Muhammad Syifaurrahman Terpilih sebagai Awardee Beasiswa Penggerak Ekoteologi, Perkuat Gerakan Ekologis Pemuda PERSIS

oleh -

•

05 November 2026 | 11:01

Muhammad Syifaurrahman, Sekretaris Lembaga Studi Sastra dan Kebudayaan Pemuda Persatuan Islam (Pemuda PERSIS).

Oleh: Andri Nurkamal (Wasekum PP Pemuda Persis)


Muhammad Syifaurrahman, Sekretaris Lembaga Studi Sastra dan Kebudayaan Pemuda Persatuan Islam (Pemuda PERSIS), terpilih sebagai penerima (awardee) beasiswa non-gelar dalam program Pelatihan Orientasi Penggerak Ekoteologi yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma). Kegiatan ini berlangsung pada 4–10 November 2026 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.


Keikutsertaan Syifaurrahman dalam program ini diharapkan menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas kader dan pengembangan gerakan Pemuda PERSIS, khususnya dalam merespons persoalan lingkungan melalui pendekatan keagamaan, intelektual, dan kebudayaan.


Pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat dikembangkan menjadi gagasan dan agenda kelembagaan yang berkontribusi terhadap penguatan kesadaran ekologis di kalangan pemuda.


Ekoteologi merupakan pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai ketuhanan, tanggung jawab kemanusiaan, dan kelestarian alam. Dalam perspektif ini, krisis ekologis tidak hanya dipahami sebagai persoalan kerusakan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan moral, spiritualitas, dan cara manusia membangun relasi dengan alam.


Manusia memiliki tanggung jawab keagamaan untuk menjaga keseimbangan kehidupan, menghindari kerusakan, serta memperlakukan alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dipelihara.


Bagi gerakan kepemudaan Islam, ekoteologi dapat menjadi landasan untuk memperluas orientasi dakwah dan gerakan sosial. Persoalan lingkungan perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab keislaman yang diwujudkan melalui pendidikan, pengembangan pengetahuan, advokasi sosial, pemberdayaan masyarakat, dan praktik kehidupan yang berkelanjutan.


Dengan demikian, kepedulian ekologis tidak berhenti pada kegiatan seremonial seperti penanaman pohon atau kampanye kebersihan, tetapi berkembang menjadi kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan yang menyebabkan kerusakan lingkungan.


Sebagai Sekretaris Lembaga Studi Sastra dan Kebudayaan Pemuda PERSIS, Syifaurrahman juga melihat relevansi ekoteologi dengan pengembangan kajian sastra dan kebudayaan.


Sastra dan kebudayaan memiliki peran dalam membentuk kesadaran manusia terhadap alam, merekam perubahan lingkungan, serta mengembangkan pengetahuan lokal yang diwariskan masyarakat. Pertemuan antara nilai keislaman, kebudayaan, dan ekologi menjadi ruang penting untuk mengembangkan perspektif gerakan yang lebih kontekstual.


Selama tujuh hari pelaksanaan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai arah kebijakan dan pengembangan ekoteologi Kementerian Agama, fondasi teologis dan tanggung jawab etis ekologis, kesadaran ekologis, pembacaan krisis lingkungan, hingga penguatan ekosistem dan strategi kolaborasi gerakan ekologis.

BACA JUGA:

Berpikir Secara Sunnah: Panduan Kejamiyyahan Bagi Kader Pemuda PERSIS

Reporter: - Editor: Fia Afifah Rahmah