Ketua DPRD DKI Suhud Alynudin: Pemuda PERSIS Harus Bangun Iman, Intelektualitas, dan Kemandirian Ekonomi

oleh Henri Lukmanul Hakim

25 Juli 2026 | 19:36

Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, M.Sc. pada Muswil IX PW Pemuda PERSIS DKI Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Jakarta, persis.or.id – Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, M.Sc., mengingatkan pentingnya membangun kader muda yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam intelektualitas, keterampilan, dan kemandirian ekonomi. Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan nasihat kebangsaan pada Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Pimpinan Wilayah Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) DKI Jakarta di Rumah Batavi, Semper, Jakarta Utara, Sabtu (25/7/2026).


Dalam arahannya, Suhud mengajak para kader Pemuda PERSIS mengambil pelajaran dari kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Menurutnya, karakter utama para pemuda Ashabul Kahfi adalah keimanan yang kokoh serta kesediaan memperjuangkan keyakinan berdasarkan kesadaran dan pemahaman yang mendalam.


Ia menegaskan bahwa organisasi tidak boleh hanya menjadi wadah seremonial yang sibuk dengan pergantian kepengurusan tanpa meninggalkan hasil nyata. Setiap periode kepemimpinan, kata dia, harus mampu menghadirkan program, capaian, dan fondasi yang kuat bagi generasi berikutnya.


"Organisasi harus memiliki output dan outcome yang jelas. Jangan sampai hanya berganti kepengurusan, tetapi tidak menghasilkan perubahan yang berarti," ujarnya.


Menurut Suhud, proses kaderisasi harus menjadi prioritas utama dalam membangun organisasi. Ia menilai kekuatan seorang kader tidak lahir secara instan, melainkan melalui pembinaan yang berkelanjutan dan terarah.


Ia menjelaskan, terdapat empat aspek penting yang perlu dibangun dalam proses kaderisasi. Pertama, aspek rohiyah atau spiritualitas untuk membentuk keimanan yang kokoh. Kedua, aspek fikriyah atau intelektualitas agar kader memiliki kemampuan berpikir kritis, argumentatif, dan mampu menjawab berbagai tantangan pemikiran di tengah masyarakat.


Ketiga, aspek jasadiyah, yakni penguatan fisik dan keterampilan yang menunjang aktivitas dakwah dan pengabdian. Keempat, aspek iqtishadiyah atau ekonomi agar kader dan organisasi memiliki kemandirian serta tidak bergantung pada pihak lain.


"Kemandirian ekonomi penting dibangun. Organisasi yang bergantung kepada pihak lain berpotensi kehilangan independensinya," kata Suhud.


Ia juga menyoroti pentingnya membangun tradisi keilmuan dan budaya literasi di kalangan generasi muda Islam. Menurutnya, umat Islam harus mampu menghadirkan argumentasi yang kuat dan rasional dalam menghadapi berbagai tantangan pemikiran, terutama di era digital yang penuh dengan arus informasi dan perdebatan terbuka.


Selain itu, Suhud mengingatkan bahwa petunjuk Al-Qur'an tidak cukup hanya dipahami secara normatif, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Salah satu caranya adalah dengan memperdalam kajian sirah Nabi Muhammad SAW sebagai contoh konkret penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam membangun peradaban.


"Al-Qur'an dan Sunnah harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itu generasi muda perlu mempelajari bagaimana Rasulullah membangun masyarakat, mengelola perubahan, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat," ujarnya.


Suhud menilai umat Islam Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan perubahan karena merupakan mayoritas penduduk. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila kualitas sumber daya manusia terus ditingkatkan melalui pendidikan, pembinaan, dan penguatan karakter.


Menutup arahannya, Suhud berharap Muswil IX Pemuda PERSIS DKI Jakarta mampu melahirkan kepemimpinan yang visioner dan meninggalkan warisan program yang bermanfaat bagi organisasi, umat, dan bangsa.


"Setiap periode kepengurusan harus meninggalkan fondasi yang lebih kuat bagi generasi berikutnya. Itulah makna kaderisasi dan keberlanjutan perjuangan organisasi," pungkasnya.

BACA JUGA:

Hadiri Muswil IX, Anggota DPR RI Hoerudin Amin: Pemuda PERSIS Harus Terbuka, Kritis, dan Berbasis Riset