Muktamar 2026 dan Orkestrasi Tiga Pilar: Mencari Sang Dirigen Pemuda PERSIS

oleh -

23 Maret 2026 | 06:53

Andri Nurkamal, Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Tasikmalaya.

Oleh: Andri Nurkamal (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab Tasikmalaya)


Menjelang April 2026, suhu diskusi di ruang-ruang percakapan kader Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) mulai terasa menghangat. Dari grup WhatsApp hingga obrolan larut malam di kedai kopi usai kajian, topiknya bermuara pada satu titik yang sama: Muktamar Pemuda PERSIS XIV.


Ini bukan sekadar rutinitas lima tahunan atau sekadar ajang sirkulasi elit struktural di tingkat pusat. Muktamar kali ini membawa beban sejarah yang jauh lebih berat, karena ia hadir di tengah transisi zaman yang menuntut relevansi nyata dari sebuah jam’iyyah.


Jika kita mau jujur dan melihat ke bawah, mengamati dinamika di akar rumput dari tingkat cabang hingga daerah, ada sebuah realitas objektif yang sangat menarik untuk direnungkan. Wajah Pemuda PERSIS hari ini tidak lagi tunggal.


Rahim jamiyyah ini telah melahirkan dan mematangkan tiga varian kader dengan kekuatan besar yang saling melengkapi. Tiga kekuatan itu adalah tradisi ke-Ulamaan, kapasitas Intelektual-Akademik, dan daya gedor para Aktivis yang bergerak di wilayah sosial, ekonomi, dan politik.


Oleh karena itu, pertanyaan terbesarnya menjelang Muktamar nanti bukanlah siapa yang paling pantas menang, melainkan siapa sosok yang mampu merajut ketiga kekuatan raksasa ini menjadi satu bangunan perjuangan yang utuh.


Melihat potret kekuatan pertama, sejak era A. Hassan, PERSIS memang sangat lekat dengan tradisi tafaqquh fiddin yang ketat. Hari ini, tunas-tunas muda pewaris tradisi itu masih terus tumbuh subur.


Mereka adalah para kader yang menghabiskan waktunya bergulat dengan literatur klasik, menelaah keilmuan Al-Qur'an dan tafsir, serta menjaga kemurnian tauhid dan ibadah.


Namun, ulama muda PERSIS masa kini tidak hanya duduk diam di menara gading pesantren. Banyak dari mereka yang mulai mengkaji tafsir kontemporer, menarik benang merah antara ayat-ayat suci dengan realitas kemiskinan, ketidakadilan sosial, hingga krisis ekologi di lapangan.


Mereka sadar bahwa fatwa dan pandangan keagamaan harus membumi, tidak sekadar melangit. Teks-teks suci didekatkan untuk menjawab keangkuhan paradigma pembangunan antroposentris yang kerap memicu bencana lingkungan, menawarkan cara pandang teo-ekosentrisme yang lebih menyejukkan.


Kader-kader di jalur ini adalah kompas moral dan teologis bagi jamiyyah. Tanpa kehadiran mereka, gerak langkah organisasi niscaya akan kehilangan ruh dan pijakan utamanya.


Bergeser pada kekuatan kedua, Pemuda PERSIS hari ini juga diisi oleh barisan kaum intelektual dan akademisi yang tajam. Mereka adalah kader-kader yang bertarung di ranah gagasan.


Di ruang-ruang diskusi, mereka membedah sejarah, menguliti berbagai ideologi dunia mulai dari kapitalisme hingga sosialisme, serta menganalisis fenomena peradaban dari kacamata antropologi maupun sosiologi. Kapasitas intelektual ini menjadi sangat krusial di tengah perang narasi global.


Mereka merumuskan kajian literatur, melakukan riset sosial, dan memastikan bahwa setiap langkah strategis Pemuda PERSIS memiliki landasan epistemologis yang kuat dan logis.


Merekalah otak yang merumuskan kerangka berpikir, agar jamiyyah tidak hanya bersikap reaktif atau kagetan terhadap isu-isu kontemporer, melainkan mampu tampil proaktif menawarkan diskursus alternatif bagi kemajuan bangsa.


