Arafah – Pembimbing Haji Khusus PT Karya Imtaq, Drs KH Uus Muhammad Ruhiat menyampaikan pesan mendalam mengenai persatuan umat, keadilan sosial, dan kemanusiaan saat menyampaikan Khutbah Arafah di hadapan jemaah haji khusus pada puncak prosesi wukuf, 9 Dzulhijjah 1447 H.
Dalam khutbahnya, KH Uus mengingatkan keagungan Hari Arafah sebagai momentum ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala memuliakan waktu tersebut dan menyatukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Baik jemaah yang sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah maupun kaum muslimin yang menjalankan ibadah Puasa Arafah di tanah air, semuanya berada dalam satu ikatan spiritual yang kuat.
"Hari ini adalah hari di mana kita dipersatukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hari ini adalah hari yang agung, hari yang mulia, yanzi-lu Rabbuna ilas-sama'id dunya (Tuhan kita turun ke langit dunia)," ujar KH Uus di hadapan jamaah yang khusyuk mendengarkan.
Ia menekankan, di Padang Arafah, seluruh perbedaan identitas duniawi melebur menjadi satu. Tidak ada sekat yang memisahkan antara pejabat dan rakyat jelata, maupun perbedaan warna kulit. Seluruh jemaah berdiri setara (equal) mengenakan pakaian ihram yang sama seraya mengumandangkan kalimat talbiyah.
"Semua equal di hadapan Allah, tidak ada yang berbeda. Baik kopral maupun jenderal tidak ada perbedaan. Kulit hitam, putih, warna kulit itu sama sekali tidak ada perbedaan. Begitu juga tidak ada perbedaan antara menteri dan tukang roti, semua sama di hadapan Allah," tegas KH Uus.
*Meneladani Khutbah Wada’*
Lebih lanjut, narasi khutbah ini membawa jamaah untuk mengambil pelajaran (ibrah) dari Khutbah Wada’ (khutbah perpisahan) yang pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. KH Uus mengingatkan, manusia tidak pernah tahu batas usia dan takdirnya, sehingga setiap kesempatan beribadah di tempat-tempat ijabah harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
KH Uus yang juga Aggota Dewan Hisbah PP PERSIS menambahkan, ada tiga pilar kemanusiaan yang digarisbawahi oleh Rasulullah dalam Khutbah Wada' yang kembali digaungkan oleh khatib, yaitu larangan keras menumpahkan darah (pembunuhan), larangan mengambil harta orang lain secara batil, serta kewajiban menjaga kehormatan sesama muslim.
"Nabi berpesan: Inna dima'akum wa amwalakum wa a'radhakum haramun 'alaikum (Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram bagi sesamamu). Tidak boleh ada orang yang mengambil, merendahkan diri, merendahkan bangsa lain, merendahkan yang lain sesama muslim," terangnya.
*Pemuliaan Perempuan dan Keadilan Ekonomi*
Dalam suasana penuh khidmat ini, KH Uus juga mengulas secara khusus wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang sangat terhormat. Para suami diminta untuk membimbing istri mereka dengan penuh kelembutan dan kesabaran, mengingat perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.
"Ingatlah kalau menasihati perempuan, menasihati istri-istrimu itu dengan penuh kelembutan. Jaga istrimu karena memang istrimu itu adalah titipan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan titipan dari kedua orang tuanya. Ittaqullaha fin-nisa' fa innakum akhadztumuhunna bi amanatillah," kutip KH Uus mengingatkan jamaah.
Di akhir khutbah, KH Uus memberikan peringatan keras mengenai pentingnya menjaga kebersihan sistem keuangan dari praktik riba. Mencontoh tindakan Rasulullah yang pertama kali menghapuskan riba kerabatnya sendiri (Abbas bin Abdul Muttalib) pada masa jahiliyah, umat Islam saat ini dituntut untuk membersihkan lalu lintas ekonomi mereka dari unsur-unsur yang diharamkan agama.
"Jangan ada lagi lalu lintas ekonomi berkaitan dengan riba. Karena riba itu jika tidak ditinggalkan, fa'dzanu biharbim-minallahi wa Rasulihi, izinkan berperang dari Allah dan Rasul-Nya," pungkas khatib menutup khutbahnya dengan peringatan yang tegas.
Prosesi Khutbah Arafah ini berlangsung dengan khidmat, menjadi sarana muhasabah bagi jamaah PT Karya Imtaq untuk membawa perubahan perilaku yang nyata, baik dalam hubungan sosial, keluarga, maupun profesional, sekembalinya mereka ke tanah air nanti.
BACA JUGA:Kabid Dakwah PP PERSIS Tanggapi Isu Tawaf Sunnah dengan Pakaian Ihram