HAN 2026: Wamen Dikdasmen Prof. Atip Latipulhayat Tegaskan Komitmen Pemenuhan Hak Pendidikan Inklusif dan Berkualitas

oleh Andri Ridwan Fauzi

26 Juli 2026 | 19:07

HAN 2026: Wamen Dikdasmen Prof. Atip Latipulhayat Tegaskan Komitmen Pemenuhan Hak Pendidikan Inklusif dan Berkualitas

TANJUNGPINANG - Penuh asa, kebahagiaan dan keceriaan ratusan anak menghidupkan suasana Main Raya Anak Nusantara, yang menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026, di Halaman Tugu Sirih Gurindam 12, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis (23/7).


Di bawah langit cerah, mereka berlarian, mencoba aneka permainan tradisional, dan menghidupkan kembali memori kolektif bangsa yang mulai terkikis zaman. Hari itu, ruang publik kota menjelma menjadi arena gembira anak.


Acara yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 ini mengusung tema besar: “Sayangi Anak, Lindungi, Bangun Masa Depan; Semua Setara, Riang bersama.” Melalui permainan tradisional, pemerintah berupaya menghadirkan ruang bermain inklusif yang menyatukan anak-anak dari berbagai latar belakang untuk belajar dan berinteraksi tanpa sekat.


Kemeriahan ini bukan sekadar pesta pora musiman. Kehadiran tokoh-tokoh penting, Ketua Umum Solidaritas Perempuan untuk Indonesia Kabinet Merah Putih (Seruni KMP) Selvi Gibran Rakabuming, Wamen Dikdasmen Atip Latipulhayat, Menteri PPPA Arifah Fauzi, hingga Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Ketua TP PKK Kepulauan Riau Dewi Kumalasari Ansar, Kepala BPMP Kepulauan Riau Warsita dan stakeholder lainnya, memperlihatkan adanya komitmen kuat lintas sektor. Mereka hadir bukan hanya untuk menonton, melainkan memastikan bahwa negara hadir dalam memenuhi hak anak atas rasa aman dan bahagia.


Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. H. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D. menegaskan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 harus menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi hak anak memperoleh pendidikan yang berkualitas.


Menurutnya, proses belajar anak harus disesuaikan dengan fase tumbuh kembang mereka, yakni melalui aktivitas bermain yang menyenangkan.


“Hari Anak Nasional bukan hanya perayaan yang bersifat seremonial, akan tetapi momentum bagi kita semua untuk mengingatkan dan menguatkan bahwa anak-anak adalah harapan masa depan kita. Untuk mencapai masa depan yang lebih baik, tentunya harus mempersiapkan pendidikan yang lebih baik, pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak kita,” ujar Atip.


Ia menambahkan, pembelajaran bagi anak perlu dilakukan sesuai dengan karakteristik usia mereka. Karena itu, pendekatan bermain sambil belajar dinilai menjadi cara yang tepat dalam mendukung perkembangan anak.


“Anak-anak itu kan pada periode bermain. Jadi pembelajaran bagi anak-anak harus dalam konteks yang sesuai dengan masa tumbuh mereka, yaitu bermain sambil belajar,” katanya


Sementara itu, Muhamad Zaini, M.Kom.I Ketua Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW PERSIS) Provinsi Kepulauan Riau, yang berpartisipasi memeriahkan Peringatan Hari Anak Nasional 2026 tersebut, mengapresiasi komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Diantaranya dengan mengedukasi, melindungi dan memenuhi hak tumbuh kembang anak secara ramah, kreatif dan inovatif.


Zaini menilai peringatan Hari Anak Nasional ini sebagai momentum strategis menyatukan langkah antara pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, serta tokoh pendidikan, dan tokoh agama, untuk mendorong penguatan ekosistem pendidikan yang ramah anak.


"Upaya ini menyatukan langkah seluruh elemen bangsa demi melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, sukses, dan bermartabat", ujar Zaini yang juga seorang akademisi.


Zaini menyerukan agar ekosistem pendidikan—mulai dari rumah hingga sekolah—harus mampu bertransformasi menjadi "tenda kasih sayang". Sebuah lingkungan hangat yang membentengi anak-anak dari ancaman perundungan (bullying) baik psikis maupun fisik. Sekaligus menanamkan karakter integritas berbasis moral agama dan budaya. Karena anak merupakan titipan Ilahi yang wajib dijaga kesucian fitrahnya.


Selaku praktisi komunikasi, Zaini menyoroti tantangan besar pola asuh di era digital modern. Di tengah kepungan gawai yang kerap menjauhkan anak dari realitas sosial, permainan tradisional menjadi oase yang membahagiakan anak-anak. Permainan seperti ini penting untuk dioptimalisasikan di sekolah maupun di rumah, dalam proses meningkatkan kreatifitas anak, dan meminimalisir dampak negatif tontonan tidak mendidik.


Peringatan HAN 2026 ini, meninggalkan pesan kuat bagi seluruh elemen bangsa. Bahwa masa depan Indonesia tidak dicetak melalui tekanan, melainkan dipupuk dari anak-anak yang tumbuh bahagia, percaya diri, dan mendapatkan kesempatan yang setara.


Lewat antusiasme dalam Main Raya Anak Nusantara, anak-anak telah membuktikan satu hal: ruang belajar yang menyenangkan selalu berhasil melahirkan kepedulian, kebersamaan, dan anak karakter yang kokoh, untuk menyiapkan aset terbesar masa depan bangsa.

BACA JUGA:

Wamendikdasmen Prof Atip Laltipulhayat, Dorong Santri dan Pelajar Seni Ikut Santri Film Festival 2025

Reporter: Andri Ridwan Fauzi Editor: Gicky Tamimi