“Inna lillahi wa inna ilahi raji’un Telah meninggal Bapak H. Atep Aminudin Azis (Bendahara PD Persis Garut/ Wakil Ketua HIPPI PP Persis / Sekretaris Bidang Ekonomi MUI Kab. Garut) hari Jumat pkl 23.35 di Klinik Jihan Kudang Wanaraja ... allahumagfirlahu ...,” kiriman ustadz Dr. Gun Gun Abdul Basit di grup WA Jumat Mei 2026 pukul 23.52 WIB. Saya mengetahuinya pada hari Sabtu pukul 04.21 WIB. Rupanya, Bendahara Pimpinan Daerah (PD) Persatuan Islam (PERSIS) Garut telah wafat.
Informasi meninggalnya H. Atep ini tentu membuat syok orang yang mengenalinya. Jumat 29 Mei 2026 setelah Jumatan masih menghadiri pembukaan Training of Trainer Daurah Asatidzah PERSIS yang diselenggarakan PD PERSIS Garut. Kegiatan H Atep di Pesantren Persatuan Islam (PPI) 212 Kudang Wanaraja tersebut terlihat potonya pada pukul 14.25 WIB di grup WA. Namun, sekitar 9 jam kemudian dikabarkan meninggal dunia. Tapi itulah yang terjadi. Ketua PD PERSIS Garut tidak mungkin mengirimkan kabar yang tidak jelas. Apalagi pukul 01.05 muncul poto suasana mensalatkan jenazah di mesjid Assalafiyah Kudang.
Manakala sudah pasti meninggal dunia seseorang tentu yang akan diingat kita adalah hal-hal yang dekat dengan orang tersebut. Benak kita kita pun secepatnya memberikan gambaran. Begitupula terkait dengan H. Atep maka gambaran baik akan cepat muncul dalam ingatan yang mengenalnya.
Keluarga dan Pendidikan
H. Atep bernama lengkap Atep Aminudin Azis. Pria kelahiran Garut 16 Pebruari 1970 ini berasal dari Kudang Wanaraja. Bersama 4 kakak dan 2 adik Atep adalah putra dari pasangan H. Cece Surya dan Hj. Ocih Sutansih.
Usai menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN Ciwalen 2 (Desa Cihuni) Kec. Wanaraja dan SMPN Wanaraja 2 maka Atep kecil melanjutkan studi di Sekolah Peternakan Menengah Atas (SNAKMA) Lembang. Lembaga pendidikan yang kini bernama SMK Peternakan Snakma Cikoleh ini sangat besar mempengaruhi Atep. Hasil studi di Lembang tersebut tidak sia-sia. Sekolah tersebut menjadi bagian dari kesuksesan H Atep.
Jatuh – Bangun Usaha
Keberhasilan bagi suami tiga istri ini tidak datang seketika. Setelah beres dari SNAKMA maka Atep menggunakan ilmunya di dunia peternakan secara nyata. Atep mulai kerja sebagai sales perusahaan ayam Cina. Ia mulai terbiasa dengan berbagai bagian peternakan ayam berupa bibit, pakan, obat-obatan, dan penjualannya. Menggunakan vespa Atep berkeliling untuk bertemu dengan beberapa rekan pekerjaan. Yang ada di benaknya adalah bagaimana menjadi pemilik peternakan yang sukses. Tidak sekedar menjadi pekerja. Oleh karenanya Atep berupaya membangun kemitraan dengan berbagai pihak yang punya kandang. Saking dekat dan luwesnya maka diantara kenalan dan mitra tersebut ada yang kemudian menjadi besan.
Atep menikah dengan istri pertama pada tahun 1993. Kegiatan usaha peternakan pun kini dijalani pula di kampung halamannya. Di Garut bagian timur banyak terdapat kandang ayam yang bermitra dengan Atep. Namun, krisis moneter tahun 1997 mempengaruhi pula iklim usaha peternakan Atep. Akhirnya peternakan Atep bangkrut. Utang banyak ke berbagai pihak.
Pintu takdir masih menyisakan harapan. Maka Atep kemudian pindah ke Ciluluk Tanjungsari Sumedang. Di tempat barunya ini Atep ngontrak rumah yang sangat sederhana dan sempit. Ketiadaan dana nyaris mengantarkan ke posisi meminta-minta. Dengan berbagai keterbatasan maka Atep mulai merintis usaha sapi. Setelah berjalan beberapa saat hasilnya seperti ketika berusaha ayam broiler, bangkrut. Utang pun semakin bertambah banyak.
