Materi Khutbah Jum’at
Tema: Bashirah – Cahaya Keimanan dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Cepi Hamdan Rafiq, S.Th.I., M.Pd
KHUTBAH PERTAMA
اِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَمَّا بَعْدُ:
Mengapa Bashirah Penting?
Hadirin jama’ah Jumat rahimakumullah,
Kita hidup di zaman modern dengan tantangan yang luar biasa: derasnya arus informasi, budaya hedonisme, serta lemahnya komitmen terhadap nilai agama. Semua ini bisa membuat kita kehilangan arah. Karena itu kita membutuhkan bashirah – yaitu cahaya keimanan, ketajaman hati, dan pemahaman yang benar tentang agama.
Allah SWT memuji para nabi yang memiliki bashirah:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan yang tajam.” (QS. Shaad [38]: 45)
Ibnu Abbas menafsirkan ulil aydi sebagai kekuatan dalam amal saleh, dan ulil abshar sebagai pemahaman mendalam tentang agama. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VII, hlm. 76).
Tanpa bashirah, manusia mudah terseret dalam syubhat dan syahwat, seperti peringatan Nabi SAW:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari no. 71; Muslim no. 1037).
Apa Itu Bashirah dan Tantangannya
Hadirin jama’ah Jumat rahimakumullah,
Bashirah adalah cahaya hati dan ketajaman iman untuk melihat kebenaran.
Namun di zaman ini banyak yang kehilangan bashirah karena:
a.Taklid Buta
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 170).
Ibnu Katsir menjelaskan: ayat ini mengkritik mereka yang menolak wahyu demi mempertahankan tradisi tanpa dalil.
b.Hedonisme dan Cinta Dunia
Rasulullah SAW bersabda:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan ke kandang kambing lebih merusak daripada cinta manusia kepada harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2376).
Al-Mubarakfuri menjelaskan: cinta dunia akan menghilangkan bashirah terhadap kebenaran. (Tuhfatul Ahwadzi, Juz VII, hlm. 20).
Ibn al-Qayyim menambahkan: “Barangsiapa yang lebih mencintai dunia daripada Allah, maka bashirah hatinya akan tertutup dan ia tidak lagi bisa melihat jalan kebenaran.” (Madarij as-Salikin, Juz I, hlm. 94).
BACA JUGA:Khutbah Jumat: Agar Rumah Tangga Diberkahi Allah