Subang, persis.or.id — Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) menghadiri aksi penanaman 1.000 bibit mangrove dalam rangka memperingati Hari Mangrove Internasional di Pulau Burung, Desa Mayangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan ini merupakan aksi kolaborasi antara Pertamina Hulu Energy Offshore North West Java (PHE ONWJ), PD Pemuda PERSIS Kabupaten Subang, Gusdurian Subang, dan Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat (KKPM) Mayangan.
Dari jajaran PP Pemuda PERSIS, hadir secara langsung Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) Andri Nurkamal, Ismail Insan Kamil sekbid Politik dan Keamanan, Ade Rahmat dari Bidang Lingkungan Hidup serta Khoirul Rizky dari Lembaga Media PP Pemuda PERSIS.
Dalam sambutannya, Ade Rahmat menyampaikan apresiasi mendalam atas terlaksananya sinergi ini sebagai langkah nyata memulihkan ekosistem pesisir Pantai Pondok Bali di Desa Mayangan, Kabupaten Subang.
Ia menekankan bahwa pengikisan pesisir di wilayah Subang saat ini telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
"Aksi kolaborasi ini merupakan langkah penting untuk mengembalikan ekosistem pesisir Pantai Pondok Bali, Desa Mayangan. Kondisi pengikisan pesisir di Kabupaten Subang masuk dalam kategori sangat mengkhawatirkan, dengan akumulasi luas daratan yang hilang mencapai ratusan hektar akibat abrasi kumulatif selama beberapa dekade," ujar Ade.
Ia memaparkan bahwa salah satu titik terdampak paling parah berada di kawasan Pantai Pondok Bali, di mana sekitar 192 hektar daratan telah hilang dan tenggelam menjadi laut akibat dampak perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Garis pantai di wilayah tersebut dilaporkan bergeser mundur ke arah daratan hingga sejauh 1,5 kilometer. Secara spasial, laju abrasi terbesar tercatat di Kecamatan Legonkulon dengan luas pengikisan mencapai 885,8 hektar.
Wilayah pesisir Subang yang membentang sepanjang 48–68 kilometer mencakup empat kecamatan utama.
Yakni Legonkulon sebagai wilayah paling kritis dengan kerusakan mangrove tertinggi, Blanakan yang mengalami abrasi sekaligus sedimentasi di muara sungai, Sukasari yang menghadapi ancaman intrusi air laut ke lahan budidaya, serta Pusakanagara yang mengalami pergeseran lahan di dekat area pelabuhan logistik Patimban.
Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan muka tanah (land subsidence) hingga 2,8 sentimeter per tahun di pesisir utara Subang, yang membuat permukiman warga dan ribuan hektar tambak produktif rentan tenggelam secara permanen saat banjir rob.
"Aksi ini merupakan bentuk kolaborasi dalam kebaikan yang mesti kita perluas jaringan kolaborasinya, agar dampak manfaatnya juga bisa dirasakan oleh lebih banyak orang," tegas Ade.
Menanggapi kondisi tersebut, perwakilan Pertamina Hulu Energy Offshore North West Java (PHE ONWJ), Putri, menyampaikan keprihatinan serupa sekaligus komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Kami menyampaikan keresahan yang sama terkait kondisi abrasi di kawasan pesisir Subang. Di samping kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang rutin kami lakukan, momen Hari Mangrove Internasional ini menjadi momentum bersama untuk bertindak nyata," ungkap Putri.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penanaman mangrove secara serempak oleh seluruh elemen yang hadir.
Sebanyak 1.000 bibit mangrove ditanam di kawasan Pulau Burung sebagai simbol komitmen bersama dalam menyelamatkan dan melestarikan kawasan pesisir Kabupaten Subang.
[]
BACA JUGA:PP Pemuda PERSIS Gelar Audiensi dengan Menteri Pertanian Bahas Hilirisasi Komoditas Perkebunan