Ketua Umum PP PERSIS: Daurah Ushul Fiqih Wadah Strategis Lahirkan Kader Ulama yang Adaptif terhadap Zaman

oleh Andri Ridwan

•

24 Oktober 2026 | 16:14

Peserta kegiatan Daurah Ushul Fiqih PP PERSIS bersama Badiklat Kader.

“Saya merasa gembira melihat antusiasme peserta. Mudah-mudahan semangat ini terus tumbuh dan menjadi bagian dari kecintaan mereka terhadap ilmu-ilmu keislaman,” katanya.


Lebih lanjut, Ia berharap Daurah Ushul Fiqih mampu menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap kajian keislaman, terutama di kalangan internal kader ulama PERSIS.


Penguatan tradisi keilmuan tidak cukup hanya melalui penguasaan materi, tetapi juga membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesinambungan dalam proses belajar.


“Harapan kami, kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan yang lebih mendalam terhadap kajian Islam, khususnya di kalangan kader ulama PERSIS,” tuturnya.


Ia juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi kajian turats, yakni khazanah keilmuan Islam klasik yang diwariskan para ulama. Tradisi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam dan mengembangkan pemikiran hukum yang memiliki landasan keilmuan kuat.


“Kajian turats harus terus dijaga dan dikembangkan. Warisan keilmuan para ulama merupakan kekayaan intelektual Islam yang perlu dipelajari secara serius dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.


Namun dalam menjaga khazanah keilmuan klasik, lanjutnya, tidak berarti menutup diri dari perubahan zaman. Para kader ulama perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan-persoalan baru yang muncul dalam kehidupan masyarakat, kemudian mengkajinya dengan perangkat keilmuan Islam yang memadai.


“Kita harus mampu menjaga tradisi keilmuan sekaligus merespons dinamika perubahan zaman. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, karena tradisi memberikan fondasi, sedangkan perkembangan zaman menghadirkan persoalan yang perlu dikaji,” jelasnya.


Ia berharap proses pembelajaran dalam Daurah Ushul Fiqh tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga melahirkan ide dan gagasan baru yang bermanfaat bagi pengembangan pemikiran Islam.


Melalui penguasaan ushul fiqh, para kader diharapkan mampu mengkaji berbagai persoalan secara terstruktur, kritis, dan bertanggung jawab.


“Kami berharap dari kegiatan ini lahir ide-ide dan gagasan baru yang dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan kajian hukum Islam dan menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat,” ungkapnya.


Ia juga menekankan, ushul fiqh memiliki peran penting dalam memperkuat pemahaman terhadap hukum Islam. Disiplin ilmu ini membekali para pengkaji dengan metodologi untuk memahami dalil, prinsip penetapan hukum, serta cara mengkaji persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.


“Kecintaan terhadap kajian hukum Islam harus terus ditumbuhkan. Dengan memahami ushul fiqh secara baik, kader ulama memiliki landasan untuk mengkaji persoalan secara mendalam, bukan sekadar melihat suatu masalah dari permukaannya,” ujarnya.


Lebih jauh, Ia mengingatkan ajaran Islam harus terus dipahami dan didialogkan dengan perkembangan kehidupan manusia tanpa melepaskan prinsip-prinsip dasarnya.


Menurutnya, penguatan tradisi intelektual menjadi salah satu jalan agar nilai-nilai Islam dapat terus memberikan panduan dalam menghadapi perubahan sosial, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi.


“Islam selalu relevan dalam perkembangan zaman dan menjadi panduan kehidupan manusia sepanjang masa. Karena itu, kajian Islam harus terus dikembangkan agar umat mampu memahami dan mengamalkan ajarannya secara tepat dalam berbagai keadaan,” tegasnya.


Melalui pelaksanaan Daurah Ushul Fiqih ini, PP PERSIS berharap pengembangan kader ulama berjalan semakin kuat dan berkesinambungan.


Antusiasme peserta diharapkan menjadi awal dari tumbuhnya tradisi belajar yang lebih mendalam, penguasaan khazanah keilmuan klasik, serta kemampuan merespons persoalan kontemporer melalui kajian Islam yang bertanggung jawab.


“Semoga kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk melahirkan kader ulama yang mencintai ilmu, kokoh dalam tradisi, dan mampu memberikan jawaban atas tantangan zaman,” pungkasnya.


[]

BACA JUGA:

PP PERSIS Gelar Daurah Kurikulum dan Perwakafan di PPI 95 Abu Hurairah Sapeken

Reporter: Andri Ridwan Editor: Fia Afifah Rahmah