Khutbah Jumat di Masjid Agung Al Azhar, KH Jeje: Amanah dan Keadilan, Esensi Keberagamaan dan Wujud Ketakwaan

oleh Henri Lukmanul Hakim

•

06 November 2026 | 17:01

Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. KH Jeje Zaenudin, M.Ag

Khutbah Jumat Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. KH Jeje Zaenudin, M.Ag di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026).


Pada Jumat yang penuh keberkahan ini, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita dapat kembali menunaikan ibadah Salat Jumat dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan.


Selanjutnya, marilah kita senantiasa menyampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.


Melalui kesempatan Salat Jumat ini, marilah kita menjadikannya sebagai wasilah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.


Di antara amalan yang paling menguatkan keimanan dan mendekatkan seorang hamba kepada ketakwaan adalah membangun sikap hidup yang amanah dan berlaku adil.


Tidak ada amalan yang dapat mengantarkan seseorang kepada keimanan dan kedekatan dengan Allah SWT melebihi sikap amanah. Demikian pula, tidak ada perbuatan yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada ketakwaan selain berlaku adil.


Sebaliknya, ketika sifat amanah dan keadilan hilang dari diri seseorang, semakin jauh pula dirinya dari nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.


Bahkan, esensi keberagamaan seseorang sangat erat kaitannya dengan sikap amanah. Seseorang tidak dapat dikatakan menjalankan ajaran agama secara utuh apabila sifat amanah telah hilang dari dirinya.


Mengapa amanah begitu penting dalam kehidupan beragama? Karena Allah SWT sendiri menjelaskan bahwa amanah merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:


إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا


Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun, semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (QS. Al-Ahzab: 72).


Ayat tersebut menggambarkan betapa besarnya tanggung jawab sebuah amanah. Langit, bumi, dan gunung-gunung digambarkan tidak sanggup memikulnya, sementara manusia bersedia menerima tanggung jawab tersebut.


Ibnu Abbas menjelaskan bahwa amanah dalam ayat tersebut memiliki makna khusus, yakni agama dan ketentuan Allah SWT. Namun, dalam pengertian yang lebih luas, amanah mencakup seluruh tanggung jawab yang dipikul seorang hamba, baik terhadap dirinya sendiri, sesama manusia, maupun kepada Allah SWT.


Dengan demikian, amanah bukan sekadar menjaga titipan atau memenuhi janji. Amanah juga berarti menjalankan setiap tanggung jawab, memelihara kepercayaan, serta menunaikan hak dan kewajiban sesuai ketentuan Allah SWT.

BACA JUGA:

Hidup dalam Keberagaman, Kabid Dakwah PP PERSIS: Islam Mengajarkan Toleransi Tanpa Mencampuradukkan Akidah