Oleh: Ade Chairil Anwar (Anggota Dewan Tafkir PP PERSIS)
Setiap menjelang akhir tahun ajaran, kita disuguhkan dengan pemandangan kegiatan akhir tahun sekolah/madrasah/pesantren, mulai dari Ujian Akhir Semester atau sekarang lazim disebut Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ), pembagian rapor, pentas akhir tahun, study tour, dan sebagainya.
Semua tampak baik-baik saja, semua senang, bahagia, dan bergembira menikmati semuanya. Anak kembali pulang ke pangkuan orangtuanya, guru kembali pada aktivitasnya, terus berulang secara simultan, dari jenjang TK sampai SMA berlaku demikian.
Sebagai pemerhati pendidikan, ada kegelisahan yang cukup menggelitik pikiran pada tiap seremonial itu. Meski tak semua sekolah/madrasah/pesantren demikian, tapi sebagian besar lazimnya memiliki tradisi yang tak jauh berbeda. Kegelisahan itu terutama menyangkut tradisi pentas akhir tahun dan study tour.
Mari kita urai satu demi satu:
Pertama, pentas akhir tahun lazimnya terdiri dari dua kegiatan, wisuda dan pentas seni. Wisuda yang semula diberlakukan untuk pendidikan tinggi (Sarjana, Magister, dan Doktor) kini berlaku pula untuk jenjang PAUD, Dasar, dan Menengah.
Uniknya, kostum wisuda anak TK-SMA itu berusaha menyerupai wisuda sarjana, bahkan para pimpinan sekolah pun memakai toga laiknya jajaran senat universitas.
Selanjutnya, pentas seni berupa penampilan kesenian anak. Namun, terkadang ada saja penampilan anak yang berlebihan, misal lagu dewasa atau lagu yang tengah viral dinyanyikan oleh anak-anak di bawah umur (TK dan SD), kostum anak pun dibuat laiknya orang dewasa mini.
Kedua, study tour. Kegiatan ini lazimnya menyasar objek wisata luar kota, asal ramai dan viral, berbondong-bondonglah sekolah berkunjung ke tempat tersebut.
Bahkan, untuk kelulusan, misal anak SD Kelas 6, SMP Kelas 9, dan SMA Kelas 12 terkadang disertai dengan kegiatan menginap dengan dalih malam keakraban (Makrab). Padahal interaksi mereka sudah terjalin selama bertahun-tahun di lingkungan sekolah.
Bagi orang tua dengan berpenghasilan cukup, ini bukanlah beban, tapi bagi mereka yang pas-pasan, sungguh ini adalah beban, tapi ini bukan semata soal beban atau bukan, ini murni tentang kematangan sekolah dalam menyediakan layanan pendidikan bermutu bagi murid-muridnya.
Lantas, bagaimana sebaiknya desain kegiatan akhir tahun dilakukan?
Pertama, kegiatan akhir tahun selazimnya merupakan kegiatan yang merefleksikan aktivitas anak selama setahun pembelajaran, baik aktivitas intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler yang direfleksikan dengan penampilan (performance) kesenian anak.
Mulai dari nyanyian, tarian, atau drama musikal/sinematik sesuai dengan kebutuhan usia perkembangan anak tersebut (kebutuhan fisik, sosial-emosional, kognisi, dan bahasa) dengan tetap memperhatikan norma agama sebagai pijakan utama.
Kedua, sekira ingin tetap dilaksanakan adanya semacam inaugurasi (pelantikan atau pengukuhan) sebagai tanda kelulusan anak pada jenjang TK, SD, SMP, dan SMA.
Maka cukup anak-anak itu memakai seragam sekolah sesuai jenjangnya masing-masing, dipanggil bergiliran menuju podium, kemudian pimpinan sekolah membacakan surat kelulusan dan didoakan agar anak-anak itu sukses di masa depan.
Bisa pula ditambahkan, tiap anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama belajar di sekolah tersebut. Tak perlu ada medali, piala, bunga dan sejenisnya.
Terlebih pembacaan prestasi anak demi anak. Cukuplah itu menjadi portofolio anak yang tercatat dalam sertifikat dan koleksi pribadinya.
Ketiga, kegiatan study tour di akhir tahun yang tak ada relevansinya dengan capaian pembelajaran anak sebaiknya ditiadakan, biaya akomodasi dan transportasi bisa digunakan untuk urusan yang lebih penting dari sekedar jalan-jalan.
Biarlah urusan menikmati keindahan alam, objek wisata viral, dan sejenisnya dilakukan bersama keluarganya, para murid dan orangtua bebas memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan sakunya masing-masing. Sekolah tak perlu repot-repot mengurusi urusan liburan anak didiknya.
Sudah selaiknya sekolah/madrasah/pesantren merevitalisasi program atau kegiatan secara detail berbasis data kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan tetap mempertimbangkan kemampuan finansial orangtua/wali.
Jangan sampai sekolah hadir tanpa (proses) pendidikan, sekolah bukan event organizer (EO) yang berusaha menciptakan kegiatan seremonial yang ramai dan megah semata.
Sekolah adalah institusi ilmiah yang seharusnya sarat akan intelektualitas dan moralitas. Perlu ada keseimbangan antara atkivitas yang dilakukan anak (activity) dengan hasil yang ingin dicapai (output) hari ini.
Kunci dari semua itu adalah perlunya pemikir pendidikan hadir memberikan pencerahan, pemilik sekolah hadir mendampingi pemimpin sekolah dalam menyusun regulasi sekolah yang berkeadaban, serta disambut dengan keberanian pemimpin sekolah untuk keluar dari zona nyaman dan tradisi masa silam, segera eliminasi pikiran-pikiran seputar piknik akhir tahun, selisih angka sewa kendaraan dan penginapan, seragam piknik, dan sebagainya.
Mulailah berpikir progresif bagaimana mendesain pembelajaran yang sejalan dengan kompetensi manusia abad-21 agar anak didik bisa survive dalam menghadapi bonus demografi dan Indonesia Emas di masa depan.
Wallahu a'lam bi al-Shawwab
[]
BACA JUGA:HIMI PERSIS Gelar Sekolah Advokasi: Perempuan Berilmu sebagai Pilar Gerakan Sosial