Couple Aktivis Jam'iyyah Ungkap Rahasia Kelola Konflik Saat Berdakwah

oleh Fia Afifah

06 Maret 2026 | 16:16

Dr. H. Haris Muslim, Lc., MA dan Dr. Hj. Gyan Puspa Lestari, Lc., saat menjadi pemateri dalam kegiatan PERSIS Ramadhan Expo 2026.

Bandung, persis.or.id – Pasangan aktivis dakwah inspiratif, Dr. H. Haris Muslim, Lc., MA dan Dr. Hj. Gyan Puspa Lestari, Lc., M.Pd berbagi kisah inspiratif pernikahan mereka, yang menjadi salah satu agenda dari PERSIS Ramadhan Expo 2026.


Kisah awal mereka dirajut melalui wasilah orang tua, meski di tengah perbedaan usia sembilan tahun. Pernikahan mereka sejak 2002 (24 tahun lalu) menjadi pondasi perjuangan dakwah bersama, termasuk studi di Mesir pasca-nikah.


Dalam kesempatan tersebut, Teh Gyan—sapaan akrab Dr. Gyan—mengisahkan awal perjalanan cinta mereka.


"Saya percaya sama orang tua. Kalau orang tua sudah ridho, belum tentu saya akan mendapatkan sosok seperti suami saya saat ini," ungkapnya.


Meski diaku bahwa suaminya bukan tipe romantis, Teh Gyan menekankan keseriusan Ustadz Haris dalam mewujudkan cita-citanya.


Teh Gyan menuturkan, suaminya bertanggung jawab atas akademis kuliah istri setelah menikah. Oleh sebab itu, dirinya menekankan pentingnya bekal sebelum menikah.


“Nikah bukan hanya materi, tapi ilmu, mental, spiritual," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemudi Persatuan Islam (PERSIS) 2014-2018 ini.


Teh Gyan juga berpesan agar menghargai pasangan selagi ada. "Tanpamu, saya tidak akan pernah mendapat ridhonya Allah,” kata dia.


Salah satu tips dari Teh Gyan adalah bagaimana cara memperlakukan suami dengan baik versi ruma tangganya yang sudah berlangsung puluhan tahun ini.


“Saat lelah, suami tetap disambut dan dilepas pergi dengan doa. Biar dia tidak merasa sendiri, ada saya yang selalu menemani," tuturnya.


Sementara itu, Ustadz Haris menceritakan pengalaman 'rantangan' di Mesir, di mana biaya hidup berdua menjadi tanggungan keluarga seperti banyak mahasiswa lain di sana.


"Ketika dua-duanya belajar, tantangannya luar biasa, tapi kita nikmati sebagai mahasiswa yang belajar bersama, di rumah bersama, problem bersama. Aktivitas terkontrol dan terukur, yang penting kuliah lancar," katanya.


Meski begitu, Ia membocorkan salah satu perasaan tentang manisnya menikah. "Dulu kita berdoa sendiri, tapi sekarang berdua. Ada masalah, mengusahakan solusi berdua. Itu luar biasa. Apalagi saat frustasi ada yang menguatkan," akunya.


Pasangan ini juga berbagi tips mengelola perbedaan sifat dan juga cara mengelola konflik agar rumah tangga -terutama yang sama-sama aktivis- dapat berjalan dengan baik.


"Saya dan istri memiliki sifat yang berbeda. Komunikasikan dan cari jalan tengah dari awal untuk meminimalisir konflik. Lebih baik diam daripada ngomong salah. Konflik ada, tapi cari cara untuk menyiasatinya," jelas Sekretaris Umum PP PERSIS ini.


Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perjuangan dakwah bukan sendirian. "Dakwah itu bukan hanya couple, tapi multiple karena support systemnya luar biasa. Dan umat terkecil itu keluarga, kelola dengan baik. Kelola waktu dan ridho seluruh keluarga," paparnya.


Visi misi mereka selaras, bahkan untuk anak semata wayang mereka. "Saya dan istri punya visi, tinggal nanya visi anak. Ssalah satunya sebelum tamat S1, anak tidak boleh menikah," tandasnya.


Foto-foto pernikahan masa lalu, perjalanan berdua, dan momen keluarga menjadi pengingat manis 24 tahun perjuangan mereka dalam dakwah jam'iyyah.


[]

BACA JUGA:

Sekum PERSIS Ustaz Dr. Haris Muslim: Shaum Ramadan Membentuk Karakter Bangsa yang Ideal

Reporter: Fia Afifah Editor: Fia Afifah Rahmah