Oleh: K.H. Dr Jeje Zaenudin, M.Ag (Ketum PP PERSIS)
"Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan." (QS. Al-'Ankabut: 20)
Dengan kehendak Allah SWT., saya diberikan kesempatan untuk berkelana yang kedua kalinya ke negeri Uzbekistan yang kaya raya dengan warisan sejarah peradaban Islam.
Kunjungan pertama ketika membersamai rombongan MUI dalam program jalinan hubungan luar negeri dengan para ulama Uzbekistan tahun 2023.
Sedang perjalanan kedua kali ini, 29 Juni-3 Juli 2026, bersama beberapa pemimpin ormas dan para alim ulama pengasuh pondok pesantren ternama di Indonesia membersamai kunjungan kenegaraan delegasi Ketua MPR RI.
Kunjungan ke Uzbekistan bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Selain mengikuti acara formal bersama Dubes RI untuk Uzhekistan, pertenuan dengan Mufti Agung Uzbekistan dan Gubernur Bukhoro, juga perjalanan menelusuri jejak sejarah peradaban Islam di beberapa kota.
Perjalanan menembus waktu, menyusuri lorong-lorong sejarah yang pernah menjadi panggung lahirnya peradaban Islam. Setiap kota yang kami singgahi seolah memiliki ruh, pesan, dan pelajaran yang berbeda.
Samarkand mengajarkan kemuliaan ilmu, Bukhara menanamkan keikhlasan dalam menjaga Sunnah, Termez menghadirkan keteladanan para muhaddits, sementara Tashkent memperlihatkan bagaimana warisan Islam dapat berdampingan dengan kemajuan sebuah negara modern.
Perjalanan kedua ke Uzbekistan semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa negeri ini bukan sekadar tujuan wisata sejarah, melainkan salah satu pusat peradaban Islam terbesar yang pernah melahirkan tokoh-tokoh agung dunia.
Di tanah inilah ilmu pengetahuan, keislaman, dan kebudayaan bertemu, tumbuh, lalu memancarkan cahaya yang menerangi dunia selama berabad-abad.
Terletak di jantung Asia Tengah, Uzbekistan menyimpan warisan peradaban Islam yang sangat kaya. Setelah masa kejayaan Islam di Baghdad dan Khurasan, kawasan Transoxiana (Mā Warā' an-Nahr) berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan yang melahirkan ulama, ahli hadis, mufasir, teolog, matematikawan, astronom, dokter, dan filsuf.
Pada masa Dinasti Timurid, terutama di bawah pemerintahan Amir Timur dan cucunya, Sultan Ulugh Beg, kota-kota di Uzbekistan menjelma menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan peradaban.
Memasuki kota-kota bersejarah seperti Samarkand, Bukhara, dan Termez, seakan kita sedang membuka lembaran-lembaran kitab sejarah Islam.
Setiap bangunan, madrasah, masjid, dan makam ulama menyimpan kisah tentang kegigihan para pencari ilmu yang mengabdikan hidupnya demi kemajuan umat manusia.
Bukhara dikenal sebagai salah satu kota ilmu terbesar dalam sejarah Islam. Dari kota inilah lahir Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, penyusun Al-Jami' ash-Shahih atau Shahih al-Bukhari, kitab hadis paling otoritatif setelah Al-Qur'an.
Betapa mengharukan ketika berdiri di dekat makam beliau. Terbayang perjalanan panjang seorang ulama yang mengembara ribuan kilometer, mengumpulkan ratusan ribu hadis, lalu menyeleksinya dengan standar ilmiah yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Warisan beliau menjadi fondasi utama dalam menjaga kemurnian Sunnah Rasulullah Saw.
Tidak jauh dari sana, di wilayah Termez, lahir Imam Abu Isa at-Tirmidzi, penyusun Sunan at-Tirmidzi, salah satu dari Kutubus Sittah.
Beliau bukan hanya meriwayatkan hadis, tetapi juga memberikan penilaian terhadap kualitas sanad dan matan, sehingga menjadi rujukan penting dalam ilmu hadis hingga hari ini.
Di Samarkand terdapat makam Imam Abu Mansur al-Maturidi, tokoh besar dalam bidang akidah.
Pemikirannya membangun keseimbangan antara wahyu dan akal, serta menjadi salah satu pilar utama teologi Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dianut oleh jutaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia.
Namun Uzbekistan tidak hanya melahirkan para ulama agama. Negeri ini juga melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mengubah wajah peradaban manusia.
Nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi dikenal sebagai peletak dasar ilmu aljabar dan algoritma. Kata "algorithm" yang digunakan dalam dunia komputer modern berasal dari pelafalan nama beliau dalam bahasa Latin.
Karya-karyanya menjadi fondasi perkembangan matematika, sains, hingga teknologi digital yang kita nikmati pada masa kini.
Demikian pula Ahmad al-Farghani, astronom besar yang karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa dan menjadi rujukan selama berabad-abad.
Penelitiannya tentang tata surya dan ukuran bumi memberikan sumbangan besar bagi perkembangan astronomi dunia.
Pada masa Dinasti Timurid, Samarkand mencapai puncak kejayaannya sebagai kota ilmu. Sultan Ulugh Beg bukan hanya seorang penguasa, tetapi juga ilmuwan astronomi yang membangun observatorium terbesar pada zamannya.
Bersama para ilmuwan, beliau menyusun tabel astronomi yang tingkat ketelitiannya mengagumkan bahkan jika dibandingkan dengan standar ilmu pengetahuan pada masa itu.
Berjalan di Registan, memandang kubah-kubah biru yang menjulang tinggi, serta mengunjungi madrasah-madrasah peninggalan Dinasti Timurid, menghadirkan kesadaran bahwa kejayaan Islam dahulu dibangun di atas kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Masjid berdampingan dengan perpustakaan, madrasah berdampingan dengan observatorium, dan para ulama hidup berdampingan dengan para ilmuwan.
Perjalanan ini juga memberikan pelajaran penting bahwa kemajuan peradaban Islam tidak lahir semata-mata dari kekuatan politik, tetapi dari penghormatan terhadap ilmu, ketekunan belajar, kebebasan berpikir dalam bingkai wahyu, serta kesungguhan membangun generasi yang berakhlak dan berpengetahuan.
Hari ini, ketika dunia Islam merindukan kebangkitan kembali, Uzbekistan seolah mengingatkan kita bahwa kebesaran umat tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah.
Warisan para ulama dan ilmuwan itu harus dihidupkan kembali melalui semangat menuntut ilmu, membangun pendidikan yang berkualitas, mengembangkan riset, memperkuat akhlak, dan menjadikan Al-Qur'an serta Sunnah sebagai fondasi kemajuan.
Uzbekistan bukan hanya menyimpan bangunan-bangunan tua. Negeri ini menyimpan memori kolektif tentang bagaimana Islam pernah memimpin dunia melalui ilmu pengetahuan.
Setiap langkah di negeri ini seakan mengajak kita merenung: apakah kita hanya akan menjadi pengagum kejayaan masa lalu, ataukah menjadi generasi yang melanjutkan estafet peradaban itu menuju masa depan.
(Samarkand, Uzbekistan. Juli 2026)
[]
BACA JUGA:Ketum PERSIS Tegaskan Fatwa Dewan Hisbah Bukan Mengubah Hukum tapi Jawaban atas Tantangan Zaman