Melengkapi kedua pilar tersebut, hadir kekuatan ketiga yang tidak kalah vitalnya, yakni para aktivis sosial, ekonomi, dan politik. Inilah barisan kader yang tangannya paling kotor oleh lumpur lapangan.


Mereka adalah para penggerak sejati yang tidak betah hanya berteori di belakang meja. Di berbagai daerah, kader-kader ini sibuk membangun yayasan pemberdayaan masyarakat, merintis bisnis UMKM, mengorkestrasi ekosistem pemuda di industri halal, merancang program pertanian terpadu untuk kemandirian pangan, hingga merumuskan agenda-agenda strategis seperti jambore pemuda.


Lebih dari itu, mereka juga melek dan memiliki insting politik yang tajam. Ketika ada ketimpangan kebijakan di daerahnya, entah itu konflik elit birokrasi atau ketidakadilan kebijakan publik, mereka berani turun mengambil sikap, menulis opini kritis, dan melakukan advokasi.


Mereka sanggup mengorganisir massa dan membangun aliansi strategis di luar pagar jamiyyah. Bagi mereka, dakwah bukan hanya di atas mimbar masjid, melainkan juga di pasar, di ruang-ruang birokrasi, dan di tengah masyarakat yang terpinggirkan. Merekalah tangan dan kaki yang mengeksekusi visi jamiyyah menjadi karya nyata.


Masalah yang sesungguhnya kerap muncul ketika ketiga kelompok ini berjalan sendiri-sendiri, atau lebih buruk lagi, mulai merasa bahwa golongannya adalah yang paling penting dan paling berhak memegang kendali jamiyyah.


Bayangkan jika kepemimpinan Pemuda PERSIS ke depan hanya didominasi oleh kelompok yang eksklusif pada tradisi teks, namun menutup mata terhadap realitas sosial yang dinamis. Organisasi mungkin akan terlihat sangat saleh secara ritual, namun gagap saat ditanya soal advokasi kebijakan publik atau kemandirian ekonomi umat.


Sebaliknya, jika jamiyyah ini dibajak oleh para aktivis pragmatis tanpa melibatkan para ulama dan intelektual, Pemuda PERSIS bisa terjebak menjadi sekadar penyelenggara acara sosial belaka, atau bahkan tergelincir menjadi sayap kekuatan politik praktis tertentu.


Gerakannya mungkin akan terasa sangat bising dan populis, tapi kehilangan kedalaman spiritual dan arah ideologis yang jelas. Lalu, bagaimana jika hanya dikendalikan oleh kaum pemikir murni?


Jamiyyah ini hanya akan menjelma menjadi lembaga pemikir yang gemar memproduksi makalah dan jurnal tebal, namun lumpuh di lapangan karena tidak memiliki keahlian mengorganisir massa.


Oleh karena itu, Muktamar 2026 sama sekali tidak boleh menjadi arena pertarungan ego sektoral untuk membuktikan siapa yang paling berkuasa di antara ketiga elemen ini.


Tidak boleh ada narasi eksklusif yang mengklaim bahwa yang pantas memimpin hanyalah lulusan pesantren, atau sebaliknya, harus dipimpin oleh aktivis jalanan agar tidak ketinggalan zaman.


Tendensi golongan semacam ini adalah racun yang hanya akan mengerdilkan dan membunuh potensi raksasa yang sudah bersusah payah dibangun oleh para kader di berbagai daerah. Organisasi ini terlalu besar untuk dikerdilkan oleh sekat-sekat kelompok.


Melihat potret objektif tersebut, kriteria pemimpin ideal yang mesti dilahirkan dari rahim Muktamar 2026 menjadi sangat terang benderang. Pemuda PERSIS tidak sedang mencari seorang pahlawan super yang mengklaim bisa melakukan segalanya sendirian.


