal, “Haus akan ilmu, lapar akan kemajuan.”

‎Ust. Hadi menekankan bahwa memahami sejarah PERSIS tidak cukup hanya melalui narasi organisasi, tetapi juga melalui penggalian khazanah pustaka dan pemikiran para tokoh PERSIS yang luas dan tidak terbatas di Jawa Barat.

‎“PERSIS itu bukan hanya milik Jawa Barat, tetapi juga bagian dari dinamika pemikiran Islam di berbagai daerah, termasuk Minangkabau,” ujarnya.

‎Sementara itu, Prof. Dr. H. Sudarman menyoroti konteks sejarah Minangkabau yang dikenal melahirkan banyak tokoh besar dalam perjalanan bangsa. Ia mengajukan pertanyaan mendasar mengenai faktor yang menjadikan Minangkabau sebagai daerah yang produktif melahirkan pahlawan dan pemikir.

‎Menurutnya, kekuatan intelektual masyarakat Minangkabau terbentuk dari tiga unsur utama, yakni peran ibu dalam keluarga, tradisi pendidikan di surau, serta budaya merantau yang membentuk kemandirian dan wawasan luas.

‎Ia juga memaparkan berbagai dinamika sejarah yang mewarnai Minangkabau, mulai dari Perang Padri, perdebatan kaum tua dan kaum muda, hingga dinamika politik nasional seperti PDRI dan PRRI.

‎Dalam konteks tersebut, Rahmah El-Yunusiyyah hadir sebagai tokoh penting yang tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga memiliki visi besar untuk melahirkan ulama perempuan dan turut berkontribusi dalam perjuangan bangsa.

‎Melalui talkshow ini, peserta diajak untuk kembali mengenal jejak perjuangan Rahmah El-Yunusiyyah sekaligus memahami kontribusi pemikiran PERSIS dalam dinamika sejarah Islam dan pergerakan intelektual di Minangkabau.

[]

BACA JUGA:

PERSIS Ramadan Expo 2026 Bakal Jadi Lompatan Strategi Dakwah, Sasar Kawula Muda

Reporter: Isnaya Khaisa K Editor: Dhanyawan Haflah