Masalah Seputar Ramadhan : Niat Shaum

oleh Sekretariat Dewan Hisbah

20 Februari 2026 | 13:57

Masalah Seputar Ramadhan : Niat Shaum

MASALAH SEPUTAR RAMADHAN

 

       A. Niat Shaum

 

Pengertian Niat

Niat adalah maksud dan ‘azam (ketetapan hati) untuk melaksanakan sesuatu. Seperti berniat safar artinya bermaksud dan berazam safar. Al-Mawardi mengatakan:


النِّیةَ : قصْدُ الشيْءِ مُقْترَناً بفِعِلھ 


 “Niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya.” As-Sa‘aty mengatakan:


توَ ُّجھُ القلَبِ جِھةَ الْفعِلِ ابْتغِاءَ وَجْھِ ﷲِ تعَالىَ وَامْتثِاَلاً لأمْرِهِ.


Menghadapnya hati ke arah pekerjaan, karena mengharap rida Allah dan karena melaksanakan perintah-Nya.


Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa niat shaum adalah maksud dan tekad yang bulat di dalam hati untuk melakukan shaum karena mengharap ridha Alah Swt dan melaksanakan syariat-Nya.

 

Niat Shaum Wajib

Rasulullah Saw mewajibkan meneguhkan hati untuk shaum Ramadhan pada sebagian malam, paling tidak sebelum masuk waktu Subuh. Sebagaimana hadis berikut:


عَنْ حَفْصَةَ أ ِّمُ الْمُؤمِنیِنَ رضي ﷲ عنھا، عَنِ النَّبيِ صَلَّى َّﷲُ عَلیْھِ وَسَلَّم قاَلَ: مَنْ لمْ یبُیَّتِ الصیاَمَ قبْلَ الْفجْرِ فلَاَ صِیاَمَ لھَ. 


Dari Hafshah Ummul Mukminin, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Barangsiapa tidak menetapkan hati untuk menentukan shaum sebelum fajar, maka tidak sah shaum baginya.” H.r. al-Khamsah.


Kata bayyata-yubayyitu artinya dabbara bi layl (merencanakan atau mempersiapkan di waktu malam). Seperti perkataan bayyata fula>n al-amra, artinya Polan mempersiapkan sesuatu di waktu malam. Dan yang dimaksud pada hadis itu: “Orang yang tidak merencanakan shaum wajib pada waktu malam, maka tidak ada shaum baginya”. Hadis di atas diriwayatkan pula dengan redaksi:


مَنْ لمْ یجُمِعِ الصیاَمَ قبْلَ الْفجْرِ فلَاَ صِیاَمَ لھَ


“Barangsiapa tidak menetapkan untuk shaum sebelum Fajar, maka tidak sah shaum baginya.”

H.R. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Baihaqi.


Kata yujmi‘u pada hadis di atas bermakna:


أحْكَمَ النِّیَّةَ وَالعَزِیْمَةَ


“Mengukuhkan niat dan tekad”.


 Hadis di atas diriwayatkan pula dengan redaksi:


لاَ صِیاَمَ لمِنْ لمْ یفُرِضْھُ مِنَ اللَّیْلِ


“Tidak sah shaum bagi yang tidak meneguhkannya sejak malam hari.” H.r. Ibnu Majah dan ad-Daraquthni.

Kata afradha-yufridhu pada hadis di atas bermakna qadara wa jazama. Maksudnya, tidak meneguhkan untuk shaum pada waktu malam.


Kata min (dari) pada kalimat minal-layl menunjukkan makna tab‘idh (sebagian). Dengan demikian kalimat itu bermakna: “Pada salah satu bagian waktu malam”. Ini menunjukkan bahwa orang yang meneguhkan hati pada waktu malam bahwa besok ia akan shaum, lalu ia tertidur hingga bangun setelah terbit fajar atau waktu Subuh, maka shaumnya tetap sah.


Kesimpulan: Bagi muslim yang akan melaksanakan shaum wajib Ramadhan, diwajibkan malam harinya meneguhkan hati untuk melaksanakan shaum tersebut.

