Ikhtiar Menjaga Tradisi Keilmuan, PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung Hadirkan Forum Mubahatsah

oleh M Aditya Ramadan

26 Mei 2026 | 20:46

Para peserta program Mubahatsah yang merupakan bagian dari pembinaan bagi para muballigh Pemuda PERSIS se-Kabupaten Bandung.

Kabupaten Bandung, persis.or.id — Bidang Dakwah Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) Kabupaten Bandung kembali menggelar program Mubahatsah sebagai bagian dari pembinaan bagi para muballigh se-Kabupaten Bandung.


Kegiatan yang digelar pada Ahad (24/05/2026) ini menghadirkan forum ilmiah yang secara khusus mendiskusikan problematika batasan amilin yang kerap terjadi langsung di tengah masyarakat.


Agenda tersebut menjadi ruang dialektika ilmiah antar muballigh dalam membedah persoalan-persoalan fiqih dakwah, khususnya terkait status, batasan, dan implementasi amilin dalam praktik sosial kemasyarakatan.


Ketua Bidang Dakwah PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung, M. Aditya Ramadhan, menekankan pentingnya menghadirkan tradisi dialektika ilmiah dalam proses peningkatan kualitas keilmuan para muballigh.


Melalui forum ini pula, peserta tidak hanya membahas persoalan hukum, tetapi juga melatih ketajaman berdilalah atas permasalahan yang berkembang di masyarakat.


“Dialektika harus dihadirkan dalam peningkatan keilmuan. Maka dari itu, Bidang Dakwah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi seluruh muballigh di tiap pimpinan cabang agar memiliki ruang diskusi dan pembahasan ilmiah yang sehat,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa forum Mubahatsah bukan sekadar ruang bertukar pendapat, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan budaya bertanya, mengkritisi, dan memperdalam persoalan dakwah berdasarkan manhaj ilmiah.


Dalam sambutannya, Ketua PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung, Ustaz Hanafi Anshory, turut memberikan pandangan mengenai pentingnya adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Ia mengutip salah satu penjelasan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini tentang pentingnya kualitas pertanyaan dalam proses belajar.


(Husnus-su’āli nishful-‘ilmi) حُسْنُ السُّؤَالِ نِصْفُ الْعِلْمِ


Artinya: “Pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu.”


Menurutnya, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kualitas pertanyaan sangat menentukan kualitas pemahaman seseorang.


Banyak pintu ilmu terbuka karena lahirnya pertanyaan yang jernih, tulus, dan tepat sasaran. Sebaliknya, kebingungan sering kali muncul akibat enggannya seseorang bertanya atau karena pertanyaan yang tidak dibangun di atas adab dan kebutuhan terhadap ilmu.


Atas dasar itulah, kata dia, Mubahatsah Bidang Dakwah hadir sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk memfasilitasi lahirnya ragam pertanyaan yang baik, ilmiah, dan manhajiy.


“Forum ini bukan hanya ruang diskusi, melainkan wasilah untuk menumbuhkan tradisi berpikir, berdialog, dan mendalami persoalan dakwah dengan bimbingan ilmu,” ungkapnya.


Kegiatan tersebut menghadirkan empat pemantik dan pembanding dari berbagai Pimpinan Cabang (PC). Ustaz Hari Nugraha dari PC Kutawaringin dan Ustaz Dindin A. Tohidin dari PC Banjaran hadir sebagai pemantik utama.


Adapun Ustaz Hendra Rizaludin dari PC Bojongsoang serta Ustaz Khoerurijal dari PC Banjaran bertindak sebagai pembanding dalam jalannya diskusi.


Program Mubahatsah ini berjalan paralel dengan program Bidang Pendidikan, yakni Kajian Manhajiy, yang mengangkat tema serupa. Perbedaannya, Mubahatsah menjadi forum bebas diskusi antar muballigh untuk mengurai berbagai persoalan dan kemungkinan wajhul istidlal dari dalil yang digunakan.


Sementara Kajian Manhajiy lebih berfokus pada penyelesaian dan penjelasan ilmiah yang disampaikan langsung oleh para asatidz dari Dewan Hisbah maupun Sekretariat Dewan Hisbah Persatuan Islam.


Melalui agenda ini, PD Pemuda PERSIS Kabupaten Bandung berharap lahir berbagai pertanyaan yang menjadi gerbang pembuka ilmu-ilmu syar’i, memperluas wawasan dakwah, sekaligus mengokohkan semangat belajar di tengah para kader dan muballigh.


Karena itu, kata dia, seluruh Ketua PC, Muballigh PC, dan Muballigh PD didorong untuk senantiasa hadir dan berpartisipasi aktif dalam agenda pembinaan tersebut.


Kehadiran para asatidz dan penggerak dakwah diharapkan mampu memperkuat suasana ilmiah serta mengantarkan para peserta menuju pemahaman dakwah yang lebih matang dan berlandaskan Al-Qur’an serta As-Sunnah sesuai pemahaman para ulama.


“Semoga forum ini menjadi majelis yang diberkahi Allah Ta’ala; tempat bertemunya keikhlasan, adab dalam menuntut ilmu, serta semangat mengokohkan dakwah di atas bimbingan wahyu,” harapnya.


[]

BACA JUGA:

Lewat SIDAK Ramadan, PD Pemudi PERSIS Kabupaten Bandung Ajak Kader Refleksi dan Silaturahmi di Bulan Suci