Hilang Satu Nyawa, Satu Bangsa Bercermin: Ketika Moral Kepemimpinan Bertumbuh atau Runtuh

oleh Ismail Fajar Romdhon

30 Agustus 2025 | 14:13

Hilang Satu Nyawa, Satu Bangsa Bercermin: Ketika Moral Kepemimpinan Bertumbuh atau Runtuh

Teladan dari Rasulullah ﷺ dan Khulafā’


1.Nabi ﷺ mendasarkan kepemimpinan pada kasih sayang dan keadilan. Bahkan ketika seorang wanita bangsawan Quraisy terbukti mencuri, beliau menolak tebang pilih dalam hukum, bersabda:


"Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya." (HR. al-Bukhārī dan Muslim)


2.Abu Bakar mengawali kepemimpinan dengan janji: “Yang lemah di sisiku akan kuat hingga haknya kupenuhi; dan yang kuat di sisiku akan lemah hingga hak orang lain kuambil darinya.”


3.Umar bin Khattab hidup sederhana, bahkan berkata: “Bagaimana aku bisa kenyang sedangkan rakyatku lapar?” Ia juga menunda penerapan hukuman hudud ketika rakyat kelaparan, menunjukkan prioritas perlindungan jiwa.


Analisis Perbandingan


AspekIdeal | Syariah | Realitas Kini

Hifẓ al-Nafs | Nyawa dijaga di atas segalanya | Warga sipil gugur akibat aparat
Keadilan Sosial | Kesederhanaan fiskal khalifah | Privilege DPR mencolok di tengah krisis
Amanah | Akuntabilitas penuh di hadapan Allah | Rasa pengkhianatan publik atas kebijakan elite
Shūrā | Musyawarah substansial | Rakyat merasa tidak dilibatkan
Teladan Pemimpin | Sederhana, asketis, adil | Elite tampil dengan simbol kemewahan



Jalan Islahi (Reformasi Moral dan Kebijakan)


  1. Prioritaskan perlindungan jiwa melalui SOP aparat berbasis minimal force.
  2. Hentikan privilese fiskal berlebihan; selaraskan gaji pejabat dengan indikator kesejahteraan rakyat.
  3. Bangun kanal shūrā nyata, melibatkan buruh, mahasiswa, dan ormas dalam kebijakan publik.
  4. Revitalisasi fungsi hisbah modern: badan pengawas independen moral–kebijakan.
  5. Teladan kesederhanaan dari pucuk pimpinan, meniru Rasul dan Umar.


Penutup


Tragedi Affan Kurniawan adalah wake-up call bahwa kepemimpinan tanpa ruh moral dan nilai agama mudah kehilangan legitimasi. Semestinya, para penguasa menegakkan ‘adl, menjaga hifẓ al-nafs, mengelola amanah dengan penuh tanggung jawab, dan merawat rakyat dengan kasih sayang. Sebab sabda Nabi ﷺ jelas:


“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim)


BACA JUGA:

Khutbah Jumat: Pribadi Muslim Sejati