Bandung – KH. Rahmat Najieb, menjelaskan makna ziarah kubur sebagai bagian dari ajaran Islam yang bertujuan mengingatkan manusia akan kematian, bukan sekadar ritual mendoakan.
Hal tersebut disampaikan KH Rahmat Najieb melalui video yang diunggah di media sosial, dikutip redaksi, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, ziarah kubur pada awalnya pernah dilarang oleh Rasulullah SAW. Namun, kemudian diperbolehkan bahkan dianjurkan.
Menurutnya, perubahan dari larangan menjadi perintah menunjukkan bahwa ziarah kubur hanya perintah saja, bukan wajib ataupun sunnah.
“Ziarah kubur itu pernah dilarang oleh Rasulullah SAW, kemudian diperintahkan. Itu bertujuan untuk mengingatkan saja,” ujarnya.
KH Rahmat Najieb menilai, esensi utama ziarah kubur bukanlah untuk mendoakan semata, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan mengalami kematian.
“Ziarah kubur bukan untuk mendoakan, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita pun akan sama seperti mereka, yaitu akan mati,” katanya.
Selain itu, ia menambahkan, doa untuk orang yang telah meninggal tidak harus dilakukan di kuburan, melainkan dapat dilakukan di mana saja.
“Kalau untuk mendoakan, bisa dilakukan di mana saja,” tegasnya.
KH Rahmat Najieb juga menyinggung praktik pemakaman pada masa Rasulullah SAW yang, menurutnya, tidak menggunakan penanda nama seperti yang lazim ditemukan saat ini.
“Pada zaman Rasulullah SAW, kuburan kaum Muslimin tidak diberi nama. Kuburan itu tidak ditandai secara khusus,” jelasnya.
Bahkan, tambahnya, di lingkungan Persatuan Islam (PERSIS), kuburan juga tidak diberi penanda nama.
Terkait waktu pelaksanaan, ia menegaskan bahwa ziarah kubur tidak terikat pada momen tertentu seperti Ramadan atau Idulfitri.
“Ziarah kubur pada bulan Ramadan atau Idulfitri itu tidak disyariatkan. Namun sekali lagi, tujuannya adalah untuk mengingatkan,” ungkapnya.
Ia pun mengajak umat Islam untuk menjadikan ziarah kubur sebagai sarana memperbaikii diri dan meningkatkan kesadaran akan kehidupan akhirat.
“Mari kita jadikan ziarah kubur sebagai pengingat untuk memperbaiki diri,” pungkasnya.
BACA JUGA:Momentum Idulfitri, Ketum PERSIS: Jadikan: Nilai Ramadan Meningkatkan Ketaqwaan dan Kepedulian Sosial