Bandung, persis.or.id — Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. KH. Jeje Zaenudin, M.Ag., mendorong Pemuda PERSIS untuk membangun kekuatan organisasi sebagai penggerak episentrum dakwah peradaban.
Hal itu disampaikan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I PP Pemuda PERSIS Masa Jihad 2026–2031 di Gedung Merdeka, Bandung, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Ustaz Jeje, gagasan tentang episentrum dakwah peradaban tidak boleh berhenti sebagai slogan. Episentrum harus menjadi pusat kekuatan yang mampu memancarkan pengaruh dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat, bangsa, dan masyarakat.
“Episentrum adalah titik pusat yang dari sana kekuatan memancar dan memberikan pengaruh ke segala arah,” ujarnya.
Ia menegaskan, pusat kekuatan tersebut pertama-tama harus dibangun melalui manusia atau kader. Gedung, lembaga, maupun teknologi dapat dibangun dan dikembangkan, tetapi kualitas kader menjadi fondasi utama gerakan.
“Pusatnya adalah manusia-manusia yang beriman, berilmu, berkarakter, berkompeten, dan memiliki kepemimpinan,” tuturnya.
Karena itu, Ia mendorong Muskernas I Pemuda PERSIS untuk merumuskan tujuh episentrum strategis sebagai arah pengembangan gerakan.
Pertama, kaderisasi dan kepemimpinan. Pemuda PERSIS harus menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya kader yang dipersiapkan menjadi ulama, intelektual, profesional, pengusaha, aktivis sosial, hingga pemimpin bangsa.
Kedua, dakwah dan pemikiran Islam. Ia menekankan pentingnya mempertahankan karakter tajdid Pemuda PERSIS yang kritis, ilmiah, argumentatif, serta tetap kokoh berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketiga, pendidikan dan intelektualitas. Menurutnya, Pemuda PERSIS perlu memperkuat keberadaan kader di lingkungan kampus, membangun kolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa PERSIS, serta mengembangkan pusat riset dan ruang-ruang akademik sebagai pusat produksi pengetahuan.
Keempat, ekonomi dan kewirausahaan. Menurut Ustaz Jeje, kekuatan dakwah juga membutuhkan kemandirian ekonomi. Ia menyoroti masih adanya kader dari sejumlah daerah yang menghadapi kendala biaya transportasi untuk mengikuti kegiatan organisasi. Karena itu, penguatan ekonomi dan kewirausahaan perlu menjadi bagian dari strategi gerakan.
Kelima, teknologi dan digital. Pemuda PERSIS didorong untuk menguasai kecerdasan buatan (artificial intelligence), data, media digital, industri kreatif, dan teknologi informasi sebagai instrumen dakwah sekaligus pembangunan peradaban.
Keenam, sosial dan kemanusiaan. Pemuda PERSIS harus hadir di tengah berbagai persoalan masyarakat, mulai dari bencana, kemiskinan, kerusakan lingkungan, hingga persoalan sosial lainnya. Ia mendorong penguatan peran tim respons kebencanaan dan kemanusiaan agar kontribusinya semakin luas.
Ketujuh, kepemimpinan kebangsaan dan global. Pemuda PERSIS harus menyiapkan kader yang mampu tampil sebagai pemimpin di tengah masyarakat, bangsa, bahkan di ruang nasional dan internasional.
Ia menegaskan, tujuh episentrum tersebut pada akhirnya harus bermuara pada perubahan cara pandang kader dalam berorganisasi. Pemuda PERSIS tidak cukup hanya mempertanyakan apa yang dapat dikerjakan dalam organisasi, tetapi harus mampu melihat persoalan yang lebih luas.
“Jangan lagi bertanya, apa yang saya kerjakan dalam organisasi? Tetapi, masalah umat apa yang dapat saya selesaikan melalui organisasi?” tegasnya.
Ia berharap, Muskernas I tidak hanya menghasilkan kesepakatan dan dokumen program, tetapi mampu melahirkan arah gerakan yang konkret, terukur, dan memberikan dampak nyata.
Dengan demikian, Pemuda PERSIS tidak hanya menjadi organisasi kepemudaan yang aktif menjalankan kegiatan, tetapi mampu tampil sebagai penggerak episentrum dakwah peradaban yang menjawab tantangan zaman dan memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
[]
Kontributor: Eka Satria K (Perak 45)
BACA JUGA:Dari Gedung Merdeka, Pemuda PERSIS Teguhkan Diri sebagai Arsitek Peradaban