Oleh: Naufal Syauqi Fauzani, Lc., M. Ag. (Ketua PCI Persis Mesir 2019 – 2021)
Muktamar ke-14 Pemuda PERSIS telah selesai. Sebagai hajat akbar lima tahunan, sudah seyogyanya jika muktamar melahirkan gagasan baru, dinamika baru dan arah pergerakan baru. Namun, tidak dipungkiri bahwa di dalam muktamar senantiasa mengalir aliran-aliran intrik, konflik, bentrokan gagasan, bahkan konfrontasi kubu atau golongan. Jika tidak disaring, hal itu akan melahirkan percikan, riak dan gelombang konflik, hingga perpecahan yang akan menjadi badai di kemudian hari bagi Jam'iyyah Pemuda PERSIS. Oleh karena itu, menjadi satu kebijaksanaan jika kita bercermin kepada sebaik-baiknya generasi yang dididik Nabi Muhammad saw, yaitu para sahabat. Dalam konteks ini adalah konfrontasi Muawiyah dan Ali pasca terbunuhnya Utsman.
1. Konflik yang Terlahir atas Semangat dan Ruh yang Sama
Pascawafatnya Utsman bin affan, umat muslim terbagi kepada dua gagasan. Gagasan pertama adalah mengamankan stabilitas negara dengan segera mengangkat leader tertinggi. Jika tidak, dikhawatirkan api konflik akan semakin membara, yang pada akhirnya akan mengakhiri stabilitas negara. Gagasan ini dipegang oleh Ali dan para pengikutnya. Sementara gagasan lain mengatakan bahwa sebelum pengangkatan leader tertinggi (khalifah) harus diselesaikan terlebih dahulu perkara pembunuhan Ustman dengan menangkap dan menghukum para pelaku pembunuhan, sebagai bentuk keadilan terhadap Ustman. Gagasan ini dipegang oleh Muawiyah dan pengikutnya.
Gagasan keduanya mengalir kepada satu tujuan: agar negara atau organisasi kembali kepada keadaan stabil pascakonflik. Namun, dengan ijtihad yang berbeda. Ali sebagai sahabat yang cerdas dan berlatar belakang jenderal militer berpengalaman sejak zaman Nabi mengedepankan stabilitas negara secara struktural. Di sisi lain, Muawiyah sebagai sosok cerdas, birokrat dan administrator alumni pencatat wahyu ingin ketelitian dan transparansi dalam perkara atau kasus yang tidak bisa dianggap sebelah mata, terlebih korbannya adalah sahabat dan pemimpin negara.
Maka dari itu, perbedaan pendapat sejatinya sesuatu yang lumrah dan biasa (dan harus terbiasa), terlebih jika hal itu dilandasi kepada output yang sama. Tentunya kita sudah mafhum bahwa perbedaan pendapat, gagasan dan konflik yang ada pada muktamar harus didasari niat akan harapan lahirnya jam'iyyah yang lebih baik ke depannya. Bukan semata kepentingan politis atau hanya karena dorongan syahwat semata untuk mencalonkan individu-individu atas landasan suka dan selera.
2. Dari Percikan Awal Hingga Klimaks Konfrontasi: Adab sebagai Imunitas Diri
Puncak dari konflik Muawiyah dan Ali adalah konfrontasi yang melahirkan perang Shiffin. Namun, dalam situasi seperti ini kita akan melihat bagaimana generasi terbaik menata hati dengan adabnya yang luhur. Muawiyah tidak mengambil kesempatan untuk menumpas total kekuasaan Ali, dengan cara bersekutu dengan Romawi Timur. Ketika Ali wafat, maka tidak sekali-kali keluar dari lisan Muawiyah cacian yang ditunjukkan kepada menantu terkasih Rasulullah karena ia merasa puas dan aman akan posisi politiknya. Begitu pun Ali. Tidak pernah Ali mencaci Muawiyah, bahkan Ali menegur para pengikutnya agar tidak mencaci kekuasaan Muawiyah sebagai pemimpin yang sah. Bahkan, Ali yang dianggap sebagai pemimpin sah secara politik, tidak pernah sekali-kali mengharapkan neraka bagi orang yang memeranginya, malah ia senantiasa memohon ampun bagi mereka.
Selain itu, di tengah pertempuran, ada salah satu pasukan Ali berkata, "Sungguh kafir Muawiyah, sungguh kafir pendudukan Syam." Maka Ammar bin Yasir yang masuk kepada koalisi Ali menegur orang tersebut, "Sungguh kita berkonfrontasi hingga mengangkat senjata karena bughat yang dilakukan oleh mereka, bukan karena mereka telah murtad. Sungguh, mereka saudara kita sebagaimana kita satu kiblat dengan mereka."
Terlihat bahwa kematangan seorang leader, kader, dan individu jam'iyyah adalah adabnya. Adab inilah yang akan memberikan imunitas keimanan yang ada di dalam dirinya. Bagaimana pun situasi mencekam, bagaimanapun runcingnya perdebatan yang menyebabkan konfrontasi di gelanggang muktamar, maka kader terbaik adalah yang bisa menata hati dengan adabnya. Bukan hanya yang mampu memberikan argumen yang logis, bukan hanya yang mampu berdebat hingga lawannya merasa berat untuk menyanggah, atau bukan ia yang mampu memenangkan calon yang ia usungkan. Maka, sejatinya kader Pemuda PERSIS yang ideal adalah ia yang beradab.
3. Persatuan dan Rekonsiliasi adalah Harapan yang Selalu Diusahakan
Setelah berkonfrontasi dan berkonflik secara sengit, tetaplah harapan Ali dan Muawiyah sebagai dua sahabat nabi yang mulia adalah persatuan umat dan rekonsiliasi. Oleh karena itu, terjadilah proses arbitrase yang dikenal dengan tahkim daumah al-jandal. Di dalamnya memuat perjanjian dan jaminan, seperti penyelesaian konflik yang dilandasi dengan Al-Qur'an dan Sunnah, memberikan amnesti kepada semua pihak yang berkonflik dan mengedepankan persatuan dan rekonsiliasi. Walaupun belum mencapai hasil maksimal penyatuan golongan atau kubu dalam satu pucuk pimpinan, tetapi setidaknya menghentikan luka yang menganga dengan cara gencatan senjata, tidak mengungkit yang telah bersatu dan tetap berkomitmen kepada kemaslahatan umat.
Kiranya kader Pemuda PERSIS pasca-Muktamar tidak elok merasa di atas angin karena telah berhasil mengantarkan calon pilihannya ke kursi kekuasaan. Begitu juga tidak elok merasa berkecil hati dan merasa gagal karena calon yang diusungnya gagal melanggeng ke kursi kekuasaan. Sejatinya semua kekuasaan milik Allah. Begitu pula tidak pantas kader Pemuda PERSIS merasa lebih baik dan merasa lebih berhak dari yang lain untuk menjadi kader Pemuda PERSIS atau bahkan menjadi pengurus, sehingga mentahzir, memberikan framing atau gaslighting kepada kader lainnya. Justru sejatinya, setalah muktamar tidak penting golongan yang menang dan kalah, tidak penting siapa melenggang dan siapa yang dijegal. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana jam'iyyah ini tetap kokoh dan mengedepankan ukhuwah islamiyah yang diusahakan lewat persatuan dan rekonsiliasi, tidak dengan hegemoni golongan sendiri.
Sejatinya, berintrik, berkonflik, dan berkonfrontasi tidak selalu berkonotasi buruk jika hal itu terlahir dari niat yang tulus, berlandaskan nilai dan adab, serta tetap berada dalam semangat persatuan dan menjunjung tali persaudaraan. Maka yang demikian inilah identitas dari Jam'iyyah Pemuda Persatuan Islam. Ana muslimun qabla kulli syaiin.
[]
BACA JUGA:Jas Muktamar Masuk Laundry, Harapan Baru Mulai Bersemi: Catatan Asyik Muktamar XIV