Bersih Jiwa, Damai Rasa: Catatan Pinggir Ihya Ulumuddin sebagai Model Ta’līq Kontemporer atas Turas Tasawuf

oleh Sekretariat Dewan Hisbah

19 Februari 2026 | 21:07

Bersih Jiwa, Damai Rasa: Catatan Pinggir Ihya Ulumuddin sebagai Model Ta’līq Kontemporer atas Turas Tasawuf

RESENSI BUKU

Bersih Jiwa, Damai Rasa: Catatan Pinggir Ihya Ulumuddin sebagai Model Ta’līq Kontemporer atas Turas Tasawuf


Judul Buku : Bersih Jiwa, Damai Rasa: Catatan Pinggir Ihya Ulumuddin

Penulis : Amin Muchtar, Dr. Rosihan Fahmi, dan Evie Efendi

Penerbit : Sigabah Publika (bekerja sama dengan Majelis ‘Adoiyyah)

Tahun Terbit : 1447 H / 2026 M

Tebal : 447 halaman

ISBN : – (naskah digital)


A. PENDAHULUAN


Studi terhadap karya-karya Imam Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) tidak pernah surut sepanjang sejarah intelektual Islam. Ihya’ ‘Ulumuddin—karya monumentalnya di bidang tasawuf, akhlak, dan fikih batin—telah melahirkan ratusan syarah, mukhtashar, hingga takhrij. Namun, di era kontemporer, tantangan terbesar bukanlah ketiadaan akses terhadap teks klasik, melainkan krisis adab dalam mendekatinya.


Buku Bersih Jiwa, Damai Rasa hadir sebagai respons atas problem tersebut. Ditulis oleh Ustadz Amin Muchtar, dkk seorang ulama yang dikenal sebagai bagian dari Dewan Hisbah, Rosihan Fahmi yang popular dengan ‘Tukang Filsafat Keliling’ serta Evie Efendi, yang Masyhur dengan ‘Ustadz Kupluk kekinian’. Buku ini bukan sekadar ringkasan Ihya’, tetapi sebuah catatan pinggir reflektif yang mencoba menempatkan pembaca pada posisi adab yang benar di hadapan samudra ilmu Al-Ghazali.


Resensi ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis metodologi, kontribusi ilmiah, serta kelemahan substantif dari buku tersebut dalam kerangka studi Islam kontemporer.


B. DESKRIPSI FISIK DAN STRUKTUR NASKAH


Naskah setebal 447 halaman ini terbagi ke dalam dua bagian besar yang sangat khas, yaitu:


1. Wajah Depan (hlm. 5–56)


Bagian ini ditulis tanpa teks Arab, dengan bahasa populer-reflektif. Di sini penulis “menyendok mutiara” dari samudra Ihya’ dan menyajikannya dalam bentuk esai pendek yang sarat analogi. Bab-bab seperti “Keajaiban Hati: Gerbang Menuju Allah” dan “Perumpamaan Hati & Pasukannya” ditulis dengan pendekatan naratif yang membuat konsep abstrak Al-Ghazali terasa konkret.


2. Wajah Kedua (hlm. 57–447)


Ini adalah jantung akademis buku. Penulis menyajikan teks Arab asli dari Kitab Syarh ‘Aja’ib al-Qalb, terjemahan, dan catatan pinggir (ta’līq) yang mencakup analisis istidlal, takhrij hadis, hingga kritik internal terhadap pemikiran Al-Ghazali.


Struktur ini menunjukkan bahwa buku ini dirancang untuk dua segmen pembaca sekaligus: masyarakat umum dan santri/akademisi. Secara metodologis, ini merupakan langkah berani dan langka dalam literatur keislaman Indonesia.


C. TUJUAN DAN THESIS UTAMA


Dalam Pendahuluan-nya, penulis secara eksplisit menyatakan bahwa buku ini bukan syarah dan bukan fatwa. Ia hanya “catatan pinggir” dari seorang penikmat pantai yang duduk di tepian samudra Ihya’. Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi, tetapi deklarasi epistemologis.


Tesis utama buku ini adalah:

  1. Ilmu batin (tasawuf) adalah fondasi dari ilmu lahir (fikih). Penulis menegaskan bahwa tanpa pembersihan hati, ibadah lahiriah kehilangan ruhnya.
  2. Kritik terhadap Al-Ghazali harus proporsional. Penulis secara khusus membantah tudingan bahwa Al-Ghazali tidak menguasai hadis, dengan argumentasi takhrij dan pembedaan ranah keahlian.
  3. Tazkiyatun nafs bukanlah elitisme spiritual, tetapi kebutuhan setiap muslim. Buku ini membongkar anggapan bahwa tasawuf hanya untuk kalangan tertentu.


BACA JUGA:

Bedah Buku Jejak Perjuangan Pelita Harapan Perkuat Kerja Sama PERSIS dan BAZNAS di Bidang Pendidikan