Hilang Satu Nyawa, Satu Bangsa Bercermin: Ketika Moral Kepemimpinan Bertumbuh atau Runtuh

oleh Ismail Fajar Romdhon

30 Agustus 2025 | 14:13

Hilang Satu Nyawa, Satu Bangsa Bercermin: Ketika Moral Kepemimpinan Bertumbuh atau Runtuh

HILANG SATU NYAWA, SATU BANGSA BERCERMIN

Ketika Moral Kepemimpinan Bertumbuh atau Runtuh


Latar Belakang Kronologis


Gelombang protes mengguncang berbagai kota besar Indonesia—Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta—akibat kombinasi kekecewaan ekonomi dan kemarahan atas represifitas aparat. Pemicu emosional adalah tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, setelah tertabrak kendaraan taktis Brimob saat berada di sekitar kompleks DPR. (Reuters, AP News, The Jakarta Post)


Kemudian tersingkap pula fakta bahwa anggota DPR menikmati tunjangan hunian Rp50 juta per bulan, sebuah angka mencolok di tengah tekanan daya beli masyarakat dan banyaknya PHK. (The Guardian, Financial Times)


Perspektif Spiritual-Moral


1.Perlindungan Jiwa (Hifẓ al-Nafs).


Allah ﷻ berfirman:


"Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia." (QS. al-Māidah [5]:32)


Tragedi kematian warga sipil dalam konteks demonstrasi jelas melanggar maqāṣid syarī‘ah yang menempatkan nyawa sebagai prioritas utama.


2.Keadilan dan Anti-Pemborosan.


Allah ﷻ berfirman:


"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..." (QS. an-Naḥl [16]:90)


"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara setan..." (QS. al-Isrā’ [17]:26–27)


Kebijakan tunjangan mewah di tengah kesempitan rakyat dapat dilihat sebagai bentuk isrāf, yang jelas ditegur dalam Al-Qur’an.


3.Amanah dan Akuntabilitas.


"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. an-Nisā’ [4]:58)


Hadis Nabi ﷺ:


"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhārī dan Muslim)


Pemimpin yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, tanpa kepekaan terhadap penderitaan rakyat, jelas mengkhianati amanah.


4.Musyawarah (Shūrā).


"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka..." (QS. asy-Syūrā [42]:38)


Kebijakan yang tidak melalui partisipasi rakyat cenderung menimbulkan resistensi, dan protes menjadi jalan terakhir rakyat menyuarakan aspirasi.


BACA JUGA:

Khutbah Jumat: Dari Mimbar Peradaban Untuk Ummat Berkeadaban