 

Niat Shaum Sunat

Shaum sunat tidak disyaratkan meneguhkan hati pada malam hari sebelum fajar. Dalam hadis diterangkan:


عَنْ عَائشِةَ رضي ﷲ عنھا قاَلتَ دَخَلَ عَليَ رَسُولُ ﷲِ صَلَّى َّﷲُ عَلیْھِ وَسَلَّم ذَاتَ یوَمٍ فقَاَلَ : ھلَ عِنْدَكُمْ مِنْ شَیْئٍ؟ فقَلُناَ:لاَ.

فقَاَلَ : فإَنِّي إذِنْ صَائمِ. ثمُ أتَاَناَ یوَمًا آخَرَ فقَلُناَ یاَ رَسُولَ ﷲِ أھْدِيَ لنَاَ حَیْسٌ، فقَاَلَ : أرِینیِھِ فلَقَدْ أصْبحَتُ صَائمِا فأَكَلَ. 


Dari Aisyah, ia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw datang menemuiku, lalu beliau bertanya, ‘Apakah kalian mempunyai makanan?’ Kami menjawab, ‘Tidak’, Beliau bersabda, ‘Jika demikian aku akan shaum’. Kemudian beliau mendatangi kami lagi pada hari lainnya, kami katakan kepada beliau, ‘Telah dihadiahkan kepada kami makanan Hais (sejenis makanan dari bahan kurma, tepung dan samin)’. Beliau bersabda, ‘Cobalah perlihatkan kepadaku. Sesungguhnya sejak pagi aku telah shaum’. Maka beliau pun makan’.” H.r. Al-Jama’ah kecuali al-Bukhari.


Hadis ini menunjukkan:


Pertama, Rasulullah Saw tidak berniat shaum ketika sebelum masuk waktu Subuh.


Kedua, ketika pagi hari, diketahui bahwa tidak ada makanan, maka seketika itu beliau menetapkan niat shaumnya seraya langsung melakukannya, lalu menjadikan belum makan dan minumnya sejak waktu subuh itu rangkaian shaum hari itu.


Ketiga, ketika beliau sudah melaksanakan shaum sejak waktu Subuh, lalu diberitahukan kepadanya bahwa ada hadiah makanan Hais kepada mereka (istri-istri Nabi), Rasulullah berbuka shaum dan makan.


Dalam hadis lainnya diterangkan:


یاَ عَائشِةُ، إنِّ مَا مَنْزِلةَ مَنْ صَامَ فيِ غَیْرِ رَمَضَانَ أوْ فيِ التَّطَوعِ بمِنْزِلةِ رَجُلٍ أخْرَجَ صَدَقةَ مَالھِ فجَادَ مِنْھاَ بمِا شَاءَ فأَمْضَاهُ، وَبخِلَ مِنْھاَ بمِا شَاءَ فأَمْسَكَھُ .


“Wahai Aisyah, sesungguhnya kedudukan orang yang shaum selain Ramadhan atau shaum sunat itu sederajat dengan seseorang yang mengeluarkan shadaqah hartanya. Maka ia dapat mendermakan dari harta itu sesuai keinginannya dan menjadikannya (shadaqah). Dan dia pun dapat menahan hartanya menurut keinginannya, sehingga ia menahannya.” H.r. An-Nasai.


قاَلَ البخُارِ ُّي : وَقاَلتَ أمُ الدرْدَاءِ : كَانَ أبُوُ الدرْدَاءِ یقَوُلُ : عِنْدَكُمْ طَعَامٌ ؟ فإَنِ قلُناَ : لاَ، قاَلَ : فإَنِّيْ صَائمِ یوَمِي ھذَا، قاَلَ :

وَفعَلھَ أبَوْ طَلْحَةَ وَأبَوْھرَیْرَةَ وابْنُ عَبَّاسٍ وَحُذَیْفةُ  


Al-Bukhari berkata: “Dan Umu Darda mengatakan: ‘Abu Darda bertanya, ‘Apakah kalian memiliki makanan?’ Jika kami menjawab tidak, ia berkata, ‘Kalau begitu, hari ini saya shaum’. Ia berkata, ‘Hal itu pun dilakukan oleh Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah Rad}iyallahu ‘anhum.”.

 

Kesimpulan: Shaum sunat boleh diniatkan secara mendadak setelah siang hari, selama belum makan dan atau minum.

 


BACA JUGA:

Shaum Ramadan mengajarkan Seni Pengendalian Diri