Oleh: Rahmi Fadilah Zamani, S.Psi. (Kabid Organisasi PP Himi PERSIS Periode 2023-2026)
Tiga puluh tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah organisasi mahasiswa. Dalam rentang waktu itu, ribuan kader telah ditempa, ratusan pengurus silih berganti, dan berbagai dinamika telah menguji konsistensi perjuangan.
Kini, melalui Muktamar XI, Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam (Himi PERSIS) memasuki gerbang baru: mengawali perjalanan dekade keempat.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi "Apakah Himi PERSIS mampu bertahan?" Sebab tiga dekade telah membuktikan jawabannya. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah "Apakah Himi PERSIS masih menjadi kebutuhan zaman?"
Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan refleksi. Sebab sejarah menunjukkan bahwa organisasi tidak kehilangan relevansi karena usianya bertambah tua, tetapi karena gagal membaca perubahan sosial yang berlangsung di sekitarnya.
Hari ini, Indonesia sedang menghadapi perubahan yang begitu cepat. Revolusi digital mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) mulai menggantikan banyak pekerjaan intelektual.
Ruang digital membentuk cara berpikir generasi muda lebih kuat daripada ruang kelas. Di sisi lain, krisis kesehatan mental, budaya instan, menurunnya tradisi membaca, sampai menguatnya krisis identitas menjadi wajah lain dari kemajuan teknologi.
Ironisnya, kelompok yang paling banyak berada di pusaran perubahan itu adalah remaja perempuan dan mahasiswi. Mereka hidup dalam dunia yang menawarkan kebebasan tanpa batas, tetapi sering kali minim arah.
Mereka memiliki akses informasi yang tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya, tetapi belum tentu memiliki kemampuan memilah mana ilmu, mana opini, dan mana manipulasi algoritma.
Mereka lebih sering mengenal tren dibanding tradisi keilmuan, lebih akrab dengan konten daripada buku, dan lebih mudah memperoleh validasi dari media sosial daripada pengakuan atas kualitas intelektual. Di titik inilah keberadaan gerakan mahasiswi muslimah menemukan relevansinya.
Ketika Algoritma Menjadi Guru Baru
Sosiolog Manuel Castells dalam teorinya tentang Network Society menjelaskan bahwa masyarakat modern semakin dibentuk oleh jaringan informasi. Kekuasaan tidak lagi hanya berada pada negara atau institusi formal, tetapi juga pada pihak yang mengendalikan arus informasi.
Dalam konteks hari ini, algoritma media sosial menjadi salah satu aktor yang membentuk cara berpikir generasi muda.
Pertanyaannya sederhana namun cukup mengusik, siapa yang sebenarnya sedang mendidik muslimah muda hari ini? Apakah orang tua? Apakah guru? Apakah kampus? Apakah organisasi kemahasiswaan? Ataukah justru algoritma yang setiap hari menentukan apa yang mereka lihat, pikirkan, bahkan mereka anggap sebagai kebenaran?
Jika ruang pembentukan karakter telah bergeser ke ruang digital, maka gerakan dakwah mahasiswa tidak cukup hanya mengulang pola-pola lama. Ia harus hadir sebagai ruang yang mampu mengembangkan nalar kritis, literasi digital, dan ketahanan moral. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi tempat berkumpul, bukan tempat untuk bertumbuh.
Muslimah Muda Cendekia: Slogan atau Budaya?
Sejak awal berdirinya, Himi PERSIS mengusung falsafah Innama al-‘Ilmu bi al-Ta’allum, sesungguhnya ilmu diperoleh melalui proses belajar. Falsafah ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan hasil dari kesungguhan, pembelajaran, dan pembentukan diri yang terus-menerus (lifelong learning).
Slogan Muslimah Muda Cendekia sesungguhnya mengandung amanah yang besar. Namun, di sinilah ruang refleksi perlu dibuka. Sudahkah slogan itu benar-benar menjelma menjadi budaya kita?
