Tasikmalaya, persis.or.id - Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) bergerak cepat mengantisipasi disrupsi peradaban global melalui langkah taktis di lini kaderisasi.
Melalui Bidang Jam’iyyah, PP PERSIS resmi menggelar Training Kepemimpinan Jam’iyyah (TKJ) Zona II Jawa Barat pada Sabtu, 20 Juni 2026 di Gedung Serbaguna Amienullah, Pesantren PERSIS 67 Benda, Kota Tasikmalaya.
Pelatihan intensif ini menjadi gelaran kedua setelah Zona I di Sumedang Mei kemarin. Untuk Zona II sendiri, wilayah kepesertaan mencakup dari Pimpinan Daerah (PD) PERSIS Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, dan Kabupaten Ciamis.
Sebagai tuan rumah, Wakil Ketua PD PERSIS Kota Tasikmalaya, Irfan Firman, menegaskan bahwa TKJ bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan ruang krusial untuk menakar kembali kapasitas para pengurus di era modern.
"Menjadi tuan rumah Zona II adalah sebuah kehormatan, namun yang lebih utama adalah esensi dari forum ini. TKJ adalah jangkar bagi setiap tasykil untuk mengasah kepekaan kepemimpinan mereka. Tanpa nakhoda yang adaptif dan terlatih di level daerah, roda organisasi tidak akan mampu bergerak dinamis menjawab dinamika zaman," ujarnya.
Apresiasi dan instruksi tegas juga datang dari Wakil Ketua PW PERSIS Jawa Barat, Endang Sirojudin Hafiedz, menekankan bahwa partisipasi dalam TKJ ini bersifat vital bagi kelangsungan jam'iyyah ke depan. Untuk itu, melalui garis struktural, PW Jabar mewajibkan PD-PD untuk ikut TKJ.
"Alhamdulillah, ini zona II yang artinya seluruh PD di Jabar sudah tuntas mengikuti TKJ. Tinggal nanti bagaimana PD ini bisa turun ke PC-PC," paparnya.
"Berkaca dari zona pertama, kurikulum training ini sangat penting dalam merespons kebutuhan Jam’iyyah PERSIS masa depan. Kita membutuhkan pemimpin yang berkualitas, bukan sekadar pengisi struktur," tegas asatiz asal Rancaekek ini.
TKJ: Jembatan Menuju Transformasi Dakwah 2050
Menyongsong visi besar transformasi dakwah, Ketua Bidang Jam’iyyah PP PERSIS, Salam Rusyad, memaparkan potret tantangan dakwah kontemporer yang kini bergeser secara radikal dibanding era awal pendirian organisasi.
Jam'iyyah hari ini, menurutnya, tengah dikepung oleh derasnya arus revolusi digital, penetrasi akal imitasi (atau lebih familiar dikenal artificial intelligence/AI), disrupsi otoritas keagamaan, hingga krisis moral global. Di sinilah TKJ mengambil peran vital.
Salam Rusyad menegaskan bahwa cetak biru transformasi dakwah tidak akan pernah mewujud di ruang hampa jika tidak ditopang oleh kesiapan para "aktor penggerak" di lapangan.
"Oleh karena itu, kurikulum dalam TKJ dirancang bukan sekadar sebagai instrumen pelatihan, melainkan sebagai mesin penggerak untuk mengakselerasikan visi tersebut," katanya.
Korelasinya terlihat jelas dalam arah strategis yang disuntikkan kepada para peserta selama training berlangsung. Melalui forum TKJ, pola pikir para tasykil PD dirombak agar tidak lagi terjebak pada program kerja yang bersifat responsif-aksidental.
Karakter kepemimpinan mereka ditempa untuk menjadi visioner, sehingga mampu membaca arah zaman dan memimpin perubahan umat di daerah masing-masing.
"Jadi rumah ini akan bertransformasi menjadi Jam'iyyah yang berkualitas, pondasinya harus melalui TKJ yang tuntas!" pungkasnya.
[]
BACA JUGA:TKJ Tuntas, Jamiyyah Berkualitas