Bandung, persis.or.id – Menanggapi maraknya akun-akun liar yang mencatut nama dan atribut organisasi untuk memecah belah umat, Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) mengimbau seluruh kader dan simpatisan untuk lebih selektif dan menyaring setiap informasi yang beredar.
Hal ini harus dilakukan mengingat riuh rendahnya jagat digital hari ini yang menuntut kewaspadaan lebih tinggi dari seluruh warga jam’iyyah.
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi PP PERSIS Dr. H. Ihsan Setiadi Latief M.Si, menyoroti bagaimana kebebasan berekspresi di media sosial (medsos) kerap kebablasan.
Menurutnya, era digital saat ini sering kali menjebak netizen pada budaya mengejar viralitas, hingga mengorbankan validitas dan nilai-nilai kebenaran.
Menurutnya, saat ini, siapa saja bisa membuat akun atau konten demi mengejar engagement. Dampaknya, batasan antara kebenaran dan hoaks menjadi makin kabur.
"Kita harus waspada terhadap akun-akun yang menggunakan identitas PERSIS, namun narasinya justru bernada provokatif, mengadu domba antar-ormas, ormas-pemerintah atau mendiskreditkan pihak lain," ujar Ihsan di sela-sela aktivitasnya di Bandung, Kamis, 2 Juli 2026.
Strategi Literasi Digital Organisasi
Menyikapi tantangan ini, PP PERSIS melalui Bidang Informasi dan Komunikasi (Bidang Infokom) terus memperkuat koordinasi dengan berbagai penyedia platform digital guna meminimalisasi ruang gerak akun-akun palsu tersebut.
Kendati demikian, pihak jam'iyyah mengakui bahwa pembersihan akun fake atau bodong tidak bisa instan karena terbentur regulasi global masing-masing platform.
Sebagai langkah taktis, PP PERSIS mendorong penguatan ekosistem digital dari internal organisasi. Langkah-langkah yang ditekankan antara lain:
1. Amplifikasi Akun Resmi: Membanjiri ruang digital dengan konten yang bersumber langsung dari portal resmi atau official serta media jejaring Jam'iyyah.
2. Aktivasi Media Wilayah dan Daerah: Menginstruksikan Pimpinan Wilayah (PW), Pimpinan Daerah (PD), Pimpinan Cabang untuk mengelola media sosial secara profesional dan searah dengan garis kebijakan pusat.
3. Edukasi Big Data dan AI: Memperbanyak khazanah literasi digital PERSIS yang kredibel agar algoritma kecerdasan buatan (AI) dapat menangkap referensi yang sahih mengenai pemikiran dan kontribusi PERSIS bagi bangsa.
Budaya Tabayyun di Era Digital
Di akhir arahannya, Ustaz Ihsan mengingatkan bahwa medsos bukan sekadar tempat mencari hiburan atau popularitas sesaat, melainkan medan dakwah untuk membangun peradaban yang damai.
Karenanya, Ia meminta warga PERSIS untuk selalu mengedepankan prinsip tabayyun (konfirmasi) sebelum membagikan ulang sebuah berita.
"Jangan mudah terprovokasi. Jika ada informasi yang meragukan atau berpotensi memicu kegaduhan atas nama Jam’iyyah, segera lakukan cross-check ke saluran komunikasi resmi kita. Mari kita penuhi ruang digital dengan narasi dakwah yang menyejukkan dan ilmiah," pungkasnya.
[]
BACA JUGA:PP PERSIS Sambut Peluncuran PT Sabaris Media Utama sebagai Langkah Kemandirian Jamiyyah dan Transformasi Digital