Sunnah Tadaawul: Kejayaan dan Keruntuhan Suatu Bangsa

oleh Henri Lukmanul Hakim

19 April 2026 | 13:37

Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam, Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Pd.

Allah SWT menetapkan dua hukum bagi umat manusia dan alam semesta. Yang pertama disebut dengan hukum diniyah atau hukum syariat dan yang kedua disebut dengan hukum kauniyah atau sunnatullah.


Hukum syariat merupakan hukum-hukum agama yang mengajarkan bagaimana iman yang benar, ibadah, muamalah, akhlak, dan hukum-hukum syariat atas berbagai pelanggaran perdata dan pidana. Menerangkan tentang balasan atas amal perbuatan melalui hukuman pahala dan dosa, surga dan neraka.


Sedang Sunnatullah adalah hukum-hukum ketetapan Allah pada alam semesta, termasuk pada manusia, yang bersifat tetap dan pasti dalam takdirnya, termasuk didalamnya hukum sebab akibat.


Di antara hukum sunnatullah yang mudah disaksikan oleh mata dan jiwa adalah hukum pergiliran dan perubahan alam semesta. Seperti terjadinya pergantian siang dan malam, kehidupan dan kematian, kejayaan dan keruntuhan dalam kehidupan umat manusia.


Sebagaimana firman Allah Swt:


إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين) آل عمران: 140(


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”


Ayat ini bukan sekadar penjelasan sejarah tentang pergiliran kekalahan dan kemenangan kaum muslimin dalam berperang dengan kaum musyrikin Mekkah, tetapi diagnosis psikologis, sosial, dan peradaban manusia. Bahwa segala sesuatu berjalan dalam siklus: baik manusia sebagai individu maupun sebagai komunitas bangsa.


1. Sunnah at Tadaawul dalam kehidupan individu


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ(الروم: 54] )


“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”


Sejak manusia lahir hingga ia kembali ke Tuhannya, ia berjalan dalam pergiliran kondisi: Dari ketidakberdayaan total—ketika bayi hanya menangis tanpa bisa mengurus diri— hingga kekuatan fisik dan intelektual pada usia muda, lalu memasuki fase kemapanan, hingga fase melemah, ketika penglihatan menurun, langkah melambat, dan tubuh melemah.


Hidup ini berputar, dan manusia yang arif bijaksana adalah yang mampu membaca putaran hidupnya, bukan yang terbawa larut dalam perubahan.


2. Sunnah at-Tadāwwul dalam kehidupan masyarakat dan bangsa


Sama seperti individu, bangsa juga mengalami siklus kehidupan: fase kelahiran nilai dan identitas, fase pertumbuhan ilmu dan kekuatan, fase puncak kejayaan, fase pelemahan dan disintegrasi, bahkan ada yang punah dari muka sejarah.


Ini ditegaskan dalam firman Allah Swt:


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ - (الأعراف :34 )


“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (kejayaan dan keruntuhannya) maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”


وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٌ مَعْلُومٌ . مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ (الحجر: 4، 5)


“Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (nya).”


Setiap bangsa punya ajal, ketika masanya tiba, tidak dapat ditunda atau dipercepat. Sejarah menunjukkan, bangsa yang tegak di atas ilmu, keadilan, kerja keras, integritas, dan kesatuan, akan mengalami kemajuan dalam peradaban.


Dan ketika bangsa itu ditimpa: korupsi, hedonisme, perpecahan, kemalasan, dan jauh dari nilai-nilai ilahiah, maka mereka memasuki fase kemerosotan.


وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا . وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا [الإسراء: 16، 17]


“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.”


Sunnatullah berjalan tanpa pilih kasih, ia berlaku bagi bangsa mukmin maupun kafir. Yang bekerja keras dan berlaku adil akan naik, yang lalai dan zalim akan jatuh.


3. Hikmah hukum pergiliran ini bagi pribadi dan umat


Pertama, agar manusia rendah hati pada saat mendapat kekuatan, kejayaan, dan kemenangan, sebab tidak ada sesuatu kondisi yang abadi. Kekuasaan, harta, jabatan dan kesehatan—semuanya diputar oleh Allah.


Sebaliknya agar jangan sekali-kali larut dalam kesedihan apalagi putus asa di saat gagal, kelah, dan menderita. Semua ada masa dan akhirnya.


Kedua, agar kita selalu waspada dan bersiap menghadapi perubahan. Bangsa atau pribadi yang stagnan akan tergilas oleh sunnatullah.


Ketiga, agar umat Islam bercermin dari sejarah kejayaannya. Umat Islam pernah mencapai puncak peradaban ketika memadukan iman yang kokoh, ilmu yang luas, etos kerja tinggi, dan keberanian menegakkan kebenaran.


Tetapi umat ini melemah dan ahirnya jatuh ketika mengabaikan ilmu, tenggelam dalam perpecahan, dan kehilangan ruh ibadah dan mengkhianati amanah.


[]

BACA JUGA:

Tausiyah di Jambi, Ketum PP PERSIS Sampaikan Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam