Bandung, persis.or.id — Dalam rangka memperdalam pemahaman keagamaan masyarakat selama bulan suci, PERSIS Ramadhan Expo menggelar kajian bertema “Ramadhan sebagai Momentum Penguatan Aqidah dan Ibadah” di Mesjid Trans Studio Mall Bandung, pada Ahad (8/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri yang memberikan pemaparan mendalam mengenai pentingnya menjaga kemurnian aqidah serta meningkatkan kualitas ibadah di tengah tantangan kehidupan modern.
Kajian tersebut dipandu oleh moderator Ust. M Faishal Nursyamsi, M.M., yang mengarahkan jalannya diskusi agar materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh para jamaah yang hadir.
Sejumlah peserta dari berbagai kalangan, termasuk anggota PERSISTRI dan pengunjung expo. Mereka tampak mengikuti kajian dengan penuh perhatian.
Pentingnya Aqidah untuk Muslim
Pada sesi pertama, K.H. Zae Nandang, Ketua Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) 2022-2027 menjelaskan tentang pentingnya aqidah sebagai fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Ia menguraikan bahwa secara bahasa, kata aqidah berasal dari makna “tali yang mengikat”. Menurutnya, kekuatan aqidah akan membentuk pola kehidupan seorang Muslim secara menyeluruh.
Oleh karena itu, menjaga dan menguatkan aqidah menjadi hal yang sangat penting agar seseorang tetap teguh dalam menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
“Aqidah itu ibarat tali yang mengikat. Ia akan mengikat cara kita memandang sesuatu, bagaimana kita merespons keadaan, serta bagaimana kita bersikap dalam kehidupan,” jelasnya.
Bahaya Penyakit Hati
Sementara itu, pada sesi kedua, K.H. Dudi Muttaqien menyoroti berbagai penyakit hati yang dapat merusak kualitas ibadah seseorang.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah riya, yaitu melakukan amal ibadah dengan tujuan untuk mendapatkan pujian dari manusia.
Ia menjelaskan bahwa riya merupakan godaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan sering muncul dalam hal-hal yang tampak sederhana.
Selain riya, Ia juga mengingatkan bahaya sifat sombong yang dapat merusak keikhlasan dalam beramal. “Riya itu setiap hari mengelilingi kita, bahkan dari hal-hal yang sangat kecil dalam kehidupan kita. Karena itu kita harus selalu berhati-hati dalam menjaga niat,” ujarnya.
Kajian tersebut mendapat tanggapan positif dari para peserta yang hadir. Salah seorang jamaah dari PERSISTRI menyampaikan bahwa materi yang dibahas sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
“Penguatan aqidah ini memang sangat krusial, terlebih di era digitalisasi. Peran orang tua dalam menjaga aqidah anak menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Melalui kajian ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa Ramadhan bukan hanya sekadar waktu untuk meningkatkan ibadah secara ritual, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat aqidah serta membersihkan hati dari berbagai penyakit spiritual.
Dengan aqidah yang kokoh dan ibadah yang dilandasi keikhlasan, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan yang menjadi landasan utama kehidupan.
[]
BACA JUGA:Berbahagialah Orang yang Bershadaqah Oleh: Al Ustadz H. Zae Nandang