Menimbang Kembali Kritik Atas Tradisi Akhir Tahun Sekolah

oleh Agung Aditya Subhan

24 Juni 2026 | 08:42

Penulis: Agung Aditya Subhan, M. Pd

Tulisan "Sekolah Tanpa Pendidikan: Menyoal Tradisi Nir-Intelektual Akhir Tahun Ajaran" yang ditulis oleh Ade Chairil Anwar pada edisi sebelumnya berangkat dari kegelisahan yang dapat dipahami. Di tengah berbagai persoalan mutu pendidikan nasional, muncul pertanyaan yang sah, apakah kegiatan wisuda, pentas seni, dan study tour benar-benar mendukung tujuan pendidikan atau sekadar menjadi ritual tahunan yang menguras biaya?


Pertanyaan itu penting. Namun, ketika jawaban yang ditawarkan cenderung menghapus atau meminimalkan kegiatan-kegiatan tersebut, kita perlu berhati-hati. Sebab, di sinilah terdapat persoalan mendasar, bahwa pendidikan tidak identik dengan pembelajaran akademik, dan sekolah bukan hanya institusi transfer ilmu pengetahuan.


Tulisan tersebut tampaknya berangkat dari asumsi bahwa aktivitas yang tidak secara langsung berhubungan dengan capaian akademik merupakan aktivitas yang kurang bernilai secara pendidikan. Padahal justru dalam filsafat pendidikan modern maupun Islam, pendidikan selalu dipahami sebagai proses pengembangan manusia secara utuh.


Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak secara serentak. Pendidikan bukan sekadar mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi membentuk manusia yang mampu hidup dalam masyarakat.


Demikian pula John Dewey dalam konsep "Learning by Doing" menjelaskan bahwa pengalaman langsung merupakan bagian integral dari pendidikan. Manusia tidak hanya belajar melalui buku dan ceramah, tetapi juga melalui pengalaman sosial, estetika, budaya, dan interaksi dengan lingkungan.


Jika demikian, maka pertanyaannya bukan "perlukah pentas seni atau study tour?", melainkan "bagaimana membuat pentas seni dan study tour menjadi kegiatan yang benar-benar edukatif?"



BACA JUGA:

Sekolah Tanpa Pendidikan: Menyoal Tradisi Nir-Intelektual Akhir Tahun Ajaran