Luncurkan PERSIS Times, Ketum: Astronomi Islam dan Transformasi Digital, PERSIS Dorong Ilmu Pengetahuan Jadi Jalan Perjuangan

oleh Andri Ridwan

16 Agustus 2026 | 10:25

Aplikasi PERSIS Times sudah tersedia di Google Play.

Bandung, persis.or.id - Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) mendorong penguatan astronomi Islam sekaligus transformasi digital sebagai bagian dari upaya menghadirkan Islam yang mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional Astronomi Islam dan peluncuran PERSIS Times di Kantor PP PERSIS, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Sabtu (15/8/2026).


Kegiatan tersebut menghadirkan dua agenda yang dinilai memiliki keterkaitan erat, yakni penguatan kajian astronomi Islam dan peluncuran PERSIS Times. Keduanya diarahkan untuk mempertemukan khazanah keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).


Ketua Dewan Tafkir PERSIS, H. Rahmat Efendi, mengatakan seminar astronomi Islam menjadi bagian dari kolaborasi antara Dewan Tafkir dan Dewan Hisab Rukyat PERSIS. Kajian tersebut tidak hanya diarahkan pada pembahasan teori astronomi, tetapi juga pada penerapannya dalam kehidupan umat Islam.


“Secara teoretis kita membahas astronomi Islam, tetapi tujuan akhirnya adalah agar ibadah umat dapat dilaksanakan dengan tepat waktu,” kata Rahmat Efendi dalam seminar tersebut.


Menurutnya, astronomi Islam memiliki posisi penting dalam menentukan berbagai aspek kehidupan keagamaan. Pergerakan benda-benda langit, khususnya matahari dan bulan, berkaitan dengan penentuan waktu pelaksanaan sejumlah ibadah umat Islam.


Astronomi Islam, kata Rahmat, karena itu tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kajian mengenai matahari, bulan, atau fenomena langit. Ilmu tersebut juga menjadi bagian dari upaya memahami keteraturan alam sekaligus memperkuat pelaksanaan ajaran Islam secara tepat.


Ketua Umum PP PERSIS, Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Ag., mengatakan kedua agenda tersebut memiliki tujuan utama untuk mempertemukan ilmu Islam dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, hubungan antara Islam dan perkembangan Iptek harus terus dibangun secara terbuka dan produktif.


“Astronomi Islam tidak hanya menghitung matahari dan bulan. Astronomi berhubungan erat dengan peribadahan Islam,” ujar Ustaz Jeje.


Ia menuturkan, sistem peredaran waktu dan benda-benda langit terus bergerak secara teratur. Keteraturan tersebut menunjukkan bahwa alam semesta berjalan dengan penuh ketertiban dan keterhitungan yang dapat dipelajari manusia.


Fenomena gerhana matahari total yang akan terjadi pada 2 Agustus 2027, menurutnya, dapat menjadi salah satu momentum penting untuk pendidikan, dakwah, sekaligus tadabbur terhadap kebesaran Allah SWT. Fenomena alam tersebut tidak semata-mata dilihat sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat kesadaran keagamaan masyarakat.


“Fenomena gerhana matahari total merupakan momentum pendidikan, dakwah, dan tadabbur. Kita harus mampu membaca Al-Qur’an sekaligus membaca alam,” katanya.


Ia menegaskan, PERSIS tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Organisasi tersebut harus mengambil peran sebagai pelaku sekaligus pengembang pengetahuan agar tradisi intelektual PERSIS tetap relevan dengan perkembangan zaman.


Menurutnya, tradisi PERSIS selama ini identik dengan pembahasan, kajian, dan keberanian dalam pemikiran. Tradisi tersebut harus terus dikembangkan dalam menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat.


“PERSIS harus menjadi pelaku dan pengembang pengetahuan. Kita harus membaca Al-Qur’an dan membaca alam,” ujarnya.


Peluncuran PERSIS Times


Dalam kesempatan yang sama, PP PERSIS meluncurkan Persis Times, sebuah aplikasi yang diproyeksikan menjadi bagian dari transformasi digital organisasi. Kehadiran platform tersebut dinilai penting karena arus informasi saat ini bergerak sangat cepat, bahkan dalam hitungan detik.


Ustaz Jeje mengatakan perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari. Organisasi yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi berisiko tertinggal, sehingga PERSIS perlu memanfaatkan teknologi sebagai instrumen untuk memperkuat gerakan dan pelayanan kepada umat.


“Kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan teknologi, kita akan tertinggal. Karena itu, kita harus mampu memanfaatkan teknologi,” tegasnya.


PERSIS Times, lanjut Jeje, diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai aplikasi penyedia informasi. Platform tersebut diharapkan menjadi instrumen untuk mempercepat penyebaran informasi, memperkuat komunikasi internal organisasi, serta mendekatkan PERSIS dengan jamaah dan masyarakat secara lebih luas.


Ia menilai transformasi digital merupakan bentuk aktualisasi semangat tajdid yang selama ini menjadi bagian dari karakter Persis. Pembaruan tidak hanya dilakukan dalam pemikiran keagamaan, tetapi juga harus menyentuh cara organisasi berkomunikasi, bekerja, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.


“PERSIS Times tidak hanya sebatas aplikasi, tetapi harus menjadi infrastruktur perjuangan PERSIS," tegasnya.


Jeje menambahkan, PERSIS harus hadir dalam berbagai ranah kehidupan masyarakat dengan melahirkan gagasan, rekomendasi, dan program nyata. Penguatan astronomi Islam dan transformasi digital, menurut dia, merupakan bagian dari upaya tersebut agar Persis tidak berhenti pada wacana, tetapi mampu menghasilkan karya dan perubahan.


“PERSIS bukan hanya pandai menonton hasil. PERSIS harus mampu menulis sejarah masa depan,” pungkasnya.


Seminar nasional astronomi Islam dan peluncuran PERSIS Times tersebut sekaligus menjadi penegasan arah PERSIS dalam menghadapi perkembangan zaman: mempertahankan tradisi keilmuan Islam, mengembangkan keberanian berpikir, serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memperkuat dakwah dan pelayanan kepada umat.


[]

BACA JUGA:

Deep Reading Tak Tergantikan, Teknologi Harus Memanusiakan Manusia


Reporter: Andri Ridwan Editor: Fia Afifah Rahmah