Bandung, persis.or.id - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Atip Latipulhayat, mendorong Pemudi Persatuan Islam (PERSIS) menyesuaikan strategi dakwah dengan perkembangan zaman, terutama dengan menjangkau ruang digital yang dekat dengan generasi muda.
Pesan itu disampaikan dalam keynote speech pada talkshow rangkaian dalam kegiatan Grand Launching Muktamar Pemudi PERSIS di Balai Kota Bandung, Ahad (11/10/2026).
Prof. Atip mengatakan, dakwah perlu disampaikan melalui bahasa yang dipahami masyarakat pada masanya. Ia kemudian mengaitkan gagasan itu dengan penafsiran Surah Ibrahim ayat 4 tentang penyampaian risalah dengan bahasa kaum yang menjadi sasaran dakwah.
“Dakwah Pemudi sekarang adalah dakwah dengan bahasa zaman. Kalau para Pemudi tidak bisa mengemas bentuk, pola, dan metode dakwah yang mencerminkan ruang tempat Gen Z hidup, dakwah kita seperti berteriak di tengah padang pasir,” ujarnya.
Menurut Atip, banyak anak muda saat ini lebih akrab dengan dunia virtual dan media sosial dibandingkan ruang pengajian konvensional. Karena itu, Ia meminta Pemudi PERSIS memperluas dakwah ke berbagai platform digital dan mengemas pesan secara ringkas serta dialogis.
“Mereka tidak suka paparan yang panjang. Sampaikan satu dalil secara sederhana, tidak lebih dari lima menit. Mereka juga tidak suka digurui; dialog lebih mengena,” kata Atip.
Ia mengingatkan, ruang digital juga dipenuhi beragam konten yang belum tentu benar. Karena itu, kader Pemudi PERSIS perlu hadir dengan konten dakwah yang menarik sekaligus memiliki landasan keilmuan yang kuat.
Selain adaptasi digital, Prof. Atip menekankan pentingnya menjaga tradisi intelektual PERSIS. Ia menilai organisasi dan kader perlu terus belajar agar mampu menghadapi perkembangan di luar lingkungan organisasi. “Ciri khas PERSIS adalah gerakan intelektual. Itu tidak boleh dilupakan, apalagi dilenyapkan,” ucapnya.
Karenanya, Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) PERSIS) ini juga mendorong Pemudi PERSIS merancang program yang memperkuat pengetahuan keislaman dan kepakaran kader perempuan. Ia menyebut pemahaman dasar tentang ulumul Quran, ulumul hadis, serta bahasa Arab sebagai bekal yang perlu dimiliki anggota.
“Setelah berada di Pemudi, harus ada perbedaan. Pasca-Muktamar nanti, saya berharap lahir ulama-ulama dari kalangan perempuan,” katanya.
Selain itu, bagi kader yang menjadi pemimpin, Ia menilai bekal keilmuan perlu disertai wawasan yang lebih luas, termasuk mengenai geopolitik dan geoekonomi. Ia juga mendorong para pemimpin otonom menguasai setidaknya satu bahasa internasional sebagai bekal membuka akses pada pengetahuan dan pergaulan global.
Ia turut mengingatkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah. Menurutnya, kualitas dan keteladanan kader juga dapat menjadi bentuk dakwah. “Dakwah itu menghadirkan yang terbaik karena kita ingin menyampaikan kebaikan. Tidak mungkin kita menyampaikan kebaikan, tetapi diri kita sendiri tidak menunjukkan kebaikan,” ujarnya.
Pada awal sambutannya, Prof. Atip juga menyampaikan harapan agar Muktamar XIII Pemudi PERSIS yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan berjalan dengan bimbingan Allah SWT.
[]
BACA JUGA:Wamendikdasmen Prof Atip Laltipulhayat, Dorong Santri dan Pelajar Seni Ikut Santri Film Festival 2025