Di tengah-tengah ketidak-jelasan ekonomi tersebut Atep bertemu teman semasa di SNAKMA. Adalah H Didi yang mempunyai peternakan sapi di Subang. Dari Tanjung sari ke Subang tersebut Atep menggunakan kendaraan umum seperti angkot. Dalam usaha ini Atep tidak mau digaji. Bagi hasil adalah menjadi pilihan Atep. Posisi Manajer Kandang ditempati Atep di peternakan H Didi ini. Dengan kerja keras dan kerja ikhlas inilah maka Atep memasuki titik terang. H Didi mempercayakan pengambilan sapi, termasuk dari Santori yang bertempat di Lampung.
Belasan tahun berusaha kini telah memperlihatkan hasilnya. Bermodal kerjasama di Subang tersebut maka Atep mulai membuka peternakan sendiri. Tampilan di Tanjungsari kini telah berubah. Satu persatu utang diselesaikan. Setelah lunas maka perluasan usaha dilakukan bersamaan dengan penambahan aset. Kepercayaan dari Santori terhadap Atep berimbas kepada berbagai hal. Maka standarisasi beberapa RPH di Bandung dibantu Atep sehingga memenuhi standar pemotongan internasional.
Aktif di Organisai PERSIS
Kesuksesan bisnis ini tidak membuat Atep lupa diri. Rasa syukur tersebut H Atep manifestasikan dalam mendukung dakwah dan pendidikan di kampung halamannya. Kudang beberapa tahun terakhir terlihat perkembangannya sangat pesat. Meskipun tinggalnya tidak di Garut tapi peran sertanya terlihat di kampung halaman.
Keaktifan dalam dakwah dan pendidikan demikian mendorong saudara-saudaranya membujuk H Atep agar kembali secara total ke Kudang. Maka rumah kakeknya yang berada di depan mesjid Assalafiyah Kudang kemudian telah dimiliki. “Ustadz! Ieu téh bumi pun lanceuk nu calikna di Sumedang (Ustadz! Ini adalah rumah kakak saya yang tinggal di Sumedang),” ucap pak Ma`mun ke saya beberapa tahun yang lalu setelah mengisi jadwal pengajian PD PERSIS Garut. Adik H Atep ini memberitahu saya tentang posisi rumah tersebut yang dimiliki H Atep.
Sekitar tahun 2015 H Atep kembali ke Garut dengan menempati rumah di Kudang. Beberapa tahun ke belakang H Atep mendukung dakwah dan pendidikan secara pembiayaan dari belakang. Setelah 2015 maka jabatan pun dipercayakan oleh masyarakat. Mulai dari Mudir ‘Am hingga Ketua Pimpinan Cabang (PC) PERSIS Wanaraja pernah dipegang bapak delapan anak ini. Pengorbanan secara maliyah (harta) kini dilengkapi perjuangan secara badan. Tahun 2018 membuka obyek wisata Salegar tidak murni bisnis. Kegiatan dakwah dan pendidikan sering dilaksanakan dari level Jamaah hingga PP PERSIS.
Keaktifan dan peran yang terasa menyebabkan H Atep naik tingkat wilayah pengabdiannya. Di periode kepemimpinan ustadz Ena sebagai Ketua PD PERSIS Garut kakak pak Ma`mun ini menjadi pengurus Himpunan Pengusaha PERSIS Garut. Di periode ustadz Dr. Gun Gun adik pak Budi ini menjadi Bendahara PD PERSIS Garut. Beberapa waktu kemudian menjadi pengurus MUI Kabupaten Garut. Di level nasional H Atep menjadi Wakil Ketua Himpunan Pengusaha (HIPPI) PERSIS Pusat.
Secara fisik penampilannya kecil. Namun semangat, cita-cita, dan kiprahnya sangat besar. Sehingga berbagai pihak yang mengetahui pribadi dan perjuangannya akan mengalami keterguncangan. Seolah-olah tidak percaya H Atep meninggal dunia. Beliau tutup usia di umur 56 tahun.
