Bersih Jiwa, Damai Rasa: Catatan Pinggir Ihya Ulumuddin sebagai Model Ta’līq Kontemporer atas Turas Tasawuf

oleh Sekretariat Dewan Hisbah

19 Februari 2026 | 21:07

Bersih Jiwa, Damai Rasa: Catatan Pinggir Ihya Ulumuddin sebagai Model Ta’līq Kontemporer atas Turas Tasawuf


D. ANALISIS METODOLOGIS


Dari sisi metodologi, buku ini dapat dikategorikan ke dalam model studi naskah (dirasah nashiyyah) dengan pendekatan hermeneutika adab. Penulis tidak melakukan tahrir (edisi kritis) atas naskah Ihya’, tetapi melakukan ta’līq yang berorientasi pada pemaknaan ulang yang kontekstual.


Beberapa instrumen metodologis yang digunakan:


1.Tamtsīl (Analogi)

Penulis sangat produktif dalam menggunakan analogi kontemporer. Hati diumpamakan sebagai kompas spiritualrajacermin, dan kerajaan kecil. Ini memudahkan pembaca modern yang tidak terbiasa dengan istilah-istilah sufistik klasik.


2.Istidlāl Muzdawij (Penalaran Ganda)

Dalam Wajah Kedua, penulis tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga menyajikan penalaran di balik teks. Misalnya, ketika membahas tentang khawathir (lintasan hati), ia memadukan antara psikologi kognitif dan teologi Asy’ariyah.


3.Takhrij dan Kritik Hadis

Sub-bab “Benarkah Imam Al-Ghazali Tidak Paham Hadis?” (hlm. 66–70) adalah contoh kerja takhrij yang solid. Penulis mengutip Al-Hafizh Al-‘Iraqi, Al-Suyuthi, dan Al-Buthi untuk menunjukkan bahwa hadis dha’if dalam Ihya’ adalah bagian dari genre fadhail al-a’mal yang telah di-takhrij secara tuntas.


4.Pendekatan Psikologis-Spiritual

Buku ini tidak hanya menjelaskan apa itu hati, tetapi bagaimana ia bekerja. Bab tentang Pasukan-Pasukan Hati dan Bisikan Tak Terlihat adalah contoh integrasi antara ilmu tasawuf dan psikologi modern.


E. KEUNGGULAN SUBSTANSIAL


1. Membela Al-Ghazali Tanpa Apologetik Buta

Salah satu kontribusi terbesar buku ini adalah pembelaannya terhadap Al-Ghazali dari tuduhan “tidak paham hadis”. Penulis tidak menampik bahwa dalam Ihya’ terdapat hadis dha’if, tetapi ia menunjukkan bahwa:

  1. Telah ada ulama seperti Al-‘Iraqi yang mentakhrij seluruh hadis Ihya’.
  2. Penggunaan hadis dha’if dalam fadhail al-a’mal adalah fakta ilmiah dalam tradisi ulama.
  3. Al-Ghazali memiliki karya ushul fiqih (Al-Mustashfa) yang membuktikan penguasaannya terhadap metodologi hadis.


2. Sistematika Ganda yang Inklusif

Pembagian Wajah Depan dan Wajah Kedua adalah inovasi yang patut diapresiasi. Buku ini menjembatani dua dunia: masjid dan kampusmajelis taklim dan pesantren.


3. Bahasa yang Hidup dan Kontekstual

Gaya bahasa penulis jauh dari kesan kaku. Kalimat-kalimat seperti “Jika hidupmu terasa kacau, cobalah lihat ke dalam. Mungkin kerajaannya sedang tanpa raja” (hlm. 16) mampu menyentuh pembaca awam tanpa mengorbankan kedalaman substansi.

BACA JUGA:

Hukum Menghina Calon Presiden