Begitu pentingnya amanah dalam kehidupan beragama. Amanah menjadi salah satu tanda yang menunjukkan kualitas keberagamaan seseorang. Ketika seseorang kehilangan sifat amanah, ia juga kehilangan salah satu fondasi penting dalam menjalankan kehidupan beragama.
Selain amanah, sikap yang paling mendekatkan seorang hamba kepada ketakwaan adalah berlaku adil.
Jika amanah menjadi bukti tanggung jawab dalam keberagamaan seseorang, maka keadilan merupakan wujud nyata ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Keadilan harus ditegakkan dalam segala keadaan, tanpa dipengaruhi kepentingan pribadi, kecintaan, ataupun kebencian terhadap pihak lain.
Allah SWT menegaskan hal tersebut dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maidah: 8).
Melalui ayat ini, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman agar menjadi penegak keadilan dan saksi kebenaran. Bahkan, kebencian terhadap seseorang, kelompok, kaum, atau bangsa tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan keadilan.
Apabila kepada orang yang kita benci saja kita tetap diwajibkan berlaku adil, terlebih lagi kepada teman, keluarga, sahabat, kelompok, dan bangsa sendiri.
Mengapa Allah SWT menghubungkan perintah berlaku adil dengan larangan membiarkan kebencian memengaruhi penilaian?
Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, keadilan sering kali menjadi subjektif. Ketika berhadapan dengan orang atau kelompok yang kita cintai, kita cenderung melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Bahkan, terkadang kita menutup mata terhadap kekurangan dan kesalahan mereka.
Sebaliknya, terhadap orang atau kelompok yang tidak kita sukai, kita sering kali hanya melihat keburukannya. Kesalahan mereka tampak begitu besar, sementara kebaikan yang pernah dilakukan seolah-olah tidak terlihat.
Atas nama kritik dan nasihat, seseorang bisa saja hanya menonjolkan keburukan pihak yang tidak disukainya. Padahal, sikap seperti itu dapat menjauhkan kita dari objektivitas dan keadilan.
Karena itu, keadilan sebagaimana diperintahkan dalam ayat tersebut bukan hanya berlaku kepada orang yang kita cintai atau pihak yang sejalan dengan kepentingan kita. Keadilan juga harus ditegakkan kepada mereka yang berbeda pandangan, bahkan kepada orang yang kita benci atau musuhi.
Inilah ujian berat dalam menjalankan keadilan. Seseorang harus mampu mengalahkan ego, kepentingan pribadi, kecintaan, dan kebenciannya demi menegakkan kebenaran.
Ketika seseorang mampu menempatkan keadilan di atas kepentingan dan perasaan pribadinya, itulah salah satu bentuk ketakwaan yang sesungguhnya.
Tidak mengherankan apabila Al-Qur'an memerintahkan umat Islam untuk berlaku amanah dan adil dalam satu rangkaian ajaran. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisa: 58).
Ayat ini menegaskan, dua kewajiban penting dalam kehidupan manusia. Pertama, menunaikan amanah kepada pihak yang berhak menerimanya. Kedua, menetapkan keputusan dan hukum dengan adil.
Keduanya, tidak dapat dipisahkan. Amanah menuntut seseorang untuk menjalankan tanggung jawab dengan benar, sedangkan keadilan memastikan bahwa tanggung jawab tersebut dilaksanakan tanpa merugikan hak orang lain.
Amanah dan keadilan harus menjadi pedoman bagi setiap orang, terlebih mereka yang memegang tanggung jawab dan kepercayaan dari masyarakat.
Oleh karena itu, setiap amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Setiap keputusan harus didasarkan pada kebenaran dan keadilan, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Marilah kita berdoa agar Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan petunjuk kepada para pemimpin bangsa ini. Semoga mereka diberikan kemampuan untuk menjaga amanah serta berlaku adil dalam menjalankan setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Kita berharap, bangsa dan negeri ini menjadi negeri yang diberkahi Allah SWT, dengan kehidupan yang adil, makmur, dan membawa kebaikan bagi seluruh rakyatnya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita pribadi-pribadi yang amanah, menegakkan keadilan dalam setiap keadaan, serta senantiasa berada dalam lindungan dan rida-Nya.
[]
BACA JUGA:Zakat sebagai Pengurang Pajak: Saatnya Negara Berpihak kepada Umat Secara Adil