F. KELEMAHAN DAN KRITIK
Sebagai sebuah karya akademis, buku ini bukannya tanpa kelemahan:
1. Tidak Mencantumkan Daftar Pustaka
Dalam naskah yang direview, tidak ditemukan bibliografi atau daftar pustaka yang sistematis. Padahal, penulis mengutip puluhan rujukan dari Al-Qur’an, hadis, kitab Ihya’, hingga karya ulama kontemporer seperti Al-Buthi. Ketiadaan daftar pustaka mengurangi nilai formal buku sebagai karya ilmiah.
2. Tidak Menyertakan Indeks
Buku ini sangat kaya dengan istilah-istilah teknis: khawathir, waswasah, mukasyafah, nafs al-lawwamah, dll. Sayangnya, tidak ada indeks yang memudahkan pembaca menelusuri kembali istilah-istilah tersebut.
3. Minimnya Kritik Terhadap Al-Ghazali
Meskipun penulis cukup berani dalam membela Al-Ghazali, ia nyaris tidak menyentuh sisi-sisi kontroversial lain, seperti sikap Al-Ghazali terhadap filsafat yang cenderung destruktif, atau kritik Ibn Rusyd terhadap Tahafut al-Falasifah. Padahal, dalam tradisi Dewan Hisbah yang rasional, kritik semacam ini justru relevan.
4. Terjemahan yang Terkadang Terlalu Bebas
Beberapa terjemahan teks Arab terasa longgar. Misalnya, ketika menerjemahkan “lathifah rabbaniyyah ruhaniyyah” sebagai “hakikat halus yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah” (hlm. 119), sebenarnya kurang menangkap nuansa ontologis yang dikehendaki Al-Ghazali. Namun, untuk pembaca awam, ini justru memudahkan.
G. RELEVANSI DAN KONTRIBUSI KEILMUAN
Buku ini hadir di saat yang tepat. Di satu sisi, masyarakat Islam Indonesia sedang mengalami kebangkitan spiritual yang ditandai dengan maraknya kajian tasawuf. Di sisi lain, terjadi krisis adab dalam mendekati kitab klasik, di mana banyak orang merasa cukup dengan membaca terjemahan tanpa bimbingan.
Kontribusi utama buku ini adalah mengembalikan adab keilmuan. Penulis mengajarkan bahwa:
- Teks utama adalah pusat, catatan pinggir adalah pelayan.
- Ilmu tanpa adab adalah kesombongan.
- Tasawuf bukan untuk eksklusif, tetapi untuk membersihkan jiwa setiap muslim.
Secara akademis, buku ini dapat dijadikan bahan ajar untuk mata kuliah Tasawuf atau Studi Kitab Klasik di perguruan tinggi Islam. Model ta’līq yang diterapkan dapat menjadi contoh bagaimana menulis catatan pinggir yang tidak reduktif terhadap teks asli.
I. KESIMPULAN
Bersih Jiwa, Damai Rasa adalah karya yang lahir dari ketawadhuan ilmiah. Para penulis tidak mengklaim sebagai pewaris otoritas Al-Ghazali, tetapi ia berhasil melakukan apa yang paling dibutuhkan saat ini: mendekatkan teks klasik kepada pembaca modern tanpa mengkhianatinya.
Keunggulan metodologis, keberanian apologetik, dan gaya bahasa yang kontekstual menjadikan buku ini layak disebut sebagai model baru penulisan catatan pinggir atas turats tasawuf di Indonesia. Meskipun masih menyisakan kekurangan teknis seperti tidak adanya daftar pustaka dan indeks, secara substansial buku ini telah memenuhi janjinya: menjadi teman refleksi, bukan penggurui.
Dengan demikian, buku ini direkomendasikan untuk:
- Santri dan mahasiswa yang ingin memahami Ihya’ secara utuh.
- Dosen dan peneliti yang membutuhkan contoh model ta’līq kontemporer.
- Masyarakat umum yang haus akan siraman rohani yang tidak dangkal.
Penulis, Tim Sekretariat Dewan Hisbah
BACA JUGA:Gerakan Dakwah Persis di Tengah Arus Ideologi Global