Sudahkah kaderisasi kita lebih banyak melahirkan pembelajar daripada sekadar pendengar? Sudahkah ia melahirkan kader-kader yang berkembang baik secara kualitas daripada sekadar berkembang biak secara kuantitas?
Sudahkah ia melahirkan penulis gagasan daripada sekadar pembaca kutipan? Sudahkah ia melahirkan penggerak gagasan daripada sekadar penggagas gerakan? Dan sudahkah gerakan yang kita bangun betul-betul telah menjadi jawaban atas apa yang masyarakat butuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan capaian Himi PERSIS selama tiga dekade. Justru sebaliknya, ia merupakan bentuk penghormatan luhur terhadap organisasi yang telah cukup dewasa untuk berani mengevaluasi dirinya sendiri.
Sebagaimana dikemukakan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, pendidikan sejati bukanlah proses memindahkan pengetahuan (banking education), melainkan proses membangkitkan kesadaran kritis (conscientization) agar manusia mampu membaca realitas dan mengubahnya.
Dalam konteks itu, organisasi kader seharusnya tidak hanya sekadar mentransfer materi, tetapi juga membentuk cara berpikir yang kritis, reflektif, dan transformatif. Karena organisasi kader tidak cukup hanya melahirkan aktivis. Ia harus melahirkan produsen gagasan strategis.
Dari Organisasi Kader Menuju Gerakan Intelektual Muslimah
Selama ini, ukuran keberhasilan organisasi sering kali berhenti pada jumlah kader, banyaknya kegiatan, atau megahnya agenda tahunan. Padahal, ukuran yang lebih mendasar adalah apakah organisasi tersebut berhasil mempengaruhi cara masyarakat memahami persoalan.
Antonio Gramsci menyebut bahwa perubahan sosial tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kepemimpinan intelektual (intellectual leadership). Sebuah kelompok akan memiliki pengaruh apabila mampu menghadirkan gagasan yang diterima sebagai rujukan oleh masyarakat.
Dalam konteks itulah, Himi PERSIS memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat perannya sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan yang relevan, kritis, dan responsif terhadap dinamika zaman.
Dengan mengoptimalkan potensi kader, tradisi keilmuan, dan jejaring yang dimiliki, Himi PERSIS dapat semakin berkontribusi dalam membangun kepemimpinan intelektual yang memberi arah dan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai organisasi yang secara khusus menghimpun mahasiswi muslimah, Himi PERSIS berada pada posisi yang unik. Ia memiliki ruang untuk membangun tradisi keilmuan perempuan muslim yang tidak hanya berbicara tentang perempuan sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek yang menghasilkan ilmu, riset, pemikiran, dan solusi.
Di tengah kebutuhan akan ruang yang secara konsisten membina mahasiswi muslimah dalam tradisi intelektual Islam sekaligus ilmu pengetahuan kontemporer, Himi PERSIS memiliki peluang untuk mengambil peran sebagai laboratorium lahirnya pemikir-pemikir muslimah Indonesia.
Bukan hanya aktivis yang pandai berbicara di mimbar, tetapi juga penulis yang gagasannya dibaca, peneliti yang risetnya dijadikan rujukan, akademisi yang mempengaruhi kebijakan, serta intelektual yang mampu menjawab persoalan umat dengan argumentasi yang kuat.
Langkah Awal Dekade Keempat
Mengawali dekade keempat perjalanannya, Himi PERSIS memiliki momentum untuk memperluas orientasi gerakannya. Kaderisasi tetap menjadi fondasi utama, tetapi kaderisasi pada akhirnya harus bermuara pada lahirnya muslimah yang mampu memberi makna bagi kehidupan masyarakat.
Tantangan yang dihadapi perempuan, remaja, dan mahasiswi Indonesia hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu.