Yang paling mendesak untuk dihadirkan saat ini adalah seorang figur dirigen. Layaknya dalam sebuah orkestra, seorang dirigen tidak harus menjadi peniup terompet yang paling hebat, atau pemetik biola yang paling mahir di atas panggung.


Tugas utamanya adalah memastikan semua instrumen yang berbeda-beda itu bisa bermain di waktu yang tepat, dengan porsi nada yang harmonis, untuk menghasilkan satu simfoni perjuangan yang indah dan menggetarkan. Sosok pemimpin ke depan mutlak harus memiliki kapasitas akomodatif yang tinggi terhadap semua kalangan.


Pemimpin yang akomodatif adalah ia yang tidak menegasikan potensi sekecil apa pun. Ia harus luwes untuk duduk mengopi bersama aktivis pergerakan lokal, serius berdiskusi membedah buku dengan para akademisi, dan di saat yang sama mampu menundukkan hati saat mendengarkan untaian nasihat dari asatidz ahli tafsir.


Ia paham betul bahwa sebuah proposal pemberdayaan ekonomi atau inisiatif kepemudaan membutuhkan legitimasi hukum dari para ulama melalui kajian fiqih muamalah, serta membutuhkan riset data yang matang dari kaum intelektual. Ketiganya disatukan dalam satu program kerja yang konkret dan berdampak.


Selain itu, pemimpin yang ideal akan membuka ruang aktualisasi secara proporsional. Ia meletakkan kader sesuai dengan porsinya masing-masing dengan adil; tidak memaksa seorang pemikir murni untuk menjadi koordinator lapangan yang berhadapan dengan aparat, dan tidak menuntut seorang aktivis pergerakan untuk menyusun fatwa keagamaan.


Pemimpin dengan mentalitas dirigen ini akan selalu melihat perbedaan latar belakang kader bukan sebagai sebuah ancaman bagi kekuasaannya, melainkan sebagai aset dan kekayaan jamiyyah yang tak ternilai harganya.


Ia tidak akan terjebak pada perasaan eksklusif kelompok yang sempit, di mana ia hanya merangkul lingkaran pertemanan terdekatnya saja dan menyingkirkan yang lain.


Baginya, setiap kader yang memiliki ghirah perjuangan, dari mana pun asalnya—baik yang kesehariannya berkutat dengan tumpukan literatur kitab, yang berjibaku menyusun proposal bisnis dan kemandirian, maupun yang lelah berkonsolidasi di daerah-daerah—adalah saudara seperjuangan yang harus difasilitasi pertumbuhannya.


Pada akhirnya, Muktamar 2026 harus dimaknai sebagai titik temu gagasan, bukan titik seteru kekuasaan. Tantangan zaman di luar sana terlalu besar dan kompleks jika hanya dihadapi dengan energi yang habis terkuras untuk friksi internal.


Umat saat ini sedang dihadapkan pada krisis multidimensi yang nyata. Untuk merespons semua kepungan krisis itu, Pemuda Persatuan Islam membutuhkan pengerahan kekuatan penuh.


Tradisi ke-ulamaan akan selalu menjadi fondasi moral dan pijakannya, intelektualitas menjadi mata panah yang menembus kebekuan zaman, dan aktivisme sosial-politik menjadi busur kuat yang melontarkannya langsung ke tengah-tengah denyut nadi umat.


Siapa pun nakhoda yang nantinya dipercaya memimpin lewat hasil permusyawaratan ini, ia memikul tanggung jawab peradaban yang sangat besar untuk memastikan komposisi ulama, intelektual, dan aktivis ini bisa terus berjalan beriringan.


Jika fusi ketiga kekuatan ini berhasil diwujudkan dalam satu tarikan napas perjuangan, Pemuda PERSIS tidak hanya akan sekadar bertahan hidup di tengah kerasnya zaman, tetapi akan benar-benar tampil ke gelanggang sebagai teladan pembangun peradaban, memberikan solusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara.


[]

BACA JUGA:

PP Pemuda PERSIS Tegaskan Manhaj Kepemimpinan Dakwah dalam Muskernas 5

Reporter: - Editor: Fia Afifah Rahmah