"Dengan mempelajari ilmu tajwid, seseorang dapat membaca Al-Qur'an dengan benar sesuai petunjuk Nabi saw sehingga bisa memahami dan mengamalkannya. Orang yang membaca Al-Quran dengan salah itu berdosa. Orang yang mengamalkan Al-Qur'an akan masuk surga. Adapun orang yang meninggalkannya itu berdosa. Maka ia wajib mempelajari ilmu tajwid."
"Adapun ilmu agama selain tersebut di atas seperti ilmu bahasa Arab, Ushul Fiqh, Ulumut Tafsir, Ulumul Hadits, dan lainnya dan ilmu dunia yang sangat dibutuhkan oleh manusia seperti kedokteran, matematika, biologi, teknologi dan lainnya, maka hukumnya fardhu kifayah. Maknanya, ilmu-ilmu ini jika dipelajari oleh sebahagian orang, maka sebahagian lainnya terbebas dosa. Namun jika tidak ada seorangpun dalam suatu kampung yang mempelajarinya, maka semua orang dalam kampung tersebut berdosa. Ilmu ini menjadi sunnat jika sudah ada orang lain yang mempelajarinya."
Ustaz Yusran yang juga anggota Ikatan Ulama dan da'i Asia Tenggara juga menjelaskan keutamaan menuntut ilmu agama.
"Para ulama sepakat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu yang orangnya mempelajarinya diberi keutamaan dan kedudukan yang tinggi serta menjadi pewaris para Nabi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah ilmu agama."
"Banyak keutamaan orang yang mempelajari ilmu agama. Di antara keutamaannya yaitu :
"Pertama : ilmu merupakan perkara yang diperintahkan oleh Allah swt untuk ditambah. Bukan harta dan bukan pula istri. Ini berdasarkan firman Allah swt, "'Dan katakanlah (Muhammad), tambahkanlah kepadaku ilmu." (Thaha: 114). Allah swt memerintahkan Nabi saw dan umatnya untuk meminta kepada-Nya penambahan ilmu, bukan penambahan harta dan bukan pula istri. Perintah untuk menambah ilmu ini menunjukkan keutamaan ilmu. "
"Kedua : Orang yang berilmu itu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Allah swt berfirman, " Katakanlah (Muhammad), apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu." Pertanyaan dalam ayat ini bermakna meniadakan. Maknanya tidak sama antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang berilmu itu mulia, terhormat dan tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana petunjuk dan mana kesesatan. Adapun orang yang tidak berilmu itu hina, hidup susah dan tidak tahu mana yang benar dan yang salah serta mana petunjuk dan kesesatan."
"Ketiga : Ditinggikan kedudukan orang yang berilmu. Maknanya, dimuliakan di sisi Allah swt dan manusia. Allah swt berfirman, "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (Al-Mujadalah : 11). Para ulama ditinggikan kedudukan mereka di sisi Allah swt dan manusia. Coba perhatiklah bagaimana Allah memuliakan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Thalin dan para sahabat. Perhatikan para imam-imam mazhab dan para ulama sesudah mereka sampai hari ini. Mereka senantiasa disebut namanya, dipuji dan didoakan baik saat mereka masih hidup maupun setelah wafat. Perkataan mereka diikuti oleh umat."
"Kempat : Melahirkan sifat khusyah (rasa takut) kepada Allah swt. Allah swt berfirman, "Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." (Fathir : 28). Sifat takut inilah yang mengantarkan orang yang berilmu masuk ke dalam surga. Orang yang takut kepada Allah pasti ia mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan demikian dia akan masuk surga. Adapun orang yang tidak berilmu, maka ia tidak takut kepada Allah swt. Maka, ia melakukan maksiat baik dengan meninggalkan kewajiban maupun melakukan larangannya.".
"Kelima : Mendapat kebaikan dari Allah swt. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, maka Allah mudahkan pemahaman agamanya dengan mendalam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Allah swt memberikan kebaikan kepada seseorang dengan ilmu. Orang yang berilmu mendapatkan berbagai kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu, ia dimudahkan rezki oleh Allah. Dengan ilmu, ia bahagia di dunia dan di akhirat. Dengan ilmu, ia selamat di dunia dan akhirat."
"Keenam : Dimudahkan jalan menuju surga. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah permudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Dengan ilmu, seseorang dapat beraqidah, bertauhid dan beribadah yang benar. Maka Allah swt permudahkan baginya jalan untuk masuk ke dalam surga-Nya. Namun tanpa ilmu, maka seseorang dapat melakukan kesesatan dan perbuatan haram lainnya. Ini menunjukkan keutamaan ilmu."
"Ketujuh : Mendapatkan pahala jariyah (pahala yang mengalir meskipun setelah meninggal). Rasulullah saw bersabda, "Jika seoranng anak adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)." Seseorang terputus amalannya jika sudah meninggal kecuali tiga amalannya ketika masih hidup. Di antaranya yaitu ilmu yang bermanfaat. Ini menunjuikan keutamaan orang yang berilmu yaitu ia akan selalu mendapat pahala meskipun ia telah meninggal.
"Kedelapan : Dicatat pahala jihad fi sabilillah. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang keluar (dari rumahnya) untuk menuntut ilmu, maka ia (mendapat pahala jihad) fi sabilillah sehingga kembali (ke rumahnya)." (HR. At-Tirmizi). Para ulama sepakat mengatakan bahwa menuntut ilmu itu jihad berdasarkan Al-Quran surat At-Taubah ayat 122 dan hadits ini. Bahkan, menurut sebahagian ulama, ilmu itu lebih utama dari jihad karena ilmu itu landasan jihad dan seluruh ajaran Islam. Dengan ilmu inilah jihad yang dimaksudkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah itu bisa dilakukan dengan benar. Ini menunjukkan keutamaan ilmu."
"Inilah di antara keutamaan menuntut ilmu agama. Masih ada lagi keutamaan lainnya yang belum khatib sampaikan dalam khutbah yang singkat ini. Semoga semua keutamaan ini memberi motivasi kepada kita untuk peduli dan semangat belajar ilmu agama agar dapat meraih semua keutamaan ini." pungkas ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUIMI) Provinsi Aceh []
BACA JUGA:Deep Reading Tak Tergantikan, Teknologi Harus Memanusiakan Manusia