Gelar Dialog Peradaban, Pemuda Persis Tasikmalaya Dorong Dakwah Filipina Menjadi Gerakan Kolektif Jamiyyah PERSIS

oleh -

31 Desember 2025 | 09:40

Para pemateri acara Islamic Podcast bertajuk “Islam, PERSIS dan Peradaban” saat memberikan pemaparannya.

Tasikmalaya, persis.or.id — Selasa, 30 Desember 2025, Pimpinan Daerah (PD) Pemuda PERSIS Kabupaten Tasikmalaya menggelar Islamic Podcast bertajuk “Islam, PERSIS dan Peradaban”.


Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan konsolidasi pemikiran dakwah lintas agama, sekaligus membahas penguatan peran PERSIS dalam pengembangan peradaban Islam global.


Forum ini dirancang sebagai diskusi terbuka yang memadukan pengalaman lapangan dakwah internasional dengan kerangka konseptual dan strategi gerakan yang berkelanjutan.


Acara tersebut dilaksanakan di PERSIS Youth Center, Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, dan dihadiri oleh berbagai unsur otonom PERSIS.


Islamic Podcast ini menghadirkan Dr. Rosihan Fahmi, M.Hum., filsuf keliling dan pakar studi agama-agama, Bukhori Ramdani, kader Pemuda PERSIS Kabupaten Tasikmalaya yang sepanjang 2025 berdakwah di Filipina, serta istrinya Mery Joy, S.T., seorang mualaf.


Diskusi dipandu oleh Ust. Irfan Jauhary, Lc., yang mengarahkan dialog secara sistematis dan mendalam.


Dalam pemaparannya, Bukhori Ramdani menjelaskan bagaimana dakwah yang ia lakukan di Filipina berhasil memualafkan 20 orang yang mayoritas berasal dari kalangan pengusaha.


Keberhasilan tersebut, menurutnya, tidak lepas dari pendekatan dialog lintas agama yang menekankan rasionalitas dan kejujuran intelektual.


Ia menegaskan bahwa dakwah tersebut dilakukan melalui pola dekonstruksi, bukan dengan pemaksaan atau penyerangan emosional.


“Dialog dibangun dengan mempertanyakan keabsahan ajaran Katolik yang dianut lawan bicara, sehingga mereka terdorong untuk melakukan pencarian kebenaran secara mandiri,” ujarnya.


Bukhori juga menekankan pentingnya buku Parasit Akidah karya Ust. Marsedek yang menjadi rujukan utama selama proses dialog berlangsung.


Buku tersebut dinilai efektif sebagai instrumen dakwah argumentatif yang mampu membongkar problem teologis secara runtut dan komunikatif.


Sementara itu, Mery Joy, S.T. juga membagikan pengalamannya berdialog dengan calon suaminya hingga memutuskan memeluk Islam.


Ia juga mengisahkan tantangan pasca mualaf, baik dari tekanan keluarga, lingkungan sosial, hingga dinamika psikologis yang harus dihadapi dalam konteks minoritas Muslim di Filipina.


Mery Joy turut menggambarkan kondisi konflik antar kelompok agama di Filipina yang kental dengan unsur politik, kekerasan, dan kepentingan kekuasaan.


Situasi tersebut, menurutnya, menuntut pendekatan dakwah yang tidak hanya ideologis, tetapi juga sensitif terhadap realitas sosial dan kemanusiaan.


Menanggapi hal tersebut, Dr. Rosihan Fahmi menegaskan bahwa gerakan dakwah Bukhori Ramdani dan istrinya tidak boleh berhenti sebagai gerakan individu.


Ia mendorong agar perjuangan tersebut ditransformasikan melalui kolaborasi lintas struktur dan potensi, sehingga memiliki daya dorong yang lebih kuat dan berjangka panjang.


Menurut Dr. Rosihan, gerakan dakwah di Filipina harus dimetaforakan sebagai gerakan kolektif Jamiyyah PERSIS, bukan sekadar kiprah personal.


“Dengan kolaborasi kelembagaan, penguatan jejaring, serta pemetaan budaya keagamaan Filipina, dakwah PERSIS dapat berkembang menjadi medan perjuangan peradaban yang terstruktur, berkelanjutan, dan berdampak luas,” tandasnya.


Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari unsur PD Pemuda PERSIS Kabupaten Tasikmalaya, HIMA, HIMI, Pemudi PERSIS, IPP, dan IPPI PERSIS Tasikmalaya.


Islamic Podcast ini diharapkan menjadi titik awal konsolidasi gagasan dan gerakan, sekaligus meneguhkan komitmen PERSIS dalam mengembangkan dakwah global yang kolektif, strategis, dan berorientasi peradaban.


[]

BACA JUGA:

Muskerda II, Pemuda PERSIS Kabupaten Tasikmalaya Siap Internalisasi dan Ekspansi

Reporter: - Editor: Gicky Tamimi