Oleh: Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Ag (Ketua Umum PP PERSIS)
Pendahuluan
Soliditas dan kekompakan merupakan elemen fundamental dalam keberhasilan sebuah jam’iyah dakwah. Tanpa sinergi dan kesatuan kerja, visi dakwah sulit diwujudkan secara berkelanjutan.
Maka seluruh kader jam'iyah harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai normatif yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, teori kepemimpinan dan organisasi modern, serta strategi aplikatif untuk membangun keharmonisan dan efektivitas kerja dalam jam’iyah dakwah ini.
Jam’iyah dakwah Persatuan Islam (PERSIS) adalah organisasi yang mengemban misi dakwah penyebaran nilai-nilai pemurnian Islam. Untuk menjalankan fungsi tersebut, diperlukan struktur yang sehat, hubungan interpersonal yang harmonis, dan komitmen kolektif yang stabil.
Tantangan internal—seperti kurangnya komunikasi, ego sektoral, dan lemahnya koordinasi—seringkali lebih berbahaya daripada tantangan eksternal. Karena itu, membangun soliditas bukan sekadar opsional, tetapi merupakan syarat mutlak keberlangsungan dakwah.
Perintah membangun soliditas atau kekompakan dalam segala aspek kehidupan Islam, apalagi dalm hal perjuangan dakwah, banyak sekali disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits Nabi Saw.
1. Al-Qur’an
QS. Ali Imran: 103. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”Ayat ini menjadi dasar kewajiban menjaga persatuan dan menghindari konflik internal.
QS. Ash-Shaff: 4. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.” Prinsip barisan teratur adalah simbol organisasi yang solid.
2. Hadis Nabi
“الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا”
(Sesama mukmin bagaikan bangunan, saling menguatkan satu sama lain.) – HR. Bukhari dan Muslim.
“يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ”
(Tangan Allah bersama jamaah.) – HR. Tirmidzi.
“من فارق الجماعة شبراً فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه”
(Siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.) – HR. Ahmad.
Dalil-dalil di atas harus menjadi landasan nilai perjuangan Jamiyah yang dengan tegas menyatakan bahwa kekompakan dan soliditas bukan hanya nilai organisasi, tetapi perintah syariat.
Sedangkan secara tinjauan teoretis dalam Ilmu Organisasi, kekompakan diungkapkan dalam beberapa teori. Seperti Teori Kohesi Organisasi, Teori Kepemimpinan Transformasional, dan Teori Manajemen Komunikasi.
Dalam Teori Kohesi Organisasi diterangkan bahwa kesatupaduan sebuah tim organisasi mencakup kohesi tugas, yaitu kesatuan arah dan program; kohesi sosial, yaitu keharmonisan antar anggota; dan kohesi nilai, yaitu kesamaan visi dan komitmen ideologis semua anggota. Ketiga kohesi ini harus hadir secara integratif dalam menjalankan perjuangan jamiyah.
Dalam Teori Kepemimpinan Transformasional diterangkan mengenai apa sikap dan kepribadian seorang pemimpin ideal dalam sebuah organisasi dakwah.
Seperti sikap dan kepribadian yang memberi teladan dengan akhak mulia; mentransformasikan visi dakwah menjadi gerakan kolektif yang nyata bukan hanya sekedar kata-kata indah di atas kertas; dan menggerakkan semangat seluruh jajaran pimpinan serta anggotanya melalui inspirasi, bukan sekadar instruksi-instruksi.
Sedang dalam Teori Manajemen Komunikasi Organisasi diterangkan bahwa komunikasi efektif adalah perekat utama soliditas dan kekompakan organisasi.
Ciri dari manajemen komunikasi organisasi yang baik yang membangun soliditas dan kekompkan adalah menerapkan transparansi program dan anggaran; membuka saluran aspirasi dua arah antara pimpinan dan anggota; dan melakukan evaluasi rutin dan dialog konstruktif.
Selain pemaparan teori-teori di atas, masalah-masalah penting lainnya dalam mewujudkan kekompakan jamiyah adalah faktor kesatuan akidah dan visi organisasi yang jelas; kepemimpinan yang tegas dan amanah; budaya kerjasama seluruh anggota; menerapkan mekanisme musyawarah dalam mengambil keputusan; memanej konflik dengan baik melalui tabayyun, mediasi, dan evaluasi proses; dan pembinaan ruhiah dan pengembangan kader SDM secara berkelanjutan.
Pendek kata, bahwa soliditas dan kekompakan adalah energi utama gerakan dakwah. Dengan menggabungkan landasan syar’i, manajemen modern, dan budaya ukhuwah, jam’iyah dakwah dapat bergerak lebih terarah, stabil, dan produktif.
Tantangan era digital dan dinamika sosial semakin menuntut organisasi dakwah untuk memiliki fondasi persatuan yang kuat, kepemimpinan yang visioner, dan pola kerja yang profesional.
[]
BACA JUGA:Ketua Umum PERSIS Jadi Pembimbing Haji Khusus Tahun Ini