Persoalan kesehatan mental, kekerasan berbasis gender, disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, banjir informasi dan disinformasi, rendahnya budaya literasi, hingga krisis ketahanan keluarga menuntut hadirnya generasi muslimah yang tidak hanya shalehah secara personal, tetapi juga cakap secara intelektual dan relevan secara sosial.
Karena itu, Himi PERSIS perlu terus memperkuat tradisi keilmuan sebagai identitas gerakan. Budaya membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, dan memproduksi gagasan perlu menjadi kebiasaan yang hidup dalam setiap kader.
Organisasi ini juga memiliki peluang untuk menjadi ruang lahirnya kajian-kajian yang menawarkan perspektif Islam terhadap berbagai persoalan kontemporer, mulai dari isu perempuan, pendidikan, kesehatan mental, keluarga, ekonomi, hingga perkembangan teknologi digital.
Dengan demikian, Himi PERSIS tidak hanya hadir sebagai organisasi yang responsif terhadap isu, tetapi juga mampu menawarkan arah, solusi, dan rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Pada saat yang sama, penguasaan teknologi perlu dipandang sebagai bagian dari amanah keilmuan.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital yang berlangsung sangat cepat, mahasiswi muslimah dituntut tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan mampu memanfaatkannya secara kritis, etis, dan produktif untuk memperluas akses ilmu pengetahuan, memperkuat dakwah, serta meningkatkan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Gagasan-gagasan tersebut juga akan semakin berdampak apabila dibangun melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pesantren, lembaga riset, media, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat.
Dengan cara itulah, Himi PERSIS dapat terus meneguhkan dirinya sebagai ruang bertumbuhnya intelektual muslimah yang tidak hanya mencetak kader organisasi, tetapi juga melahirkan pemimpin pemikiran yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai Islam.
Pada akhirnya, seluruh ikhtiar tersebut kembali kepada falsafah yang sejak awal menjadi ruh organisasi, Innama al-'Ilmu bi al-Ta'allum. Bahwa ilmu tidak lahir dari proses yang instan, melainkan dari kesediaan untuk terus belajar, berdialog, meneliti, dan memperbaiki diri.
Jika semangat ini terus dirawat, Himi PERSIS tidak hanya akan memasuki dekade keempat sebagai organisasi yang matang secara usia, tetapi juga sebagai organisasi yang semakin matang dalam melahirkan muslimah berilmu, berintegritas, dan berdaya guna bagi umat, bangsa, dan peradaban.
Menyongsong Perjalanan Baru
Muktamar XI bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Ia adalah titik jeda untuk bertanya, untuk apa Himi PERSIS akan hadir pada tiga puluh tahun berikutnya?
Jika tiga dekade pertama menjadi fase merintis, mengokohkan, dan memperluas kaderisasi, maka dekade berikutnya adalah kesempatan untuk menghadirkan kontribusi yang lebih bermakna bagi umat dan bangsa melalui kepemimpinan intelektual yang berakar pada ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak organisasi, tetapi juga lebih banyak gagasan yang mencerahkan dan karya yang mampu menjawab persoalan.
Pada akhirnya, yang akan dikenang dari sebuah organisasi bukanlah banyaknya kegiatan atau panjangnya usia perjalanan, melainkan manusia-manusia yang berhasil dibentuknya. Selama semangat Innamal ‘Ilmu bi al-Ta’allum terus hidup dalam setiap kader, Himi PERSIS akan senantiasa menemukan relevansinya.
Sebab, warisan terbaik sebuah organisasi bukanlah bangunan atau jabatan, melainkan lahirnya generasi muslimah yang menjadikan ilmu sebagai lentera, pengabdian sebagai jalan hidup, dan kemaslahatan sebagai tujuan.
Selamat bermuktamar dengan khidmat!
Selamat mengawali perjalanan dekade keempat!
[]
BACA JUGA:Jelang Muktamar XI, Himi PERSIS Perkuat Tata Kelola Organisasi melalui Pra Muktamar