Dari Gedung Merdeka, Pemuda PERSIS Teguhkan Diri sebagai Arsitek Peradaban

oleh M Aditya Ramadan

12 September 2026 | 19:15

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Persatuan Islam (PERSIS), Hilman Rasyid, M.Pd.

Bandung, persis.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Persatuan Islam (PERSIS), Hilman Rasyid, M.Pd., mengatakan bahwa pelaksanaan Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I Masa Jihad 2026–2031 di Gedung Merdeka memiliki makna tersendiri.


Digelar pada Sabtu (12/9/2026), Muskernas bertajuk “Transformasi Gerakan Membangun Episentrum Dakwah Peradaban” ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah perjuangan dan masa depan gerakan Pemuda PERSIS.


Hal tersebut senada dengan keberadaan Gedung Merdeka. Menurutnya, gedung tersebut bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi merupakan monumen yang menyimpan semangat perjuangan dan keberanian para pemimpin dunia dalam menentukan arah perubahan.


“Gedung ini bukan hanya sekadar bangunan tua berbahan batu dan semen, melainkan gedung ini adalah sebuah monumen hidup tentang keberanian pemuda dan juga para pemimpin dunia pada saat itu,” ujar Hilman dalam sambutannya.


Hilman mengingatkan bahwa Gedung Merdeka menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika. Pada 1955, semangat Dasasila Bandung dicetuskan di tempat tersebut sebagai bagian dari perjuangan untuk meruntuhkan tembok kolonialisme dan merebut hak menentukan nasib sendiri.


Karena itu, menurut Hilman, Gedung Merdeka menjadi simbol keberanian untuk memimpin perubahan dan tidak sekadar menjadi pengekor.


“Gedung Merdeka ini menjadi simbol, simbol keberanian untuk memimpin perubahan global, untuk menolak menjadi pengekor, dan siap berdiri tegak sebagai pilar peradaban,” tegasnya.


Semangat tersebut, lanjut Hilman, perlu menjadi inspirasi bagi Pemuda PERSIS dalam menghadapi tantangan dakwah hari ini. Jika pada masa lalu perjuangan menghadapi penjajahan berlangsung dalam bentuk fisik, generasi saat ini menghadapi bentuk tantangan yang berbeda dan semakin kompleks.


Kini, Pemuda PERSIS dihadapkan pada disrupsi teknologi, pergeseran nilai-nilai sosial, krisis kesehatan mental, tantangan kemandirian ekonomi, hingga krisis moralitas anak muda. Kondisi tersebut menuntut adanya pembaruan yang menyeluruh dalam kehidupan dan gerakan.


“Pemuda PERSIS hari ini dituntut untuk menghadirkan sebuah pembaharuan yang komprehensif, sebuah pembaharuan yang menyeluruh, yang oleh para ahli disebut sebagai Tajdid Syamil,” tuturnya.


Menegaskan Kembali Makna Khairu Ummah


Dalam menjalankan Tajdid Syamil, Hilman menegaskan pentingnya kembali kepada visi dan misi dakwah yang digambarkan Allah SWT dalam QS. Ali 'Imran ayat 110:


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ


Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta'murûna bil-ma‘rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu'minûna billâh, walau âmana ahlul-kitâbi lakâna khairal lahum, min-humul-mu'minûna wa aktsaruhumul-fâsiqûn


Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”


Menurut Hilman, ayat tersebut memberikan gambaran tentang identitas sekaligus amanah umat Islam sebagai khairu ummah atau umat terbaik. Predikat sebagai umat terbaik bukanlah hadiah tanpa syarat, tetapi memiliki tanggung jawab yang harus ditunaikan.


Ia kemudian menegaskan tiga syarat yang terkandung dalam ayat tersebut, yakni iman kepada Allah (tu'minuuna billah) sebagai jangkar spiritual, amar makruf sebagai aksi kebaikan publik, dan nahi munkar sebagai mitigasi terhadap kerusakan moral.


Menurutnya, ketiga prinsip tersebut harus diterjemahkan ke dalam gerakan Pemuda PERSIS. “Redaksi ukhrijat lin-naas juga dalam ayat ini menjadi cetak biru bagi pergerakan Pemuda PERSIS,” katanya.


Ia menegaskan bahwa kader Persatuan Islam tidak dibentuk hanya untuk menjadi individu yang saleh, tetapi juga memiliki tanggung jawab menghadirkan kebaikan, berkhidmat kepada umat, dan meneruskan estafet peradaban Islam.


Khittah sebagai Arah Perjuangan


Hilman melanjutkan, semangat khairu ummah tidak akan menjadi kekuatan gerakan tanpa arah perjuangan yang jelas. Karena itu, khittah memiliki posisi penting sebagai garis yang menjaga identitas dan komitmen perjuangan Pemuda PERSIS.


Khittah Pemuda PERSIS, menurut Hilman, menjadi garis lurus perjuangan dakwah dan kaderisasi yang berasaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.


“Khittah ini adalah jangkar yang menjaga kapal dakwah Pemuda PERSIS ini tetap stabil dalam mengarungi gelombang zaman hari ini,” ujarnya.


Ia mengingatkan bahwa tanpa khittah, gerakan Pemuda PERSIS berpotensi kehilangan nilai dan ruh perjuangannya, bahkan berubah menjadi organisasi kepemudaan yang hanya mengejar popularitas.


Karena itu, masa depan jam'iyyah tidak dapat hanya mengandalkan warisan sejarah. Masa depan Pemuda PERSIS harus dirancang dan diperjuangkan secara bersama-sama oleh kader.


“Masa depan jam'iyyah kita hari ini itu tidak diwariskan. Masa depan jam'iyyah Pemuda Persatuan Islam itu harus dirancang, harus diperjuangkan dalam kebersamaan,” tegas Hilman.


Ia menambahkan bahwa kejayaan jam'iyyah tidak lahir dari romantisme sejarah masa lalu, tetapi harus diperjuangkan dan dirumuskan oleh kader-kader Pemuda PERSIS sebagai arsitek peradaban.


Menerjemahkan Khittah ke dalam Program Nyata


Atas dasar itu, Hilman menegaskan bahwa Muskernas I tidak boleh berhenti pada kesepakatan normatif atau sekadar menghasilkan tumpukan program di atas kertas.


Forum tersebut harus menjadi ruang untuk menerjemahkan kembali khittah dan visi gerakan ke dalam program nasional yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.


“Muskernas ini adalah ruang untuk menghadirkan kembali, untuk menerjemahkan kembali khittah gerakan kita, untuk menerjemahkan kembali visi gerakan kita, sehingga kita membuat sebuah program nasional yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” pungkasnya.


Melalui Muskernas I, Pemuda PERSIS meneguhkan ikhtiar untuk membangun gerakan yang berakar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, memiliki arah perjuangan yang jelas, serta mampu menerjemahkan nilai-nilai dakwah ke dalam kerja nyata.


Dari Gedung Merdeka, semangat sejarah tersebut diharapkan menjadi energi bagi kader Pemuda PERSIS untuk melanjutkan estafet perjuangan dan mengambil peran sebagai arsitek peradaban melalui gerakan dakwah yang terarah, terukur, dan berkelanjutan.


[]


Kontributor: Syifa. N Kamila (Perak 45)

BACA JUGA:

Hilman Rasyid: Pemuda PERSIS Harus Mampu Membaca Realitas Zaman dan Menentukan Posisi Strategis