Pelajaran Sangat Berharga
Beberapa hal yang penulis dapatkan dari almarhum H Atep ialah: pertama, Prinsip kemandirian. Bekerja pertama kali di Lembang di milik orang lain itu hanya sebentar, sekitar dua tahun. Kemudian ia merintis di Garut dengan membuka kandang sendiri. Ketika mengalami kerugian dan kebangkrutan tidak mematahkan semangat untuk terus mandiri. Seribu satu jalan H Atep tempuh. Termasuk di tangga bisnis menuju keberhasilan di Subang. Sampai akhirnya menjadi H Atep yang terkenal sekarang. Kedua, H Atep berprinsip Khoirunnaas anfauhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat kepada kepada yang lainnya. Dengan kekayaan yang dimiliki H Atep tidak melupakan kebaikan bagi yang lain. Seluruh aset bisnisnya diupayakan memberikan manfaat kepada masyarakat dan organisasi. Ketiga, “Jadi muslim teh wajib beunghar sabab jihad mutlak butuh biaya (Jadi muslim itu mesti kaya, karena jihad memerlukan biaya),” ujar H Atep dalam beberapa kesempatan. Memang keberadaan dan keberhasilan dakwah sedikit – banyak dipengaruhi keberadaan harta. “Meninggalnya H Atep meninggalkan berbagai urusan terkait keluarga dan usaha itu tidak apa-apanya dibandingkan berbagai amanah yang selama ini ia pikul,” ujar kang Ma`mun.
“Tangtosna urang sedih. Tapi urang kedah yakin ogé percaya karna ieu mangrupikeun takdir ti Allah Subhänahu wa Ta’älä kanggo anjeunna nu pang saé-saéna (tentunya kita sedih. Tapi kita harus yakin dan percaya karena ini adalah takdir dari Allah Subhänahu wa Ta’älä bagi beliau yang terbaik),” ucap Bupati Garut. Dr. Abdul Syakur Amin juga memberikan penilaian yang sangat positif kepada H Atep. “Saémut abdi anjeuna jalmi saé, panutan masyarakat dina widang ekonomi, peternak, ogé pengusaha restoran. Seueur nu tiasa dambel di tempat anjeuna (Seingat saya beliau orang baik, panutan masyarakat dalam bidang ekonomi, peternak, dan pengusaha restroran. Banyak yang bisa bekerja di tempat beliau),” jelas mantan Rektor Universitas Garut ini. “Anjeuna conto nu saé kanggé anfa’umum linnas. Meski sibuk usaha masih nyempetkeun ngarawat ogé ngajaga umat ku aktif di organisasi, khususna di PERSIS (Beliau contoh yang bagus terkait anfa’uhum linnas. Meski sibuk usaha masih menyempatkan memelihara dan menjaga umat dengan aktif di organisasi, khususnya di PERSIS),” tegas Dr. Syakur.
“Atas nami PP PERSIS simkuring ngadugikeun ta’ziah duka cita nu kalintang jerona tina qolbu sanubari atas wafatna wargi urang sadaya bapak H Atep (Atas nama PP PERSIS saya menyampaikan taziah duka cinta yang sangat dalam dari hati yang paling bersih atas meninggalnya teman kita bapak H Atep),” ucap Ketua Umum PP PERSIS. “Mari kita mengambil pelajaran perjuangan dan kegigihan H Atep dengan ambisinya. Beliau ingin melahirkan pejuang dakwah di bidang ekonomi. Ia Ingin melahirkan saudagar-saudagar seperti Abdurrahman bin ‘Auf, yang menjadi pejuang-pejuang dakwah melalui maliyah. Jejak langkah beliau mudah-mudahan jadi spirit untuk kita semua,” ucap Dr. H. Jeje Zaenudin. “... namun, Allah Subhänahu wa Ta’älä lebih mencintai beliau, mendahulukan memanggil beliau lebih awal yang tidak pernah kita duga, kita yakin ini yang terbaik bagi beliau,” jelas ustadz Jeje.
Semoga Allah Subhänahu wa Ta’älä mengampuni segala khilaf dan dosanya, menerima amal kebaikannya, dan menempakatnya pada tempat yang terbaik. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan. Semoga akan lahir ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang baru. Amin ya Rabbal’alamin. (Yusup Tajri)
BACA JUGA:Kemandirian Ekonomi dan Masa Depan PERSIS