Esensi Shaum Ramadan, Kabid Dakwah PP PERSIS: Perisai dan Pengendali Diri dari Serbuan Maksiat

oleh Henri Lukmanul Hakim

02 Maret 2026 | 08:22

Esensi Shaum Ramadan, Kabid Dakwah PP PERSIS: Perisai dan Pengendali Diri dari Serbuan Maksiat

Bandung, persis.or.id - Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Drs. KH. Uus Muhammad Ruhiat, menjelaskan esensi ibadah Shaum Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sebagai perisai yang melindungi diri dari berbagai bentuk kemaksiatan.


Menurutnya, Rasulullah SAW telah menggambarkan shaum sebagai “perisai” atau pelindung. Perisai berfungsi menahan dan menangkis serangan musuh. Dalam konteks ibadah, makna tersebut menjadi simbol perlindungan diri dari godaan dan dorongan negatif.


“Shaum itu tak ubahnya sebuah perisai dan benteng pertahanan. Jika bentengnya kuat, maka serangan musuh akan mental. Begitu pula dengan orang yang berpuasa, ia memiliki perlindungan dari berbagai gangguan dan godaan,” ujar Kia Uus ketika dimintai keterangannya di Kantor PP PERSIS, Bandung, Sabtu (28/2/2026).


Ia menjelaskan, shaum menjadi benteng dari perbuatan haram, baik yang berkaitan dengan makanan, minuman, maupun perilaku. Bahkan, hal-hal yang pada dasarnya halal pun ditahan selama waktu berpuasa sebagai bentuk latihan pengendalian diri.


“Jangankan yang haram, yang halal saja ditahan ketika shaum. Itu menunjukkan bahwa shaum melatih disiplin dan penguasaan diri,” paparnya.


Lebih lanjut, Kiai Uus yang juga Anggota Dewan Hisbah PP PERSIS menegaskan, shaum juga menjadi penghalang dari perilaku dusta, ucapan kotor, hingga tindakan menipu. Orang yang menjalankan shaum dengan benar akan terdorong untuk menjaga kejujuran dan integritasnya.


“Shaum adalah tameng dari serbuan maksiat. Dengan benteng yang kuat itu, godaan setan dan hawa nafsu dapat ditekan,” ujarnya.


Selain itu, Kiai Uus mengingatkan, agar umat Islam tidak memaknai shaum sebatas menahan lapar dan haus, melainkan menjadikannya sebagai momentum pembentukan karakter dan penguatan moral.


“Jangan sampai orang shaum hanya menahan makan dan minum saja. Esensinya adalah membangun benteng diri dari berbagai rayuan dan godaan yang menjauhkan dari kebaikan,” kata KH Uus.


Terakhir, Kiai Uus menilai, jika esensi tersebut dipahami dan diamalkan, maka shaum Ramadan akan melahirkan pribadi yang lebih jujur, disiplin, dan bertakwa. []

BACA JUGA:

Keistimewaan Ibadah Shaum: Amalan Istimewa dengan Balasan Tanpa Batas